Minggu, 18 Maret 2012

Catatan Perjalanan TN Baluran: Perjalanan Panjang Pertama

Perjalanan ini memang sudah setahun yang lalu, keinginan untuk menulisnya pun sudah sejak lama. Sayangnya tertunda terus. Perjalanan dengan rombongan berjumlah 12 orang yang terdiri dari saya dan 11 orang mahasiswa jurusan Pariwisata UI. Saya awalnya melihat linimasa teman SMA saya, Septia, yang gelisah karena ada tawaran perjalanan ke daerah Jawa Timur tetapi tidak ada satu orang pun perempuan yang ikut. Saya yang kala itu butuh jalan-jalan, akhirnya memberanikan diri ikut meski tidak tahu jelas tujuannya, yang penting liburan pikir saya. Informasi awal dari Septia adalah mau jalan-jalan ke Surabaya. Saya pikir ada apa di Surabaya, lumayan jauh juga ke sana. Ya nggak apa-apa lah, apapun destinasi wisatanya yang penting saya ga perlu mendekam di rumah dengan siklus makan-online-tidur-(kalo ingat) mandi.

Perjalanan ini cukup panjang buat saya bahkan yang terpanjang pertama, sekitar satu minggu, yaitu 19-25 Januari 2011. Kami menuju Taman Nasional Baluran yang terletak di Kabupaten Situbondo, Propinsi Jawa Timur, menggunakan kereta api. Sebagian rombongan yang terdiri dari saya, Septia, Ajung, Rury, Kadek, Ridho, Iyos, dan Roni, berangkat dari Stasiun Universitas Indonesia, menuju Stasiun Manggarai, dan berjalan kaki mencari Metromini yang ke arah Senen. Di Stasiun Senen sudah ada mahasiswi Pariwasata 2010 yang menunggu kami, yaitu Hana, Danit, Intan, dan Lica. Lengkap sudah kami berduabelas. Kami berangkat jam 9 malam menggunakan kereta ekonomi Progo menuju Stasiun Lempuyangan Jogja seharga 35 ribu. Sesampainya di Lempuyangan sekitar pukul 7.20 pagi dan melanjutkan perjalanan menggunakan kereta Sri Tanjung dengan harga yang sama menuju Stasiun Banyuwangi. Kami sempat terburu-buru karena waktu keberangkatan kereta Sri Tanjung hanya berselang 15 menit dari waktu kami sampai. Untungnya, kami bergerak dengan cepat. Berjam-jam lamanya kami ada di kereta, mulai tidur, ngobrol, bercanda, komen sana-sini, sampai bingung mau gimana lagi. Pelajaran berharga: bawa mainan atau apapun yang bisa menghabiskan waktu selama perjalanan. Kami sampai di Stasiun Banyuwangi sekitar pukul 23.30. Satu hari lebih!

Kami meredam amuk cacing-cacing yang sudah demo semenjak di kereta dengan makanan yang murah meriah di stasiun. Malam-malam masih ada yang berjualan sate ayam dan sepaket nasi-ayam-mi goreng-telor. Selesai santap tengah malam, beberapa dari kami ada yang berbelanja di mini market terdekat dan sebagian tawar-menawar harga sewa angkutan umum menuju Taman Nasional Baluran. Akhir negosiasi kami berada pada harga 130 ribu. Di pos penjagaan Taman Nasional Baluran, kami disarankan untuk beristirahat terlebih dahulu di musholla supaya pagi nanti bisa meneruskan perjalanan dengan penuh energi. 



Bangun paling pagi sangat menyenangkan karena bisa mandi lebih dulu dibanding yang lain. Jumat pagi yang cerah, Bapak Project Officer (sebutan dari saya) alias kepala rombongan, Rury, memutuskan untuk berjalan kaki sejauh 12 km menuju savana Bekol. Dengan bangga dia berkata, "Biar ada esensinya!". Kami pun seturut kehendaknya. Beberapa kali ada mobil pick up yang menawarkan tumpangannya menuju Bekol tetapi dengan berat hati kami tolak untuk merasakan esensi perjalanan ini. Jalan menuju Bekol memang sudah diaspal meski beberapa bagian sudah ada yang mengalami kerusakan. Memang pilihan yang tepat untuk tidak menumpang pick up karena sepanjang perjalanan kami dapat melihat burung, kupu-kupu, monyet, rusa, dan berbagai vegetasi tanaman yang beraneka ragam.


