Duo ulet bulu, begitulah saya dan Septia menamakan kami setelah pendakian Sindoro awal Nopember lalu, berencana melakukan pendakian. Dinamakan seperti itu karena jalan kami yang begitu lambat. Hahaha. Awalnya kami ingin bernostalgia ke Gunung Gede, sayangnya September lalu pendakian masih ditutup. Kami pun mencari alternatif lain untuk kami sambangi. Gunung-gunung Jawa Tengah waktu itu belum masuk opsi karena lamanya waktu tempuh, jadilah kami mencari di daerah Jawa Barat. Pangrango, Papandayan, Ciremai, puji Tuhan sudah kami daki meski tidak semua dalam satu tim. Teman saya menyarankan ke Burangrang saja namun dia tidak mau mengantarkan. Akan tetapi, dia memiliki teman yang bersedia menemani jika ada yang ingin ke Burangrang.
Teman dari teman saya itu bernama Hadi, saya memanggilnya Kang Hadi, kebiasaan saya memanggilnya orang-orang Sunda dengan sebutan Kang. Saya diberi petunjuk jalan oleh Kang Hadi menuju Cimahi tempat kami bertemu nanti. Untuk membunuh waktu, saya dan Septia naik bus Doa Ibu yang lewat Puncak karena kami berangkat malam hari dan berencana sampai subuh di Cimahi. Kami berangkat Sabtu malam, 15 September 2012, pukul 23.00, bus yang berbiaya Rp 25.000 ini berangkat dari Kp. Rambutan. Sekitar pukul 04.00, kami sampai di Tol Padalarang. Melanjutkan naik angkot berwarna hijau ke alun-alun Cimahi. Sebelum naik angkot dengan ongkos Rp 5.000 ini, tanya dulu ke sopir apakah lewat alun-alun atau tidak karena ada beberapa angkot yang rutenya tidak lewat alun-alun.
Di alun-alun Cimahi, saya kopi darat dengan Kang Hadi. Sudah subuh, kami mampir ke masjid terdekat untuk sholat. Seusai sholat, kami berjalan kaki ke daerah Pasar Atas untuk naik angkot berwarna kuning jurusan Cisarua. Angkot ini akan membawa kami ke titik pendakian terdekat, yaitu Sekolah Polisi Negara (SPN) dengan jalur Legok Haji, berbiaya lima ribu rupiah dengan jalan yang terus menanjak sampai tujuan. Dari SPN, kami ambil kiri dan terus berjalan kaki menuju kaki gunung Burangrang.
Sekitar setengah jam kami menyusuri aspal hingga desa terakhir. Sarapan sebentar di warung dekat kaki gunung. Terlihat warga yang bercocok tanam labu dan berternak sapi. Kami juga disuguhi pemandangan matahari terbit di tengah perjalanan menuju Burangrang. Kang Hadi bilang, akan lebih bagus lagi jika lihat sunrise dari puncak Tangkuban Perahu. Tidak lama setelah mengabadikan mentari, rekan Kang Hadi datang menyusul kami. Total empat orang dalam pendakian kali ini.
| Gunung Burangrang |
| Sunrise dari kaki Burangrang |
Pukul 07.00, kami menjejakkan kaki di batas desa. Melangkah menyusuri ladang-ladang. Terik menemani. Tibalah kami di hutan yang memberi asupan oksigen yang melimpah. Jalur Legok Haji ini seperti tidak ada bonus, terus menerus menanjak membuat saya terengah-engah.
| Ladang menuju Burangrang |
| Jalur Legok Haji |
Satu jam sebelum ante meridiem berubah menjadi post meridiem, kami sampai di ketinggian 2.050 mdpl meski ada juga yang menuliskan 2.064 mdpl. Sekitar empat jam total waktu yang kami perlukan untuk mencapai puncak, sudah termasuk banyak istirahat di sepanjang perjalanan. Ada dua rombongan yang sudah sampai duluan. Kami pun melepas lelah di tengah sengatan sang surya sambil menikmati pemandangan. Menyusul seorang kakek paruh baya bersama anaknya yang sudah ke 53 kali mencapai puncak gunung purba ini. Beliau memang atlet, sudah menjelejahi berbagai gunung di negri ini. Ah saya jadi iri.
![]() | |
| Pemandangan dari Puncak Burangrang |
| Kang Hadi, Kang Andi, Septia dan saya di triangulasi Burangrang |
Cukup lama kami beristirahat di puncak. Tidak lupa sambil mengabadikan keindahan alam. Kami pun turun melalui Jalur Komando dan mencari tempat untuk memasak logistik. Perdana kompor saya dipakai di pendakian ini. Di jalur ini ada trek yang cukup sulit, berada tidak jauh dari puncak dengan jurang ada sisi kiri. Akan tetapi, pemandangan pegunungan dari jalur ini begitu memanjakan mata.
| Jalur Komando |
Kami pun sampai di tempat yang datar dan mulai memasak untuk meredam rasa lapar yang mengusik sejak tadi. Kang Andi yang kali ini menjadi chef. Seusai makan kami segera turun karena hari menjelang senja. Jalur Komando ini sepertinya tidak seterjal Jalur Legok Haji, banyak bonus sepanjang jalan. Hampir dekat dengan desa, kami ditawarkan mampir ke air terjun. Kami pun mampir sebentar ke Curug Layung, melewati hutan-hutan pinus.
| Curug Layung |
Matahari semakin ke barat. Kami hanya beberapa jenak di Curug Layung. Perjalanan dilanjutkan melewati kebun teh. Sepertinya hanya Kang Hadi dan yang sering lewat jalur ini yang tahu. Kami mengakhiri pendakian melewati sebuah desa dan keluar dari sebuah kompleks villa.
Hari sudah gelap ketika kami sampai Cimahi. Bingung karena ke Leuwipanjang cukup jauh juga macet, bus ke Bekasi hanya sampai jam 8 malam sementara kami jam 7 saja baru sampai. Kami memutuskan menginap di Cimahi. Esoknya, subuh-subuh kami berangkat ke bukit Cibogo untuk melihat fajar keluar dari peraduannya. Bukit yang terletak di selatan Cimahi ini kami tempuh melewati perumahan, kemudian berjalan kaki sekitar 40 menit. Dari sini kami melihat hamparan kota dan pegunungan, meski sang fajar terhalang kabut yang membuatnya tidak seindah kemarin.
| Sunrise dari Bukit Cibogo |
| hamparan kota |
Di atas bukit kami menyeduh teh, menikmati pagi yang sejuk. Sarapan sambil berbincang-bincang tentang cita-cita. Enak sekali jika tinggal di daerah seperti ini, ingin menyegarkan pikiran tinggal mendaki ke bukit dan penat seketika hilang. Tak terasa hari semakin panas, kami pun bergegas pulang.
Terima kasih untuk Kang Hadi dan Kang Andi yang sudah bersedia mengantarkan kami ke Burangrang. Terima kasih sekali lagi untuk Kang Hadi yang memperkenalkan kami dengan Bukit Cibogo.
Maaf sekali kami merepotkan. Semoga bertemu lagi di pendakian selanjutnya!
Maaf sekali kami merepotkan. Semoga bertemu lagi di pendakian selanjutnya!



Libur lebaran buka gak ka, mohon infonya
BalasHapus