Senin, 13 Juni 2011

Konser Outdoor Pertama bersama Misery Index

pengalaman menonton konser saya didominasi oleh area indoor, dimulai dari Tennis Indoor Senayan, Viky Sianipar Music Centre dan Balai Kartini. yah, walau hanya merasakan satu konser untuk setiap tempat tapi berada di sebuah konser musik merupakan pengalaman yang menakjubkan. kali ini, Misery Index memberikan pengalaman baru bagi saya dengan mengadakan konser di daerah Bulungan yang terhimpit berbagai bangunan.

saya sendiri bukan penikmat musik grindcore, saya hanya ingin tahu bagaimana sebuah perhelatan musik metal diadakan. kebetulan sekali, radio kampus saya, RTC UI FM, merupakan media partner konser Misery Index yang diberikan sekitar lima tiket untuk kepentingan promosi yang kemudian diagendakan dalam sebuah kuis. iseng, saya berpartisipasi dalam kuis tersebut. pertanyaannya pun mudah.

awalnya, saya ingin mengajukan permohonan kerja sama antara Wordaholic Media dengan sang promotor, Revision Live. hanya saja, Wordaholic Media masih belum bisa masuk dalam deretan media partner kalau halamannya saja masih numpang di salah satu penyedia jasa blog tanpa biaya. niat saya menciut. jadilah konser Misery Index kali ini sebagai pemuas rasa keingintahuan saya pada sebuah konser metal.

pemberitahuan pemenang kuis berhadiah tiket Misery Index di radio kampus saya tidak pada hari di mana kuis itu diadakan. keesokannya pun tidak. sebagai catatan, kuis diadakan hari Kamis, tiga hari sebelum hari H. saya pikir saya tidak akan dapat tiket itu. yasudahlah, pasrah. Sabtunya barulah saya mendapat kabar gembira. Puji Tuhan.

agenda saya ternyata cukup padat di tanggal merah pertama di bulan April itu. pagi saya beribadah dan siangnya saya meluncur ke GOR Tangerang untuk memenuhi janji saya terhadap teman-teman yang akan manggung di acara reuni sekolah menengah atas. ya, saya datang hanya untuk melihat teman-teman saya tampil. sekitar jam tiga, saya nebeng dengan teman sampai daerah Slipi untuk melanjutkan naik kendaraan ke daerah Blok M.

sesampainya di terminal Blok M, sayup-sayup terdengar raungan gitar dan tabuhan drum dari kejauhan. saya berjalan cepat ke lokasi acara, saya takut telat. benar saja, ternyata acara sudah berjalan sekitar setengah jam. teman saya bilang kalau acara dimulai sekitar pukul empat. Bulungan, di sore yang cerah itu, dihitamkan oleh penonton Misery Index. Line up band pembuka adalah sebagai berikut: Speed Zero Meter, Bleeding Corpse, Oshiego yang didatangkan dari negara tetangga (Singapura), Empire Gates, Dead Vertical, Beside, dan Siksa Kubur.

Jakarta merupakan tempat terakhir di Indonesia dari rangkaian tur Heirs to Thievery Asian Tour 2011. sebelum Jakarta, Misery Index sudah terlebih dahulu mengguncang Surabaya, Makassar, Medan, dan Yogyakarta. tiket yang dibandrol Rp 100.000 untuk presale dan Rp 130.000 on the spot sepertinya tidak menyurutkan antusiasme penggemar band grindcore asal Maryland, Amerika Serikat ini. terbukti dari arus penonton yang semakin malam semakin memenuhi area Bulungan Outdoor.


(foto diambil dari jurnallica.com )
sekitar pukul delapan, Jason Netherton (bass, vocal), Mark Kloeppel (guitar, vocal), Darin Morris (guitar) dan Adam Jervis (drums) memulai aksi mereka. panitia mengatakan kalau teman-teman media maupun penonton diperbolehkan mengambil gambar sampai lagu ketiga. entah alasannya apa. akan tetapi, himbauan tersebut tidak terlalu diperhatikan. meskipun begitu, aktivitas pengambilan gambar memang berkurang intensitasnya setelah beberapa lagu. lagi-lagi saya mengagumi para metalheads dan hardcore kids ketika mereka membuat circle mosh. padahal, sang vokalis hanya membuat lingkaran dengan tangannya tanpa mengucapkan perintah apa-apa. menakjubkan!
(foto diambil dari jurnallica.com )
sekitar satu jam Misery Index mempersembahkan diri untuk penggemar mereka yang datang di Bulungan Outdoor kali ini dengan menyajikan 15 lagu dari berbagai album mereka. Minggu, 3 April 2011, menjadi kenangan manis untuk penggemar band bergenre death metal / grindcore / thrash, seperti yang tertera di halaman Myspace mereka.

untung saja, hujan tidak sempat mampir. karena outdoor, saya sendiri takut kalau-kalau hujan akan turun. bisa-bisa acara tertunda atau bahkan tambah seru? saya awalnya bingung, kok konser band luar dimulainya sore-sore ya? usut punya usut, penduduk sekitar hanya mengizinkan acara musik sampai sekitar jam sembilan saja, sama seperti usainya penampilan Misery Index.

tiket konser biasanya menjadi kenang-kenangan dari sebuah konser musik band kesayangan selain foto, video rekaman, kaos, stiker, maupun pernak-pernik lainnya. sayangnya, kali ini sobekan tiket tidak diberikan lagi kepada penonton. saya sendiri minta sobekan tiket ke pihak panitia, walaupun bukan tiket saya tapi kertas hitam berukuran kecil ini bisa menjadi memori tersendiri (*halah).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar