Minggu, 27 Januari 2013

Catatan Perjalanan: Berkemah di Ranu Kumbolo



Ranu Kumbolo
Penampakan danau dikelilingi bukit sepertinya sudah tidak asing lagi di kalangan pendaki. Terlebih setelah rilisnya film 5cm. Para penonton tergiur untuk mencicipi rasanya naik gunung, meski pada kenyataannya tak semudah apa yang mereka saksikan di layar lebar. 

Semeru mungkin jadi impian bagi semua penggiat naik gunung. Menjejakkan kaki di tanah tertinggi Jawa. Begitu juga saya. Apa daya, keinginan untuk mencapai Mahameru tertunda karena beberapa hal. Akhirnya, berkemah di Ranu Kumbolo menjadi pengobatnya. 

Seorang teman mengajak untuk mengisi liburan dengan ikut pendakian massal ke Semeru. Acara ini digagas oleh pecinta alam Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang, KSG Social Adventure Club (KSG SAC). Tarifnya Rp 199.000 untuk transportasi, makan satu kali, simaksi dan kaos peserta. Sempat ingin mendaftar sendiri tetapi kuota sudah penuh. Mungkin belum waktunya. Beberapa hari sebelum keberangkatan, teman saya mengabarkan ada dua orang dari rombongannya yang batal ikut. Saya pun mengiyakan untuk menggantikan. Kabar yang mendadak ini cukup menyulitkan. Peralatan belum lengkap, belum latihan fisik dan belum punya tiket ke Semarang. Akan tetapi, kesempatan tidak datang dua kali. 

Dwi Uli, rekan yang mengajak saya ikut rombongannya, malah memutuskan untuk tidak ikut karena kurang enak badan. Pembatalannya tepat ketika saya jemput dia untuk berangkat bareng ke Stasiun Senen. Saya pun berangkat sendiri. Selasa, 28 Agustus 2012, bersama tiga orang lainnya yang baru saya kenal secara langsung, beranjak ke Semarang dengan Tawang Jaya. Kereta ekonomi yang berakhir di Stasiun Poncol ini membebankan penumpang dengan biaya Rp 33.500. 

Matahari sudah tidak malu-malu saat kami sampai hari Rabu. Cukup terik, padahal masih 6.35. Bersama Kevin, Astri dan Bang Bule, sampai juga di ibukota Jawa Tengah. Tiket pulang Kevin dan saya sudah aman. Astri dan Bang Bule mengantri untuk kepulangan mereka. Cukup lama berdiri, di loket mendapat kabar buruk. Tiket Tawang Jaya untuk 3 September 2012 ludes. Mereka pasrah. 

Kami pun beranjak menuju basecamp KSG-SAC. Dari stasiun, naik angkot oranye menuju Kretek Besi seharga Rp 5.000. Dilanjutkan dengan angkot berwarna sama, Rp 2.500. Pukul 08.30 kami sampai dan langsung melahap sarapan di sebuah warteg. Sempat tersesat. Dikarenakan orang yang kami tanya di mana alamat yang tertera di surat-surat pendakian massal memberikan petunjuk yang salah. Sesampainya di basecamp, kami disambut hangat oleh panitia. Rombongan masih belum lengkap, Hadi dan Puspi masih dalam perjalanan menuju Unnes. 

Kami dipersilakan beristirahat. Keberangkatan rencananya malam menjelang pergantian hari. Agenda lainnya seperti pengecekan berkas, pembagian kaos, dan briefing dilaksanakan selepas maghrib. Rencana tak semulus yang diharapkan. Kendala teknis menghadang. Akhirnya peserta berangkat 11 jam kemudian dari perencanaan. Kamis siang, 30 Agustus 2012, kami menuju Tumpang, Malang. Perjalanan bus selama 12 jam, termasuk berhenti untuk istirahat di Rembang. Balai Rakyat Tumpang, kami datang! 

Bus berhenti di Tumpang pada permulaan hari, pukul 00.00. Peserta dipersilakan untuk berbelanja logistik sebelum berangkat subuh nanti. Sepertinya, yang berbelanja ke pasar hanya rombongan kami. Menunya daging, kentang, dan sop. Seluruh peserta dipecah menjadi beberapa tim. Tiap tim berlaku untuk satu jeep. Harga jeep dari Tumpang - Ranu Pane berkisar Rp 30.000 - Rp 35.000 per orang.  

Gambar 1. kiri ke kanan: Saya, Bang Bule, Kevin, Hadi, Puspi, Astri.
Menjelang jam 06.00, jeep saya berangkat. Menembus dinginnya Malang, melewati ladang-ladang. Jalan menuju Ranu Pani tak semulus harapan, berlubang di banyak bagian. Namun, semua itu terbalaskan. Pemandangan sepanjang jalan tak boleh dilewatkan. Satu jam untuk bisa tiba di desa terakhir di ketinggian 2.200 mdpl. Simaksi Rp 5.750 untuk pelajar dan Rp 7.500 untuk umum. Semua sudah ditangani oleh panitia. 

Sambil menunggu peserta lainnya, perut ini dibekali rawon (Rp 8.000) dan teh hangat (Rp 2.000). Sempat berbincang dengan pendaki yang sudah muncak. Mereka bilang, ramai sekali di atas. "Dari Kalimati sampai puncak saja ngantri. Belum lagi jalurnya yang berpasir.", ungkap mereka. Pukul 09.00 semua peserta pendakian massal berangkat. Setapak demi setapak menyusuri jalur yang telah disediakan. Jalur menuju Ranu Kumbolo jelas dengan susunan paving block dan petunjuk jalan. 

Ketika berpapasan dengan pendaki lain, pasti saling bertegur sapa. Memberikan semangat dan berbincang singkat. Hangat. Sulit ditemukan di kota yang penduduknya padat. Lelah seakan menguap. Tempo perjalanan cenderung lambat. Memang kurang persiapan. Singgah di beberapa pos cukup lama. Waktu juga tersita saat menemukan spot bagus untuk diabadikan. Lelah lebih cepat menguap saat hamparan air di hadapan mata. Sejuk seketika. Sayang, masih harus berjuang beberapa saat lagi menuju shelter dan tempat berkemah. 

Danau di ketinggian 2.400 mdpl sukses memikat hati. Seluruh anggota rombongan saya hampir tidak ada yang ingin ke Mahameru. Hanya Kevin dan saya yang ingin sekali berdiri di 3.676 mdpl. Saya sadar diri, jalan ke danau ini saja lama, 5,5 jam. Pendakian massal pula, pasti lebih ramai daripada kemarin, seperti yang diceritakan di Ranu Pani tadi pagi. Saya pun urung. Kevin ikut dengan panitia. Rombongan kami akhirnya berkemah dua hari di danau terindah yang pernah saya lihat. 

Ranu Kumbolo
Mengakhiri Agustus dan mengawali September dengan berkemah. Berkemah dengan latar pemandangan danau yang terbentuk karena letusan gunung Jambangan. Kawahnya memadat dan membuat air tertampung. Bukit yang mengelilingi ranu ini memperindah suasana. Membuat siapapun betah. Rasanya tidak ingin pulang. 

Jumat sore kami mendirikan tenda sementara peserta lainnya berjuang ke Mahameru. Mereka akan beristirahat di Kalimati. Sekitar pukul 23.00, pendakian yang sesungguhnya dimulai. Sabtu siang mereka kembali ke Ranu Kumbolo dan esok paginya ke Ranu Pani. 

Saya menghabiskan Sabtu berkeliling ranu. Matahari enggan muncul kala pagi, cukup gelap dan berkabut. Semakin siang, kabut pun hilang. Siang sampai sore diisi dengan mengambil gambar, jalan-jalan, bincang-bincang dengan pendaki lain, mendengarkan musik dan tidur siang. Sorenya berjalan ke Oro-Oro Ombo, padang ilalang yang menghubungkan Ranu Kumbolo dengan Kalimati.



