Tak
banyak yang tahu kalau Bekasi punya wilayah administratif berupa kabupaten.
Kebanyakan warga ibukota dan sekitarnya hanya mengetahui Bekasi yang berbatasan
langsung dengan wilayahnya, yaitu Kota Bekasi. Wilayah yang terkenal dari Kota
Bekasi biasanya Pondok Gede atau kawasan Bekasi Barat yang memiliki gerbang tol
Bekasi Barat dari akses tol Jakarta – Cikampek. Gerbang tol yang selalu padat
kendaraan dengan hiasan jejalan mall dan apartemen di kanan kirinya. Dari
gerbang tol Bekasi Barat, masih membutuhkan waktu sekitar 30 – 45 menit menuju
Kabupaten Bekasi. Kabupaten Bekasi lebih dekat dengan gerbang tol Bekasi Timur.
Dengan 15 menit perjalanan, Anda sudah bisa memasuki wilayah Kabupaten Bekasi.
Kecamatan
pertama yang akan ditemui adalah Tambun Selatan. Jalan utama wilayah pimpinan bupati
perempuan, Neneng Hasanah Yasin, ini merupakan jalur pantai utara yang selalu
ramai kala musim mudik tiba. Merupakan bagian dari Jalan Daendels yang membentang
dari Anyer hingga Panarukan dan sudah berkali – kali tambal sulam karena kerap
rusak akibat musimnya penghujan dan beratnya beban.
Apabila
ingin menyusuri jalan raya Bekasi (selanjutnya Kabupaten Bekasi akan disebut
dengan Bekasi) dengan kendaraan umum bisa menggunakan mini bis yang biasa
disebut dengan bis tiga perempat karena bentuknya yang tanggung atau
menggunakan elf berwarna biru yang
memiliki rute terminal Kota Bekasi – terminal Bekasi di Cikarang. Dari Tambun
Selatan, akan terlihat deretan pabrik yang silih berganti dengan ruko (rumah
toko), rumah warga, warung – warung, beberapa hotel, satu pusat perbelanjaan
dari tokoh pewayangan yang sudah bangkut, yang tidak jauh darinya berdiri dua super market berlantai satu yang masih
ramai dikunjungi. Kemacetan biasanya hanya pada jam – jam sibuk seperti waktu
berangkat dan pulang kerja serta di depan pasar tradsional Tambun. Di sisi
seberang pasar, berdiri kokoh saksi bisu perjuangan kemerdekaan bangsa.
Bangunan tersebut adalah Gedung Juang yang pada masa penjajahan Belanda menjadi
pusat kekuatan para pahlawan dan beralih menjadi pusat kekuatan lawan saat
Jepang menjajah.
Setelah
Tambun Selatan, akan ditemui wilayah Cibitung yang cukup pendek jalan rayanya dan
Cikarang Barat yang dulunya merupakan bagian dari Cibitung. Terdapat Pasar
Induk Cibitung dengan bau tidak sedap setiap kita melewatinya akibat sampah
yang menumpuk dan kebiasaan orang – orang buang air kecil sembarangan. Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) Bekasi hanya dipisahkan jalan dan sebuah pabrik dengan
pasar induk. Rumah sakit ini dibangun di atas tanah yang satu dekade silam
merupakan kawasan lokalisasi. Kini, sisa – sisa tempat hiburan tersebut masih
ada di belakang rumah sakit. Di Cikarang Barat sendiri terdapat kawasan
industri Gobel yang hanya terdiri dari 10 – 15 pabrik dan kawasan industri
MM2100 dengan jumlah pabrik belasan kali lipat dari Gobel. Total 175 pabrik di
MM2100 berhasil menyerap ribuan tenaga kerja di Bekasi namun jika upah tak
sesuai, demontrasi buruh pun tak terelakkan.
Di
ujung Cikarang Barat terdapat Terminal Bekasi, tempat transportasi umum seperti
bis antar kota maupun bis antar kota antar propinsi berkumpul. Untuk masuk ke
desa – desa di luar jalan raya, dapat menggunakan (mobil) koasi atau Koperasi
Angkutan Bekasi, sebutan untuk mobil seukuran angkot berwarna oranye yang
memiliki nomor dan trayek tertentu. Jika ingin terus menyusuri jalan raya
Bekasi, pemandangan yang akan ditemui hampir sama dengan Tambun dan Cibitung –
Cikarang Barat, yaitu ruko, warung, rumah warga, pasar, pusat perbelanjaan dan
pabrik namun dengan nuansa yang lebih gersang hingga tiba di Karawang. Perbedaannya
adalah di wilayah ini masih banyak masyarakat yang menggunakan becak untuk
berpergian jarak dekat. Kalau mau cari taksi malah agak sulit, apalagi mencari
armada taksi burung berwarna langit. Taksi sering nampak di pertigaan lampu
merah Cikarang yang dekat dengan gerbang tol. Itu pun armadanya tidak familiar.
Jika
dilihat dari peta, jalan raya Bekasi sebenarnya sejajar dengan jalur rel kereta
api, jalan tol dan Sungai Kalimalang. Bermula dari Tambun, kemudian masing –
masing jalan semakin menjauh di Cikarang Barat. Apabila sedang naik kereta
jarak jauh, sempatkan melihat bagian Bekasi yang tidak terlihat di jalan utama.
Sawah masih terhampar meski kian tergerus pembangunan pabrik dan perumahan. Pembangunan
perumahan elit yang hanya jadi impian bagi buruh yang ke sana kemari tanda
tangan kontrak biasanya dibarengi dengan pembangunan gerbang tol sebagai akses
langsung masuk perumahan. Selanjutnya, tengoklah jalan di sisi Sungai
Kalimalang. Tak serusak dulu ketika masih diaspal, saat ini lubang sudah
berkurang karena pembetonan.
Baghasasi,
sebutan untuk daerah ini saat masa kerajaan dulu, memiliki kualitas jalan raya
yang terbilang semakin baik tiap tahunnya. Sayangnya, masih kurang
memperhatikan hak – hak pejalan. Lahan pedestrian acap kali termakan bangunan
warga. Terik matahari juga tak ada yang menghalangi. Membuat perjalanan
sepanjang jalan raya Bekasi terasa gersang, gerah dan membuat siapapun enggan
untuk melewatinya lagi. Tak seperti jika menyusuri kawasan Lippo Cikarang yang
hijau dan rindang bagi pejalan dan pembawa kendaraan. Padahal, Lippo Cikarang
adalah bagian dari Bekasi yang cukup beruntung dikelola oleh swasta. Semoga
pemerintah segera mewujudkan jalan raya Bekasi yang rindang dan semakin
tertata.
Catatan:
*Bekasi yang dimaksud adalah Kabupaten Bekasi.
cukup informatif..
BalasHapussering-sering posting dong mar hehehe...
iya diusahakan rutin, Van..
BalasHapusthanks ya :)
permisi mbak mau tanya, kalo dari stasiun bekasi ke pasar tambun naik angkutan apa ya??
BalasHapus