Minggu, 18 Maret 2012

Catatan Perjalanan TN Baluran: Perjalanan Panjang Pertama

Perjalanan ini memang sudah setahun yang lalu, keinginan untuk menulisnya pun sudah sejak lama. Sayangnya tertunda terus. Perjalanan dengan rombongan berjumlah 12 orang yang terdiri dari saya dan 11 orang mahasiswa jurusan Pariwisata UI. Saya awalnya melihat linimasa teman SMA saya, Septia, yang gelisah karena ada tawaran perjalanan ke daerah Jawa Timur tetapi tidak ada satu orang pun perempuan yang ikut. Saya yang kala itu butuh jalan-jalan, akhirnya memberanikan diri ikut meski tidak tahu jelas tujuannya, yang penting liburan pikir saya. Informasi awal dari Septia adalah mau jalan-jalan ke Surabaya. Saya pikir ada apa di Surabaya, lumayan jauh juga ke sana. Ya nggak apa-apa lah, apapun destinasi wisatanya yang penting saya ga perlu mendekam di rumah dengan siklus makan-online-tidur-(kalo ingat) mandi.

Perjalanan ini cukup panjang buat saya bahkan yang terpanjang pertama, sekitar satu minggu, yaitu 19-25 Januari 2011. Kami menuju Taman Nasional Baluran yang terletak di Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur, menggunakan kereta api. Sebagian rombongan yang terdiri dari saya, Septia, Ajung, Rury, Kadek, Ridho, Iyos, dan Roni, berangkat dari Stasiun Universitas Indonesia, menuju Stasiun Manggarai, dan berjalan kaki mencari Metromini yang ke arah Senen. Di Stasiun Senen sudah ada mahasiswi Pariwasata 2010 yang menunggu kami, yaitu Hana, Danit, Intan, dan Lica. Lengkap sudah kami berduabelas. Kami berangkat jam 9 malam menggunakan kereta ekonomi Progo menuju Stasiun Lempuyangan Jogja seharga 35 ribu. Sesampainya di Lempuyangan sekitar pukul 7.20 pagi dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta Sri Tanjung dengan harga yang sama menuju Stasiun Banyuwangi. Kami sempat terburu-buru karena waktu keberangkatan kereta Sri Tanjung hanya berselang 15 menit dari waktu kami sampai. Untungnya, kami bergerak dengan cepat. Berjam-jam lamanya kami ada di kereta, mulai tidur, ngobrol, bercanda, komen sana-sini, sampai bingung mau gimana lagi. Pelajaran berharga: bawa mainan atau apapun yang bisa menghabiskan waktu selama perjalanan. Kami sampai di Stasiun Banyuwangi sekitar pukul 23.30. Satu hari lebih!

Kami meredam amuk cacing-cacing yang sudah demo semenjak di kereta dengan makanan yang murah meriah di stasiun. Malam-malam masih ada yang berjualan sate ayam dan sepaket nasi-ayam-mi goreng-telor. Selesai santap tengah malam, beberapa dari kami ada yang berbelanja di mini market terdekat dan sebagian tawar-menawar harga sewa angkutan umum menuju Taman Nasional Baluran. Akhir negosiasi kami berada pada harga 130 ribu. Di pos penjagaan Taman Nasional Baluran, kami disarankan untuk beristirahat terlebih dahulu di musholla supaya pagi nanti bisa meneruskan perjalanan dengan penuh energi. 



Bangun paling pagi sangat menyenangkan karena bisa mandi lebih dulu dibanding yang lain. Jumat pagi yang cerah, Bapak Project Officer (sebutan dari saya) alias kepala rombongan, Rury, memutuskan untuk berjalan kaki sejauh 12 km menuju savana Bekol. Dengan bangga dia berkata, "Biar ada esensinya!". Kami pun seturut kehendaknya. Beberapa kali ada mobil pick up yang menawarkan tumpangannya menuju Bekol tetapi dengan berat hati kami tolak untuk merasakan esensi perjalanan ini. Jalan menuju Bekol memang sudah diaspal meski beberapa bagian sudah ada yang mengalami kerusakan. Memang pilihan yang tepat untuk tidak menumpang pick up karena sepanjang perjalanan kami dapat melihat burung, kupu-kupu, monyet, rusa, dan berbagai vegetasi tanaman yang beraneka ragam.


