Jumat, 08 Februari 2013

Catatan Pendakian Tangkuban Perahu: Sebuah Pendakian Ilegal

Sunrise dari kaki Burangrang
Keindahan matahari terbit yang saya saksikan dari kaki Burangrang ini menumbuhkan keinginan untuk melihatnya dari posisi yang tepat. Sang surya akan terlihat lebih indah lagi jika kita berada di puncak gunung Tangkuban Perahu. Oleh karena itulah, duo ulet bulu ditemani Adit dan Kang Hadi, melakukan pendakian ke gunung yang sudah dikelola menjadi tempat wisata alam. 

Sebulan setelah mendaki Burangrang, saya dan Septia (tim ulet bulu) kembali melakukan perjalanan singkat di pertengahan Nopember tahun lalu. Berangkat siang dari Kp. Rambutan. Belum lama masuk tol, bus berhenti sekitar setengah jam karena air conditioner yang tidak berfungsi. Pantas saja panas sekali dari detik pertama duduk dalam bus ini. Kami diturunkan di tengah jalan tol daerah Pasir Koja. Kemudian, kami singgah di Cimahi sebentar untuk beristirahat. Kami menunggu angkot yang menuju Curug Cimahi cukup lama di daerah Pasar Atas. Sudah malam angkotnya jarang. Dari Curug Cimahi kami berjalan kaki menuju Parongpong sekitar 30 menit. Berhenti sejenak di Parongpong, kami menyusuri Villa Istana Bunga menuju Desa Sukawana. Sesampainya di Desa Sukawana, kami berhenti cukup lama di masjid desa itu. Kami sampai sekitar pukul 21.30. Kami memasak makan malam dan tidur sebentar untuk mengisi energi. 

Sabtu baru berjalan 45 menit. Kami sudah bersiap melakukan pendakian ke gunung bentukan dari perahu yang ditendang Sangkuriang. Begitu legenda yang saya dengar. Perjalanan dimulai melalui jalan yang dikelilingi kebun teh. Meski cukup landai tapi kami cukup berkeringat ketika memotong jalan melalui jalur untuk memetik pucuk daun teh. Jalur yang ini pendek namun cukup melelahkan. 

Jalur selanjutnya bukan lagi kebun teh. Kami memasuki hutan. Hutan yang sudah berjalur batu-batuan. Jalur ini biasanya dilintasi mobil yang mengarah ke tower yang ada di dekat puncak Tangkuban. Pendakian kali ini sangat santai mengikuti ritme tim duo ulet bulu yang memang lambat. Kami pun sampai di puncak sekitar pukul lima. Musim penghujan begini tidak bisa berharap banyak. Benar saja, kami ternyata belum bernasib baik. Mentari terhalang kabut dan awan. Sinarnya baru terpancar pukul enam. 

Mentari menyinari Tangkuban Perahu

Setelah mengabadikan pemandangan di ketinggian 2.084 mdpl, kami tidur sebentar dan mengolah sarapan. Rencananya sih ingin menikmati panorama matahari yang mulai menyembul dari ufuk timur sambil mengunyah pop corn. Apa daya, pucuk dicinta tapi ulam belum tiba. Agak siang, kami menuju pusat Taman Wisata Alam Tangkuban Perahu. Meniti pinggir Kawah Upas mendekati Kawah Ratu. 

Pop Corn: menu baru tim ulet bulu :D
Kawah Upas
Menuju Kawah Ratu jalannya cukup jelas dan terdapat penunjuk jalan. Juga terdapat tower untuk sinyal telepon. Di dekat lokasi tower, bertengger warung yang sayangnya waktu itu sedang tutup. Sedikit lagi sampai Kawah Ratu, kami membersihkan diri agar tidak terlihat seperti pendaki. Kalau ketahuan, kami bisa ditegur petugas dan diminta untuk membayar tiket masuk Rp 13.000. Kini, harga tersebut menjadi persoalan tersendiri terkait Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Lengkapnya bisa baca di sini. Kami sempat berpapasan dengan petugas yang sedang menyisir pengunjung yang akan ke Kawah Upas. Mungkin petugas takut pengunjung turun ke kawah. Saat itu, pengunjung tidak diperbolehkan turun ke kawah karena dikhawatirkan level belerang sedang membahayakan. Beruntungnya, mereka hanya menanyakan apakah ada orang yang ke sana dan tidak mencurigai kami sebagai pendaki. Kalau ketahuan, bisa repot. 

Dari Kawah Upas menuju Kawah Ratu
Kawah Ratu
Taman wisata alam yang terletak antara Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang ini ramai dikunjungi. Mungkin karena sedang akhir pekan. Ada rombongan yang datang dengan bus, mobil pribadi, kendaraan umum, dan komunitas motor yang sedang touring. Fasilitasnya cukup lengkap. Toilet yang bersih, musholla, pusat informasi dan oleh-oleh, juga tersebar kedai makanan untuk membungkam cacing-cacing dalam perut. Cuaca saat itu mendung. Sempat gerimis beberapa saat. Setelah berteduh, kami melanjutkan perjalanan menuju Kawah Domas yang terletak di kaki gunung. 

Kiri ke kanan: Saya, Septia, Kang Hadi, Adit
Jalur ke Kawah Domas merupakan tangga yang tersusun dari bebatuan. Di beberapa titik terdapat warung dan shelter untuk beristirahat. Di tengah perjalanan, kami merebus air untuk makan siang dengan mi instan. Racikan minumannya ala Septia yang terdiri dari Nutrisari, jelly dan stroberi yang dibeli ketika di parkiran tadi. Rasa masam dengan level yang berbeda namun cukup menyegarkan

Kawah Domas
Di Kawah Domas kami hanya mampir sebentar. Hari sudah semakin senja. Biasanya, para pengunjung merebus telur di kawah ini. Namun kami tidak. Cukup menikmati keindahan kawah dan hutan yang berada di sekitarnya saja. Meski belum bisa bertemu dengan matahari pagi, cukup puas bisa berwisata kawah di Tangkuban Perahu. Ilegal pula. Itu pula yang membuat perjalanan kali ini menantang dan menegangkan. :D

Terima kasih, Kang Hadi.
Terima kasih Adit yang bersedia ikut bersama tim ulet bulu. 
Semoga bisa bertemu dengan cerahnya mentari pagi di Tangkuban Perahu ya!
Maaf kalau ada kesalahan tindakan dan ucapan. 
Sampai bertemu lagi di pendakian selanjutnya!


Salam dari tim ulet bulu! :)
untuk Catatan Pendakian Burangrang bisa dibaca di sini.

2 komentar:

  1. widiiiiiih... asik tuh...

    btw, boleh tau g jalurnya kemana aja??
    krn saya sm temen" juga mau kesana
    tp dari lembang dan jalan kaki
    hehehe...
    biar g bayar juga gitu ^^



    thx

    BalasHapus
  2. kalau via Lembang kurang tau deh. Coba baca lagi paragraf kedua, saya taunya jalur yang itu.

    BalasHapus