Perjalanan yang dimulai sekitar pukul 9 berakhir pukul 4 sore di savana Bekol. Perjalanan yang santai tetapi cukup melelahkan. Beberapa kali istirahat untuk minum bahkan sempat tidur sebentar di jalan. Di Bekol kami menyewa penginapan yang berisi tiga kamar (per kamar dua tempat tidur) dengan satu kamar mandi seharga 250 ribu. Di Bekol banyak monyet yang berkeliaran dengan bebas, mesti hati-hati meletakkan barang di luar kamar. Untuk menghindari monyet, kami pun memasak makan malam di dalam kamar. Tanpa disangka ada tokek yang keluar dari persembunyiannya, kegiatan masak-memasak tertunda akan kehadirannya. Kami berusaha mengusir tokek dengan berbagai cara hingga ia mau keluar dari kamar. Masak-memasak pun dilanjutkan, yang lain beres-beres dan membersihkan diri. Seusai makan malam, kegiatan kami adalah main UNO dan wisata malam untuk melihat binatang-binatang yang keluar pada malam hari. Untuk yang wisata malam dibagi beberapa kloter karena harus ada yang menjaga penginapan. 

Savana Bekol


Pagi-pagi sekali, subuh lebih tepatnya, kami bergegas menuju Pantai Bama untuk menikmati panorama matahari yang terbit di ujung paling timur Pulau Jawa. Jarak Bekol dengan Pantai Bama sekitar 2 km dengan jalan yang jelas namun berbatu-batu. Kicau burung mengiringi langkah kaki kami. Perjalanan 12 km plus 2 km tidak lagi terasa berat ketika melihat keindahan pantai dan pemandangan matahari terbitnya. Sungguh indah ciptaan Yang Kuasa! Puas menikmati matahari terbit, tinggal bingung yang tersisa karena di Bama juga banyak monyet berkeliaran. Kami ingin memasak untuk sarapan sekaligus makan siang. Beruntungnya, terdapat ruangan yang dapat kami pakai untuk memasak. Beberapa fasilitas seperti penginapan dan perahu untuk snorkeling sudah ada di sini. Kami sendiri mendirikan tenda di pinggir pantai. Malamnya ternyata ada beberapa anak SD yang melakukan study tour dan praktek menggunakan bahan kimia dan serangga. Kami menikmati malam dengan memandangi langit yang terhampar bintang. Malam yang seru sekali!

Sunrise di Pantai Bama
Kami berencana pulang Sabtu sore. Beberapa dari kami yang bangun pagi berjalan-jalan menyusuri pinggir pantai dan menemukan dermaga yang sudah tidak terpakai lagi dan dikelilingi oleh pohon bakau. Pagi-pagi pantai pun masih surut tetapi ketika siang airnya begitu jernih sehingga kita bisa melihat ikan-ikan kecil yang berenang di tepian. Pasirnya pun putih dan mataharinya pun tidak terlalu terik. Apabila ke sebelah kiri pantai terdapat karang-karang besar berwarna hitam tempat banyak ikan berkumpul.



Pantai Bama




Hampir lupa memberitahu, tiket masuk ke Taman Nasional Baluran ini 1.250 rupiah saja. Kami yang mendirikan tenda membayar biaya kebersihan sebesar 44 ribu. Sabtu sore kami berkemas menuju Stasiun Banyuwangi menggunakan mobil pick up sewaan dengan biaya 250 ribu. Kereta baru ada malam hari sepertinya, saya lupa, maaf ya. Entah di perjalanan berangkat atau pulang, kami sempat menghirup asap dari Semeru. Fenomena ini malah dijadikan lahan usaha dengan berjualan masker. Kami sampai di Stasiun Lempuyangan malam hari dan menginap satu hari karena kereta ke Jakarta baru ada esok harinya. Beberapa jam kaum adam mencari-cari penginapan murah di sekitaran stasiun dan sisanya menunggu di dekat kedai makanan. Akhirnya dapat juga penginapan yang murah meski tidak semua tidur di kasur. Malam harinya kami kembali wisata malam di sepanjang Malioboro. Siangnya kembali jalan-jalan mengunjungi beberapa tempat wisata yang ada di sekitar Malioboro seperti Keraton dan Pasar Beringharjo. Sayangnya, saya lupa mencatat dengan detail rincian biaya selama di Jogja. Sekitar jam 4 sore kami bersiap-siap menuju ibukota, kereta kami menunggu pukul 4.30. Kami berjalan kaki dari penginapan menuju Stasiun Lempuyangan yang ternyata jaraknya cukup jauh. Selama perjalanan pulang kami lebih banyak terlelap dan tanpa terasa sudah sampai Stasiun Senen Selasa dini hari.

Terima kasih saya ucapkan untuk seminggu perjalanan dan kebersamaannya! What a nice trip! Foto-foto yang ada merupakan hasil jepretan dari kami semua anggota rombongan perjalanan karena terdapat kamera dslr yang berpindah-pindah tangan. hehe. Fyi, tidak satu orang pun dari kami yang pernah ke Baluran. Perjalanan ini, mulai dari itinerary, alat transportasi sampai bahan konsumsi, disiapkan dengan baik oleh Rury Dermawan (kini resmi menjadi anggota MAPALA UI 2012) dan kawan-kawan. I'm waiting for another trip, guys! :) 

oia, catatan perjalanan ke Baluran ini juga sempat dipublikasikan Septia di Kaskus dan bahkan menjadi Hot Thread! Untuk membaca catatan perjalanan versi Septia bisa dilihat di sini 

 

9 komentar:

  1. halo gue dan temen2 gue berencana liburan ke Baluran juga pas liburan semester ini..mau tanya kira2 habis budgetnya berapa selama 1 minggu?

    BalasHapus
  2. berangkatnya dari mana ya? berapa orang? semakin banyak orang semakin murah. coba kalkulasiin aja dari harga-harga yang udah gw cantumin. kemaren gw ber-12 sekitar 500ribuan lah. cuma itu kalo di Jogja ga pake belanja-belanja hehe

    BalasHapus
  3. mar, kalo orangnya makin dikit makin mahal ya biayanya. kalo gue jalan kesana abis lebaran besok cuacanya kira2 oke gak ya?

    BalasHapus
  4. iya makin dikit makin mahal kalo untuk hal-hal yang barengan kayak penginapan sama sewa angkot.

    emang bagusnya musim panas, gas. savananya nanti lagi kuning gitu :)

    BalasHapus
  5. waaah mantep banget ceritanya hehehe ... ko jadi kepengen jalan lagi yaa :P
    parah parah parah .... hahahaha

    BalasHapus
  6. Wah bagus sekali kisah perjalanannya.. kerennn...

    BalasHapus
  7. kalo di baluran boleh bwt camp sendiri ga,,,jadi ga pake bayar penginapan???di pesisir pantai bama nya mbak maria,,gmana???hehe...salam kenal...

    BalasHapus
  8. sebenernya nggak boleh camp, Mas. cuma waktu itu saya sama teman-teman menginap dulu di Bekol biar besoknya berbarengan anak-anak SD yang study tour di Bama.. jadi ada alasan untuk ga sewa penginapan di sana, soalnya memang ga dianjurkan buat tenda.. monyetnya banyak sekali, suka ambil barang-barang dan bisa masuk tenda juga kalau tendanya terbuka..

    BalasHapus
  9. jadi ga boleh camp di Pantai Bama mbak ?
    di sekitar situ ada penginapan tidak ?
    terimakasih

    BalasHapus