Perjalanan yang dimulai sekitar pukul 9 berakhir pukul 4 sore di savana Bekol. Perjalanan yang santai tetapi cukup melelahkan. Beberapa kali istirahat untuk minum bahkan sempat tidur sebentar di jalan. Di Bekol kami menyewa penginapan yang berisi tiga kamar (per kamar dua tempat tidur) dengan satu kamar mandi seharga 250 ribu. Di Bekol banyak monyet yang berkeliaran dengan bebas, mesti hati-hati meletakkan barang di luar kamar. Untuk menghindari monyet, kami pun memasak makan malam di dalam kamar. Tanpa disangka ada tokek yang keluar dari persembunyiannya, kegiatan masak-memasak tertunda akan kehadirannya. Kami berusaha mengusir tokek dengan berbagai cara hingga ia mau keluar dari kamar. Masak-memasak pun dilanjutkan, yang lain beres-beres dan membersihkan diri. Seusai makan malam, kegiatan kami adalah main UNO dan wisata malam untuk melihat binatang-binatang yang keluar pada malam hari. Untuk yang wisata malam dibagi beberapa kloter karena harus ada yang menjaga penginapan. 

Savana Bekol


Pagi-pagi sekali, subuh lebih tepatnya, kami bergegas menuju Pantai Bama untuk menikmati panorama matahari yang terbit di ujung paling timur Pulau Jawa. Jarak Bekol dengan Pantai Bama sekitar 2 km dengan jalan yang jelas namun berbatu-batu. Kicau burung mengiringi langkah kaki kami. Perjalanan 12 km plus 2 km tidak lagi terasa berat ketika melihat keindahan pantai dan pemandangan matahari terbitnya. Sungguh indah ciptaan Yang Kuasa! Puas menikmati matahari terbit, tinggal bingung yang tersisa karena di Bama juga banyak monyet berkeliaran. Kami ingin memasak untuk sarapan sekaligus makan siang. Beruntungnya, terdapat ruangan yang dapat kami pakai untuk memasak. Beberapa fasilitas seperti penginapan dan perahu untuk snorkeling sudah ada di sini. Kami sendiri mendirikan tenda di pinggir pantai. Malamnya ternyata ada beberapa anak SD yang melakukan study tour dan praktek menggunakan bahan kimia dan serangga. Kami menikmati malam dengan memandangi langit yang terhampar bintang. Malam yang seru sekali!

Sunrise di Pantai Bama
Kami berencana pulang Sabtu sore. Beberapa dari kami yang bangun pagi berjalan-jalan menyusuri pinggir pantai dan menemukan dermaga yang sudah tidak terpakai lagi dan dikelilingi oleh pohon bakau. Pagi-pagi pantai pun masih surut tetapi ketika siang airnya begitu jernih sehingga kita bisa melihat ikan-ikan kecil yang berenang di tepian. Pasirnya pun putih dan mataharinya pun tidak terlalu terik. Apabila ke sebelah kiri pantai terdapat karang-karang besar berwarna hitam tempat banyak ikan berkumpul.



Pantai Bama




Hampir lupa memberitahu, tiket masuk ke Taman Nasional Baluran ini 1.250 rupiah saja. Kami yang mendirikan tenda membayar biaya kebersihan sebesar 44 ribu. Sabtu sore kami berkemas menuju Stasiun Banyuwangi menggunakan mobil pick up sewaan dengan biaya 250 ribu. Kereta baru ada malam hari sepertinya, saya lupa, maaf ya. Entah di perjalanan berangkat atau pulang, kami sempat menghirup asap dari Semeru. Fenomena ini malah dijadikan lahan usaha dengan berjualan masker. Kami sampai di Stasiun Lempuyangan malam hari dan menginap satu hari karena kereta ke Jakarta baru ada esok harinya. Beberapa jam kaum adam mencari-cari penginapan murah di sekitaran stasiun dan sisanya menunggu di dekat kedai makanan. Akhirnya dapat juga penginapan yang murah meski tidak semua tidur di kasur. Malam harinya kami kembali wisata malam di sepanjang Malioboro. Siangnya kembali jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di sekitar Malioboro seperti Keraton dan Pasar Beringharjo. Sayangnya, saya lupa mencatat dengan detail rincian biaya selama di Jogja. Sekitar jam 4 sore kami bersiap-siap menuju ibukota, kereta kami menunggu pukul 4.30. Kami berjalan kaki dari penginapan menuju Stasiun Lempuyangan yang ternyata jaraknya cukup jauh. Selama perjalanan pulang kami lebih banyak terlelap dan tanpa terasa sudah sampai Stasiun Senen Selasa dini hari.

Terima kasih saya ucapkan untuk seminggu perjalanan dan kebersamaannya! What a nice trip! Foto-foto yang ada merupakan hasil jepretan dari kami semua anggota rombongan perjalanan karena terdapat kamera dslr yang berpindah-pindah tangan. hehe. Fyi, tidak satu orang pun dari kami yang pernah ke Baluran. Perjalanan ini, mulai dari itinerary, alat transportasi sampai bahan konsumsi, disiapkan dengan baik oleh Rury Dermawan (kini resmi menjadi anggota MAPALA UI 2012) dan kawan-kawan. I'm waiting for another trip, guys! :) 

oia, catatan perjalanan ke Baluran ini juga sempat dipublikasikan Septia di Kaskus dan bahkan menjadi Hot Thread! Untuk membaca catatan perjalanan versi Septia bisa dilihat di sini 

 

Jumat, 02 Maret 2012

Just A Reminder

Picture taken from here
Valentine mungkin sudah berlalu. Rencana ingin menulis ini di Pebruari kemarin gagal sudah tetapi saya tetap pengen menulis tentang perayaan penuh cinta ini. 

Selalu, dari tahun ke tahun, ada pro dan kontra tentang Valentine. Mereka menggugat sejarahnya, esensinya, bahkan aktivitasnya yang notabene adalah sebuah bentuk ungkapan kasih sayang terhadap seseorang. Menurut hemat saya, Valentine itu cuma pengingat, just a reminder, untuk kita yang suka lupa kalau kita punya orang yang kita sayang.  Jujur, saya suka lupa sama hari ulang tahun teman-teman saya, kecuali kalau saya buka jejaring sosial paling menguntungkan dan bernuansa biru itu. Saya kadang-kadang punya keinginan untuk memberi kado kepada teman-teman saya yang berulang tahun atau sekedar membuat kartu ucapan digital dengan bantuan aplikasi tertentu. Semua itu cuma jadi wacana, saya pelupa, saya baru ingat ulang tahun mereka tepat di hari H mereka ulang tahun, yang ada hanya ucapan selamat menempuh umur baru. Kalau mereka bilang hari kasih sayang bisa kapan saja dan tidak harus ketika Valentine, mungkin mereka benar. Tetapi dengan Valentine kita bisa berbagi kasih sayang dengan orang yang tanpa sadari kita lupakan di tengah-tengah kesibukan.

Sabtu, 11 Februari 2012

Catatan Perjalanan dari Ujung Kulon

Januari kemarin, tepatnya 24-31 Januari 2012 saya melakukan perjalanan ke daerah paling barat dari Pulau Jawa. Saya tidak sendirian, bersama peserta dan panitia dari Lost in The Exotic Adventure of Ujung Kulon yang totalnya sekitar 50 orang. Panitia acara ini berasal dari Kamuka Parwata (KAPA), sebuah organisasi pecinta alam Fakuktas Teknik Universitas Indonesia.

Saya mengetahui acara ini dari seorang teman yang mengajak saya ke acara seminar pra perjalanan untuk memperkenalkan bagaimana Taman Nasional Ujung Kulon dan memberikan informasi mengenai Badak Jawa yang semakin langka. Tidak hanya mahasiswa dari UI yang datang ke acara ini, dalam sesi tanya-jawab terdapat mahasiswa Institut Pertanian Bogor dan Universitas Diponegoro. Seusai acara ini peserta seminar yang tertarik dengan perjalanan pada 24-31 Januari nanti dapat melakukan pendaftaran. Teman saya masih ragu apakah ia bisa ikut serta atau tidak, saya sendiri hampir bulat untuk ikut karena memang belum ada aktivitas untuk seminggu perjalanan tersebut. Pada akhirnya teman yang mengajak saya ke seminar itu tidak ikut dalam perjalanan. Saya kemudian mengajak teman satu fakultas saya agar saya tidak sendirian pada perjalanan nanti.

Untuk mengikuti perjalanan yang cukup panjang ini, panitia meminta peserta untuk datang briefing dan melakukan latihan fisik. Selain itu, terdapat juga daftar peralatan pribadi dan kelompok yang harus dibawa. Peserta juga diwajibkan untuk mengkonsumsi pil kina untuk mencegah terjangkitnya penyakit malaria selama perjalanan. 

Briefing dan Pelepasan
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Selasa, 24 Januari 2012, peserta diharapkan berkumpul pukul 8.00. Panitia melakukan pengecekan alat dan membantu peserta untuk packing barang bawaan, juga berbagai persiapan alat dan logistik untuk kebutuhan selama di Ujung Kulon nanti. Sebelum berangkat, ada briefing dan pelepasan dari KAPA dan tim perjalanan. Perjalanan menuju Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) diperkirakan berlangsung selama 8 jam dari kampus UI Depok. Ternyata perkiraan tersebut meleset, waktu perjalanan mencapai 12 jam. Berangkat pukul 10.00, istirahat makan siang, sempat salah jalan, dan ketika sampai di daerah Sumur, bus yang kami tumpangi ternyata tidak bisa masuk sehingga mau tidak mau mengganti alat transportasi dengan elf. Kami sampai sekitar pukul 11.00 yang disambut dengan rintik-rintik hujan.

Pengabdian masyarakat di SDN Tamanjaya 3

Agenda hari kedua adalah pengabdian masyarakat dengan melakukan pencerdasan mengenai badak di SD dan SMP. Rombongan dibagi dalam dua kelompok, saya sendiri termasuk dalam kelompok untuk SD Tamanjaya 3 dan ada pula yang termasuk dalam kelompok untuk SMP Negeri 2 Sumur. Pencerdasan terdiri dari menonton film, slide show, lomba menggambar badak, lomba mewarnai badak, dan permainan ular tangga badak. Sebenarnya, acara ini diperuntukkan hanya untuk siswa kelas 6 tetapi karena derasnya hujan tadi malam hingga pagi tadi yang menyebabkan kelas tidak sepenuhnya terisi. Akhirnya acara ini dihadiri juga oleh siswa kelas 2 sampai 5. Seusai  acara ini dan makan siang, peserta dan panitia dibagi menjadi kelompok yang lebih kecil dengan anggota sekitar 4-5 orang untuk melakukan wawancara dengan warga seputar kondisi dan partisipasi mereka terhadap TNUK.

Karang Ranjang

Hari ketiga merupakan hari yang paling melelahkan. Telusur hutan untuk mengetahui pakan badak dan habitatnya. Ujung dari perjalanan ini adalah Karang Ranjang yang ditempuh dengan 4-5 jam dan celana serta kaki yang basah terkena lumpur. Rasa lelah menguap sekejap ketika sampai di Karang Ranjang dengan pemandangan pantai yang menakjubkan. Beberapa ada yang langsung main ke pantai, ada pula yang membersihkan badan dan sepatu yang sudah terjamah lumpur. Sepatu bot yang saya bersihkan hampir saja terseret ombak, untungnya ada panitia yang berdiri tidak jauh dari lokasi sepatu bot saya. Awalnya saya tidak ingin menceburkan diri tetapi kadung celana basah terkena ombak, akhirnya ikut juga bermain air di pantai. Kami tidak bisa berenang terlalu jauh dari pantai karena ombak yang besar dan membuat kami  bermain  "breakwater" dengan mengaitkan lengan satu dengan yang lain. Sempat ada salah satu dari kami yang terbawa ombak dan yang lain langsung sigap menariknya.  Karang Ranjang  memang termasuk dalam jajaran pantai selatan yang masih perawan. Setelah makan malam, sebagian besar dari kami bermain Serigala dan Penduduk Desa. Saya sendiri tidak ikut serta karena tidak mengerti permainan apa ini, di mana peserta permainan ini mengelilingi satu orang moderator yang menentukan alur permainan. Sisanya yang tidak ikut bermain ada yang berbagi cerita atau memandangi langit malam yang cerah disesaki bintang, bahkan beberapa ada melihat bintang jatuh. Hampir lupa, di tempat ini tidak ada listrik dan air pun diambil dari sumur dengan ditimba.

Jumat yang merupakan hari keempat adalah hari kembalinya kami ke desa Tamanjaya. Perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat. Sekitar jam 1 siang rombongan sudah sampai di pos Cilintang, sudah dekat untuk ke desa Taman Jaya. Di sana kami beristirahat dan santap siang yang bahannya diolah menggunakan misting dan kompor berparafin. Sekitar jam 3 atau 4 sore hampir seluruh rombongan sepertinya sudah sampai Tamanjaya, basecamp kami yang berlokasi di dekat rumah Pak Komar, pemilik penginapan dan kapal. Saya sendiri bersama tiga rekan seperjalanan baru sampai basecamp sekitar pukul 06.00 karena mampir dulu di aliran air yang menyejukkan kaki di dekat persawahan, mengambil gambar-gambar di dekat sawah dan perbukitan, dan mampir di warung untuk melepas lelah. Malam harinya ada acara lomba masak antar ibu-ibu desa Tamanjaya dan menonton film untuk anak-anak.

Pulau Peucang
Weekend  memang waktunya liburan. Sabtu menjadi hari yang dinanti meski sempat sangsi. Selama kami di Ujung Kulon, hampir setiap hari diguyur hujan badai kecuali ketika di Karang Ranjang. Cuaca yang tidak menentu ini membuat kami takut untuk berangkat ke Pulau Peucang. Dengan berbagai pertimbangan, kami tetap berangkat. Mendung memang menggelayuti sejak pagi. Sepanjang perjalanan hujan deras dan angin menyertai, terombang-ambing ombak juga menggigil kedinginan. Wasyukurilah kami sampai dengan selamat di Pulau Peucang. Selain manusia, pulau ini dihuni babi dan monyet yang tidak takut pada pengunjung. Lagi-lagi, segala keluh kesah di kapal terbayar dengan pasir putih dan jernihnya air laut pantai pulau ini. Kami menginap di dekat dermaga Cidaon. Tidak jauh dari lokasi kami menginap (mendirikan tenda lebih tepatnya) terdapat Padang Penggembalaan yang di dalamnya terdapat banteng, merak, kera ekor panjang, ayam hutan, babi hutan, dan fauna lainnya. Pantai Cidaon tidak seindah pantai Pulau Peucang tetapi di sini memiliki sungai yang airnya begitu menyegarkan. Agenda setelah makan malam kembali diisi dengan permainan Serigala dan Penduduk Desa, saya sendiri mendengarkan musik sampai terlelap. Saya dibangunkan untuk pindah tidur di tenda. Baru beberapa jam tertidur, sekitar jam 2.00 dini hari, hujan badai kembali menghampiri. Korbannya adalah tenda peserta perempuan yang merupakan tenda paling besar. Peserta dievakuasi ke pos penjagaan, tidur berdesakan dengan posisi tidak karuan ditemani hawa yang begitu dingin.


Minggu pagi adalah waktunya snorkeling dan arung gelombang di sekitaran Pulau Peucang. Alat snorkeling yang tidak sebanding dengan jumlah peserta membuat kami harus bergantian menggunakannya. Salut untuk KAPA yang bersusah payah membawa perahu karet mereka jauh-jauh dari Depok, ya walaupun sebenarnya gelombangnya kecil di lokasi kami snorkeling. Setelah snorkeling dan arung gelombang, kami makan siang di Pulau Peucang dan dilanjutkan perjalanan kembali ke Tamanjaya. Untungnya, perjalanan pulang lebih aman sentosa daripada keberangkatan meski tetap diiringi awan mendung. 



Hari terakhir menjadi hari perburuan oleh-oleh untuk mereka yang menanti kami di rumah. Agenda hari Senin ini adalah menyambangi tempat produksi oleh-oleh khas TNUK yang bernuansakan Badak Jawa seperti gantungan kunci, sumpit, pin, plakat, patung dari kayu, kaos, tas dan beraneka pernak-pernik lainnya. Kerajinan tangan ini sedikit banyak bertuliskan pesan untuk menyelamatkan Badak Jawa. Masyarakat sepertinya masih peduli terhadap kelestarian satwa yang semakin langka ini. Pemasaran selalu menjadi kendala klasik bagi usaha di daerah. Semoga ada yang mampu memasarkan berbagai kerajinan tangan yang diproduksi masyarakat sekitar TNUK. Sorenya kami pulang ke Depok menggunakan elf sampai daerah Sumur. Kami langsung menyerbu mini market di tempat kami transit. Puas berbelanja, kami duduk manis di mini bus yang disediakan panitia. Sempat mampir entah di daerah mana untuk shalat Isya dan istirahat.

Tibalah kami di kampus tercinta sekitar pukul 03.00 dini hari. Tidak terasa seminggu sudah meninggalkan ibukota. Kami pun menurunkan barang-barang bawaan dan setelahnya dilanjutkan dengan sharing kesan dan pesan selama perjalanan. Seminggu menjalani hari dengan orang-orang yang baru, menempuh perjalanan darat dan laut bersama-sama, makan dengan menu dan tempat yang sama (baca: satu misting bareng-bareng), bahkan sempat gosip-gosip menjelang tidur bersama-sama (khusus peserta cewek hahaha). Buat saya, ini perjalanan pertama dengan rombongan besar yang saya bisa mengenal setiap pesertanya. Terima kasih untuk segenap panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini dan sering kali mengacak-acak kami dalam kelompok-kelompok (terdengar kabar untuk pemilihan anggota kelompok dapat "dipesan" pada Ka Ops atau disebut agenda titipan) yang membuat kami dapat mengenal satu dengan yang lain.

You guys awesome! Amazing to meet all of you! 

Click here untuk melihat foto-foto lengkap sepanjang perjalanan dan masuk ke group Lost in The Exotic Adventure of Ujung Kulon untuk terus update perkembangan kabar terbaru panitia dan peserta acara ini. Jangan lupa datang ke seminar pasca perjalanan yang diadakan Kamis, 23 Pebruari 2012 dan pameran foto yang diadakan 20-24 Pebruari 2012 di Lobby K Fakultas Teknik Universitas Indonesia. 
See you there, guys! :D

Sabtu, 21 Januari 2012

Thank God for This Term!

Semester lima. Semester sebelumnya sempat mengecewakan tetapi secara tidak langsung membangun semangat untuk memperbaikinya. Semester sebelumnya itu saya ikut beberapa kegiatan dan menghadiri beberapa acara musik, juga ada pekerjaan sampingan. Saya juga memanfaatkan jatah bolos semaksimal mungkin sehingga kehadiran tidak lagi menjadi nilai yang mendongkrak nilai akhir. Didukung dengan dosen yang pelit nilai dan hal-hal yang saya sebutkan sebelumnya, IP (Indeks Prestasi) saya pun meluncur jauh dari pendahulunya. Sedih pasti tapi ya mau bagaimana lagi, nikmati saja buburnya. 

Saya nggak berani kasih tau IP semester empat saya ke orang tua. IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) semester sebelumnya lah yang menyelamatkan. Saya bilang nilai saya (IPK) masih aman, masih di atas 3 koma sekian. Di semester lima ini saya nggak mau kejadian di semester empat terulang hanya karena kesibukan saya. Masih lekat di ingatan saya kalau waktu semester pertama saya suka bilang ke temen-temen saya, saya mau punya IP/IPK summa cum laude dan jadi mapres (mahasiswa berprestasi). Biasa lah, kobaran semangat mahasiswa baru yang akan luntur seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, tanpa saya sangka waktu itu IP saya cum laude. Senangnya bukan main.

Semester lima ini sudah masuk masa peminatan untuk mahasiswa Kriminologi angkatan 2009. Saya mengambil Jurnalistik Kriminologi yang mengkritisi dan menganalisis media massa dengan kajian Kriminologis. Mahasiswa untuk peminatan ini sedikit jumlahnya, hanya tujuh orang termasuk saya. Setiap masuk kelas Jurnal (sebutan untuk peminatan Jurnalistik Kriminologi), seperti ada di kelas privat dan nggak bisa lagi yang namanya curi-curi kesempatan untuk tidur atau jelajah dunia maya. Teman-teman baik saya banyak yang mengambil peminatan Penegakkan Hukum dan Kejahatan Transnasional dan kami hanya bertemu di kelas wajib jurusan seperti kelas Kebijakan Kriminal, Latihan Penelitian Kriminologi, dan Filsafat Kriminologi. 

Semester ini saya absen menonton konser ataupun acara musik lainnya yang berada di luar kampus. Acara musik yang saya hadiri hanya Backstage RTC (sebagai panitia), CRAFT 2011, Gelas Maba FISIP UI 2011 (Gelar Apresiasi Seni Mahasiswa Baru), dan Peacebuilding Music Stage 2011 (acara jurusan saya). Jarang pula untuk mampir ke sekretariat UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) saya. Beruntungnya, pekerjaan sampingan saya hanya ada ketika akhir pekan. Di hari-hari biasa sekedar technical meeting atau mengurusi bagian administrasi. 

Saya memotivasi diri saya seperti waktu masih menjadi maba. Lagi-lagi menargetkan cum laude untuk IP semester ini dan semester-semester mendatang. Kalau untuk jadi mapres sih saya pesimis, saya nggak ada apa-apa yang membanggakan. Jadi, ya saya berusaha semaksimal mungkin di bidang akademis dan kegiatan tambahan lainnya. Karena motivasi ini, saya nggak bolos untuk apapun yang tidak penting meskipun pernah sekali tidak masuk kuliah karena kesiangan, human error. Saya menyesal nggak masuk cuma karena kesiangan. Buat saya, nggak masuk kuliah haruslah karena alasan-alasan penting dan mendesak seperti sakit atau yang berkaitan dengan tanggung jawab lainnya seperti kepanitiaan atau pekerjaan lainnya. Semester ini sepertinya saya hanya dua kali tidak masuk kuliah, pertama karena kesiangan dan kedua karena ada technical meeting.

Ada mahasiswa yang rajin dan tidak sedikit juga mahasiswa yang tidak rajin alias mengerjakan tugas menyerempet tenggat waktu seperti H - satu atau dua hari bahkan beberapa jam sebelum dikumpulkan. Istilah kerennya deadliner. Deadliner memang bukan istilah khusus untuk mahasiswa tetapi sebutan untuk makhluk yang mengerjakan tugas-tugasnya tidak dari jauh-jauh hari dan saya adalah salah satunya. Tidak jarang saya mengerjakan tugas beberapa jam sebelum dikumpulkan dan menyerahkannya tepat di waktu yang ditentukan. Beberapa tugas harian, take home Ujian Tengah Semester (UTS) dan Ujian Akhir Semester (UAS), biasanya memiliki batas akhir 'sebelum jam X harus dikumpulkan'. Saya kerap mengumpulkan beberapa tugas tepat di jam X sementara teman-teman saya bahkan ada yang sudah mengumpulkan sehari sebelumnya. Betapa deadliner-nya saya. Pernah suatu kali saya ada tugas take home yang dikumpulkan keesokan harinya, saya belum mengerjakan dan sepulang kuliah sekitar jam 7 malam saya malah tidur karena kelelahan, saya terbangun sekitar pukul 11.30 dan ketika ingin mencari materi bacaan di internet, pulsa internet saya habis. Panik! Sesegera mungkin saya mencari pulsa untuk modem saya, beruntung masih ada kedai pulsa yang buka. Terdapat dua tugas take home di UAS hari terakhir, yaitu Jumat minggu lalu. Keduanya merupakan tugas dua mingguan alias sudah dua minggu sebelumnya tugas UAS tersebut diberikan. Bodohnya, saya baru mengerjakan keduanya beberapa jam sebelum Kamis berakhir dan 12 jam di hari sesudahnya. Padahal, Rabu dan Kamis saya libur, sudah tidak ada UAS lagi tapi saya malah leyeh-leyeh nggak jelas. Di dua hari itu saya sempat membaca-baca bahan-bahan untuk tugas take home itu, hanya saja saya malas untuk mengetiknya menjadi tugas. Jangan ditiru ya. 

Nah, jam 12 lewat tadi saya buka portal akademik. Sebelumnya sudah sempat buka dan ada dua nilai yang sudah tampak, sisanya not published dan empty. Saya pikir masih minggu depan semua nilai akan keluar sehingga saya masih santai-santai saja. Membuka portal akademik itu tidak mudah, butuh keberanian dan hati yang siap kecewa untuk hasilnya. Jantung saya selalu berdegup kencang ketika hendak meng-klik "Riwayat" yang berisi nilai-nilai dalam bentuk beberapa huruf pertama dalam abjad dan kalau beruntung atau dosennya rajin akan tampak nilai berupa angka. Nilai yang langka di semester sebelumnya, saat ini menjadi nilai yang mendominasi meski ada beberapa yang memiliki atribut tambahan untuk menguranginya kualitasnya. Nilai yang sebelumnya mendominasi, hanya ada satu untuk mata kuliah Komunikasi yang saya ambil. Puji Tuhan, saya terperangah melihat nilai-nilai saya. Saya begitu tidak menyangka. Puji Tuhan. IP saya melesat naik dan IPK naik meski hanya nol koma sekian. Bersyukur sekali. Terima kasih untuk teman-teman yang membantu dan memberikan semangat. Semester depan harus lebih baik lagi!

Thank God for this term! :)

Minggu, 25 Desember 2011

Kisah Pemuda dari Kaki Gunung Tapatoli Gorontalo


Berbekal restu orang tua dan ongkos hasil pinjaman sana-sini, pemuda dari kaki gunung Tapatoli di Gorontalo rela menempuh perjalanan sebelas jam menuju Sam Ratulangi yang akan membawanya terbang ke Soekarno-Hatta demi mewujudkan cita-cita.

Tekad bulat Ayis, pemuda yang lahir di penghujung tahun 1988, untuk berkuliah di ibukota tidak dapat diganggu gugat. Selepas lulus dari SMA Negeri 1 Limbotu tahun 2007, ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman dan meraih mimpinya menjadi mahasiswa kampus perjuangan berlambang makara yang terletak di daerah Depok, Jawa Barat.

Tiga juta rupiah, hasil tabungan dan pinjaman tetangga, hanya cukup untuk biaya transportasi Gorontalo-Manado-Jakarta-Depok. Beruntung Ayis bertemu dengan Safiudin di bandara Sam Ratulangi yang memiliki kenalan di Depok dan mengantarkan Ayis ke gerbang pendidikan yang lebih tinggi.

Sesampainya di Soekarno-Hatta, matahari sudah undur diri. Perjalanan menuju ibukota merupakan yang pertama dan yang terjauh untuk Ayis. Ia mengikuti saran Safiudin untuk naik taksi menuju Depok tetapi ia juga diingatkan untuk memperhatikan layar yang menunjukkan besar biaya perjalanan di dashboard samping setir supir. Melihat biaya perjalanan yang semakin mahal, pemuda ini akhirnya memutuskan untuk turun di daerah Mangga Dua dan berencana melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum lainnya. Lagi-lagi Ayis beruntung, seorang ibu separuh baya yang kebetulan warga Depok membantunya meneruskan perjalanan untuk bertemu dengan kenalan Safiudin di daerah tersebut. 

            Ayis akhirnya bertemu dengan Khaerudin Jufri dan Rohim, kenalan Safiudin,  merupakan pengurus dan ketua Sekolah Masjid Terminal (Sekolah MasTer) Depok yang memfasilitasi siswa kurang mampu mendapat pendidikan, mengikuti ujian dan mendapatkan ijazah. Di tempat inilah Ayis menimba ilmu dan mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas idamannya. Sekolah ini merupakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang digagas oleh Yayasan Bina Insan Mandiri juga menjadi tempatnya tinggal sebelum ia memasuki bangku kuliah. 

            Sempat terbersit niat untuk melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Margonda, Depok. Akan tetapi, rupiah yang minim mengurungkan niat tersebut. Dengan dorongan dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (pengurus dan relawan Sekolah MasTer), semangat Ayis kembali berkobar dan membuatnya semakin tekun belajar.   

Ayis tidak hanya belajar tetapi ia juga mengajar untuk tingkat SMP di Sekolah MasTer. Menjadi pedagang asongan adalah pilihan Ayis untuk mempertahankan hidup yang jauh dari orang tua. Berjualan koran di kereta, menjajakan aksesoris, dan berdagang aneka minuman bukanlah hal yang baru untuknya. Ayis kecil terbiasa bekerja keras, mulai berjualan barang di sekolah sampai menjadi kuli angkut di pasar. Semua itu ia lakukan untuk membantu orang tua membiayai pendidikannya. Di perantauannya kini, Ayis juga berjualan sambil belajar. Ayis selalu membawa buku dan menyempatkan diri untuk belajar di sela-sela aktivitasnya mengumpulkan rupiah. 

            Anak ketiga dari empat bersaudara ini boleh gagal dua kali ujian masuk perguruan tinggi impiannya. Namun nasib berkata lain, hasil ujiannya yang ketiga melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) berhasil sesuai dengan apa yang ia dambakan. Ayis Rahim, Sastra Jawa Universitas Indonesia, dengan urutan dan nomor pokok mahasiswa tertera di koran yang biasanya ia jual. 

            Ayis resmi menjadi mahasiswa Universitas Indonesia di tahun 2008. Pemuda pantang menyerah ini membayar hanya dua ratus ribu rupiah tiap semester berkat bantuan mahasiswa FEUI dalam birokrasi. Ia pun mendapat tempat tinggal dan uang saku selama tiga tahun dari beasiswa ETOS yang dikelola oleh salah satu harian nasional. 

            Sebuah pencapaian dari kerja keras Ayis selama setahun ini berhembus begitu cepat sampai akhirnya tercium media. Di hari yang sama dengan pengumuman SPMB ketika sebagian besar orang kantoran bergegas menuju kediaman, Sekolah MasTer sudah ramai oleh jurnalis yang ingin meliput Ayis. Para jurnalis tertib antri menunggu giliran untuk meliput pemuda berprestasi penuh daya juang dari provinsi ke-32 negara dengan lambang Garuda .
           
Ia pernah diremehkan ketika ingin masuk SMAN 1 Limbotu yang merupakan sekolah unggulan di Gorontalo, juga disangsikan untuk masuk Universitas Indonesia. “Untuk mencapai sesuatu itu tidak harus pintar tetapi harus berusaha”, ujar pemuda yang bercita-cita menjadi wirausahawan sukses seperti Chairul Tanjung dan Donald Trump. Sejak kecil hingga detik ini, puasa, shalat lima waktu, shalat duha, dan tahajud kerap dilakukan Ayis yang gemar membaca buku-buku tentang finance, property, kesehatan, dan kuliner. Kini, ia membuktikan bahwa ia mampu menjadi apa yang ia inginkan.

Ditulis untuk tugas menulis feature pada mata kuliah Berita dan Cerita Kejahatan.