Kamis, 12 Desember 2013

Sekilas Jalan Raya Bekasi*

Iseng ikut lomba creative writing di kampus dan belum beruntung. Ngebut nulisnya dan teramat dekat deadline. Beginilah hasilnya....


Tak banyak yang tahu kalau Bekasi punya wilayah administratif berupa kabupaten. Kebanyakan warga ibukota dan sekitarnya hanya mengetahui Bekasi yang berbatasan langsung dengan wilayahnya, yaitu Kota Bekasi. Wilayah yang terkenal dari Kota Bekasi biasanya Pondok Gede atau kawasan Bekasi Barat yang memiliki gerbang tol Bekasi Barat dari akses tol Jakarta – Cikampek. Gerbang tol yang selalu padat kendaraan dengan hiasan jejalan mall dan apartemen di kanan kirinya. Dari gerbang tol Bekasi Barat, masih membutuhkan waktu sekitar 30 – 45 menit menuju Kabupaten Bekasi. Kabupaten Bekasi lebih dekat dengan gerbang tol Bekasi Timur. Dengan 15 menit perjalanan, Anda sudah bisa memasuki wilayah Kabupaten Bekasi.

Kecamatan pertama yang akan ditemui adalah Tambun Selatan. Jalan utama wilayah pimpinan bupati perempuan, Neneng Hasanah Yasin, ini merupakan jalur pantai utara yang selalu ramai kala musim mudik tiba. Merupakan bagian dari Jalan Daendels yang membentang dari Anyer hingga Panarukan dan sudah berkali – kali tambal sulam karena kerap rusak akibat musimnya penghujan dan beratnya beban.

Apabila ingin menyusuri jalan raya Bekasi (selanjutnya Kabupaten Bekasi akan disebut dengan Bekasi) dengan kendaraan umum bisa menggunakan mini bis yang biasa disebut dengan bis tiga perempat karena bentuknya yang tanggung atau menggunakan elf berwarna biru yang memiliki rute terminal Kota Bekasi – terminal Bekasi di Cikarang. Dari Tambun Selatan, akan terlihat deretan pabrik yang silih berganti dengan ruko (rumah toko), rumah warga, warung – warung, beberapa hotel, satu pusat perbelanjaan dari tokoh pewayangan yang sudah bangkut, yang tidak jauh darinya berdiri dua super market berlantai satu yang masih ramai dikunjungi. Kemacetan biasanya hanya pada jam – jam sibuk seperti waktu berangkat dan pulang kerja serta di depan pasar tradsional Tambun. Di sisi seberang pasar, berdiri kokoh saksi bisu perjuangan kemerdekaan bangsa. Bangunan tersebut adalah Gedung Juang yang pada masa penjajahan Belanda menjadi pusat kekuatan para pahlawan dan beralih menjadi pusat kekuatan lawan saat Jepang menjajah.

Setelah Tambun Selatan, akan ditemui wilayah Cibitung yang cukup pendek jalan rayanya dan Cikarang Barat yang dulunya merupakan bagian dari Cibitung. Terdapat Pasar Induk Cibitung dengan bau tidak sedap setiap kita melewatinya akibat sampah yang menumpuk dan kebiasaan orang – orang buang air kecil sembarangan. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi hanya dipisahkan jalan dan sebuah pabrik dengan pasar induk. Rumah sakit ini dibangun di atas tanah yang satu dekade silam merupakan kawasan lokalisasi. Kini, sisa – sisa tempat hiburan tersebut masih ada di belakang rumah sakit. Di Cikarang Barat sendiri terdapat kawasan industri Gobel yang hanya terdiri dari 10 – 15 pabrik dan kawasan industri MM2100 dengan jumlah pabrik belasan kali lipat dari Gobel. Total 175 pabrik di MM2100 berhasil menyerap ribuan tenaga kerja di Bekasi namun jika upah tak sesuai, demontrasi buruh pun tak terelakkan.

Di ujung Cikarang Barat terdapat Terminal Bekasi, tempat transportasi umum seperti bis antar kota maupun bis antar kota antar propinsi berkumpul. Untuk masuk ke desa – desa di luar jalan raya, dapat menggunakan (mobil) koasi atau Koperasi Angkutan Bekasi, sebutan untuk mobil seukuran angkot berwarna oranye yang memiliki nomor dan trayek tertentu. Jika ingin terus menyusuri jalan raya Bekasi, pemandangan yang akan ditemui hampir sama dengan Tambun dan Cibitung – Cikarang Barat, yaitu ruko, warung, rumah warga, pasar, pusat perbelanjaan dan pabrik namun dengan nuansa yang lebih gersang hingga tiba di Karawang. Perbedaannya adalah di wilayah ini masih banyak masyarakat yang menggunakan becak untuk berpergian jarak dekat. Kalau mau cari taksi malah agak sulit, apalagi mencari armada taksi burung berwarna langit. Taksi sering nampak di pertigaan lampu merah Cikarang yang dekat dengan gerbang tol. Itu pun armadanya tidak familiar.

Jika dilihat dari peta, jalan raya Bekasi sebenarnya sejajar dengan jalur rel kereta api, jalan tol dan Sungai Kalimalang. Bermula dari Tambun, kemudian masing – masing jalan semakin menjauh di Cikarang Barat. Apabila sedang naik kereta jarak jauh, sempatkan melihat bagian Bekasi yang tidak terlihat di jalan utama. Sawah masih terhampar meski kian tergerus pembangunan pabrik dan perumahan. Pembangunan perumahan elit yang hanya jadi impian bagi buruh yang ke sana kemari tanda tangan kontrak biasanya dibarengi dengan pembangunan gerbang tol sebagai akses langsung masuk perumahan. Selanjutnya, tengoklah jalan di sisi Sungai Kalimalang. Tak serusak dulu ketika masih diaspal, saat ini lubang sudah berkurang karena pembetonan.

    Baghasasi, sebutan untuk daerah ini saat masa kerajaan dulu, memiliki kualitas jalan raya yang terbilang semakin baik tiap tahunnya. Sayangnya, masih kurang memperhatikan hak – hak pejalan. Lahan pedestrian acap kali termakan bangunan warga. Terik matahari juga tak ada yang menghalangi. Membuat perjalanan sepanjang jalan raya Bekasi terasa gersang, gerah dan membuat siapapun enggan untuk melewatinya lagi. Tak seperti jika menyusuri kawasan Lippo Cikarang yang hijau dan rindang bagi pejalan dan pembawa kendaraan. Padahal, Lippo Cikarang adalah bagian dari Bekasi yang cukup beruntung dikelola oleh swasta. Semoga pemerintah segera mewujudkan jalan raya Bekasi yang rindang dan semakin tertata.  

Catatan: *Bekasi yang dimaksud adalah Kabupaten Bekasi. 

3 komentar:

  1. cukup informatif..
    sering-sering posting dong mar hehehe...

    BalasHapus
  2. iya diusahakan rutin, Van..
    thanks ya :)

    BalasHapus
  3. permisi mbak mau tanya, kalo dari stasiun bekasi ke pasar tambun naik angkutan apa ya??

    BalasHapus