Peserta yang dari Kalimati perlahan-lahan kembali. Ada yang sukses dan ada yang belum bernasib baik. Kevin pun hanya sampai Kalimati. Ia tidak meneruskan ke puncak karena kelelahan. Tim sudah kembali lengkap. Kami jalan-jalan sore ke Ayek-ayek. Bagian Ranu Kumbolo yang dekat dengan pos 4. 

Malamnya purnama. Indah sekali. Namun, tubuh saya menggigil pada dini hari. Banyak kabar beredar, suhu semalam itu 5-0 derajat celcius bahkan sampai -2 derajat. Entah mana yang benar. Di papan petunjuk, suhu minimal bisa mencapai -5 sampai -20 derajat celcius. 

Ranu Kumbolo menyuguhkan pagi yang dramatis. Cahaya matahari berbalut kabut tipis. Tidak seperti kemarin, hari ini membuat saya sekejap melupakan kedinginan semalam. Warna-warni tenda menambah semarak pagi. 
Pagi di Ranu Kumbolo

Tenda
Logistik hampir habis. Mau tidak mau meninggalkan tempat yang begitu eksotis. Seluruh peserta berpisah dengan Ranu Kumbolo. Di depan, Ranu Pani menyambut kedatangan dengan hardtop yang sabar menunggu. Jam 14.00 sampai di  pos pendakian. Satu jam berikutnya saya diangkut menuju Tumpang. Balai Rakyat yang menampung kami, kamar mandinya tidak ada air. Padahal saya butuh bersih-bersih karena paginya saya baru datang bulan. Perjalanan juga masih panjang ke Semarang. Saya berinisiatif cari kamar mandi di sekitar Balai Rakyat. Akhirnya, dapat juga di puskemas yang lokasinya tidak terlalu jauh. Ketika kembali, peserta sudah bersiap-siap memasuki bus. Bus hanya mengantarkan sampai Surabaya karena suatu hal. Di sana, kami pindah bus. Tiba di basecamp KSG-SAC Unnes Senin pagi, pukul 5.40. Puspi, Hadi, Astri dan Bang Bule bergegas ke suatu tempat di Semarang karena ada urusan. Kevin beristirahat di kosan temannya yang mahasiswa Undip. Tinggal saya sendiri. Saya mau beristirahat dulu. Siangnya ke Kendal dan sore baru ke Stasiun Poncol.    

Tanpa terasa, hari-hari telah berlalu. Bertemu dengan orang-orang baru. Berbagi kisah tentang pendakian. Bersama menikmati keindahan alam yang diciptakan-Nya. Bersyukur. 
Terima kasih untuk rombongan yang telah menerima saya tanpa ada Dwi Uli. 
Terima kasih Kevin, Astri, Bang Bule, Puspi, dan Hadi.  Juga Uli yang sudah menceburkan saya ke dalam rombongan! Hehe
Terima kasih untuk panitia dan anggota KSG-SAC Unnes yang telah membuat acara ini lebih dari sekedar menarik! Terima kasih atas sambutan hangat dan tulus kalian :)
Terima kasih untuk segenap peserta pendakian massal Semeru dan teman-teman pendaki lain yang saya temukan sepanjang perjalanan ini. 
Maaf kalau ada kesalahan ucapan dan tindakan.. 
Semoga saya bisa menjejakkan kaki di Mahameru! Amin!

Teruslah melakukan pendakian!

Cheers! 




Catatan tambahan: 
kebetulan saya memiliki teman yang bisa memandu jika ada yang ingin diantarkan ke Ranu Kumbolo / Bromo. Bisa menghubungi Azhar di 082139829415. Semoga membantu :)

4 komentar: