Senin, 06 Agustus 2012

Catatan Perjalanan Pendakian Papandayan: Menikmatinya Tanpa Mencapai Puncak

Sudah dua teman saya yang ke Gunung Papandayan, keduanya teman perjalanan ketika saya mendaki Gunung Pangrango. Saya diajak oleh salah satu teman untuk ke sana tetapi sedang tidak bisa. Hasrat untuk melakukan pendakian begitu menggebu-gebu hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk merencanakan perjalanan. Ya, selama ini saya hanya menjadi anggota perjalanan saja. 

Googling dan bertanya ke sana kemari tentang gunung sudah saya lakukan. Persiapan seperti, membuat itinerary perjalanan beserta ongkos-ongkosnya, angkutan yang akan dinaiki serta tempat-tempat transit menuju lokasi juga saya lakukan. Sempat kelimpungan karena setelah mengajak beberapa teman, yang mengiyakan hanya perempuan saja, yaitu Rahmi Widya (Ami), Septia Eka Irawan (Septia), dan Sri Indah Suryani (Indah). Orang tua gadis-gadis ini tidak mengijinkan anak perempuannya naik gunung jika tidak ada laki-laki yang mendampingi. Datangnya penyelamat di H- 2, Satria Eka Permana (Eka) akhirnya mengkonfirmasi diri untuk ikut perjalanan ini. 

Alat-alat juga minim. Cari pinjaman tenda sulit sekali. Hasil observasi saya, Papandayan bisa didaki beberapa jam sehingga bisa naik turun dalam satu hari, tidak perlu camping. Saya putuskan untuk tidak camping akhirnya. Perlengkapan yang dibawa hanya kompor, flysheet, ponco, matras, sleeping bag, hi-cook, nesting, dan makanan minuman. 

Kami berangkat dari Kp Rambutan, Jumat, 29 Juni 2012. Naik bus ke Garut sekitar pukul 21.30 seharga 35 ribu rupiah per orang. Pilihlah bus yang lewat Tol Cipularang karena ada beberapa bus yang lewat Puncak yang membuat waktu tempuh lebih lama. Pukul 02.00 kami sampai di Terminal Guntur. Dalam catatan saya, kami bisa sewa angkot atau pick up  ke Simpang Cisurupan. Beruntungnya, subuh itu ada elf yang melewati tempat tujuan kami hanya dengan 10 ribu rupiah saja dalam waktu 30 menit. Padahal, kalau pakai angkutan yang saya catat, bisa merogoh kocek hingga 20 ribu rupiah.

Dingin perlahan mulai merasuk tulang. Di Simpang Cisurupan sudah ada pick up yang siap mengantarkan para pendaki. Tawar menawar, finalnya 80 ribu rupiah untuk 5 orang penumpang. Ternyata kami diberangkatkan bersama dengan rombongan lain dari Cikarang-Karawang. Tidak apa-apalah, kami malah bisa bersenda gurau selama perjalanan yang beratapkan bintang dan diringkus angin malam. 

Selama setengah jam, jalan rusak, ilalang, pendar cahaya rumah penduduk, dan pepohonan tinggi besar mengiringi pick up yang kami tumpangi. Pick up pun sampai di pelataran Pos Pendakian Papandayan pukul 03.20. Saya segera lapor ke pengurus pos dan mohon ijin untuk istirahat di musholla. 

Musholla yang beralaskan ubin membuat hawa yang dingin semakin dingin. Matras yang hanya dibawa Eka dan saya, kami gelar. Rombongan tetangga malah sibuk memasak air untuk seduh-seduh minuman. Kami berlima hanya bisa menggigil kedinginan. Saya tidak menyangka kalau sampai sedingin ini, mungkin karena sudah menjelang pagi juga ya. Beberapa gunung lain yang pernah saya daki, pos pendakiannya tidak seekstrim ini dinginnya. 

Kami beristirahat sampai mentari menyapa. Empat rekan lainnya menjalankan kewajiban agama mereka sambil merutuki hawa yang sukses bikin gigi gemurutuk. Hanya saya dan Eka yang akan bawa carrier, tas sisanya dititipkan di pos. Isi carrier juga hanya gabungan makanan dan minuman semua anggota, flysheet, hi-cook, kompor, ponco, dan matras. 

Packing selesai, kami bergegas menuju pos pendakian. Tiket masuk 2 ribu rupiah dan sumbangan seikhlasnya. Penjaga pos menjelaskan rute-rute yang akan kami lalui, saya sendiri agak bingung sih. Melalui foto-foto yang saya browsing sebelumnya dan minta penjelasan teman-teman yang sudah pernah ke sini, saya yakin saja. Musim panas begini kan musim pendakian, pasti banyak yang akan mengunjungi gunung ini. 

Sebelum memulai perjalanan, kami pemanasan dan berdoa untuk kelancaran aktivitas hari ini. Deg-degan juga saya, karena saya yang tercatat sebagai ketua rombongan ini. Belum lagi, Ami dan Indah baru pertama kali naik gunung. Eka sudah lama tidak naik gunung, Septia terakhir muncak ketika masih seragam putih abu-abu. Well, all I have to do is believe; believe we can do, believe God will always with us. 

Kawah Papandayan
Perjalanan pun dimulai. Kami disambut dengan kawah putih yang begitu luas dan mengepulkan asap dengan bau yang tidak sedap. Saya mengingatkan semuanya untuk memasang masker. Di kawah ini jalurnya agak membingungkan, petunjuk dari petugas pos menyuruh kami mengikuti jalur motor. Jalur motor yang mana ya, motornya juga tidak tampak. 

Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan seorang bapak yang membawa jerigen, saya pun berbincang-bincang dengan bapak tersebut. Beliau juga akan menuju Pondok Salada, kami pun mengikuti jejak langkah bapak tersebut yang cukup cepat. Sambil berjalan, kami mengabadikan keindahan alam yang kami jumpai. Saat kami mengambil gambar, terdengar raungan knalpot dari bawah. Ada dua buah motor yang berusaha keras melewati kawah berbatu ini. Berani sekali orang-orang ini, pikir saya. Fenomena ini pun tidak luput dari jepretan kamera. 


Tanpa kami sadari, bapak pembawa jerigen sudah jauh mendahului kami. Sempat bingung ketika ada persimpangan. Di tengah kebingungan kami, ada seorang pemuda yang menunjukkan jalan. Kami pun mengikutinya. Ternyata jalur asli setelah kawah terputus, sehingga kami ambil jalan agak ke kanan melewati sungai. Kemudian, naik sedikit untuk kembali ke jalur aslinya dengan tebing menjulang di sisi kiri. 

Di dalam perjalanan menuju Pondok Salada, kami bertemu dengan rombongan mahasiswa pecinta alam Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Gandewa dan serombongan bapak dan mas-mas dari suatu perusahaan yang saya lupa namanya. 

Tidak terasa, sampailah kami di Pondok Salada pukul 9.20. Istirahat cukup lama di tempat ini untuk kunyah crakers dan mengendurkan otot. Hijaunya rumput dan pepohonan, sejuknya udara yang kami hirup membuat kami betah berlama-lama di sini. Puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju Hutan Mati. Belum jauh kami melangkahkan kaki, Anaphalis Javanica yang indah menyambut kami. Perjalanan pun tertunda untuk sesi foto-foto dengan bunga abadi ini.

Edeleweiss Pondok Salada menuju Hutan Mati

Untuk mencapai Tegal Alun, bisa melalui Hutan Mati atau jalur air di sebelah kanan. Rombongan kami melalui yang jalur yang pertama. Cukup lama kami berada di pohon-pohon yang sudah tidak berdaun ini dengan tanah yang memutih karena terkena letusan di tahun 2002.

Hutan Mati

Dari kiri ke kanan: Septia, Ami, Indah, Eka

Setelah Hutan Mati, jalur selanjutnya memasuki hutan yang cukup landai. Setelah beberapa lama berjalan, tibalah kami pada jalur yang cukup terjal dan melelahkan. Sering sekali kami istirahat sejenak di jalur ini. Beberapa sudah mulai mengeluh. Sisanya terus memberi semangat. Naik gunung memang sebuah perjuangan menaklukan diri sendiri.

Kami berharap langsung sampai puncak karena jalur yang begitu terjal. Tetapi, setelah jalur terjal kami malah mendapat bonus perjalanan dengan hutan trek datar. Di ujung hutan tersebut, terbentang luas padang edelweiss dengan bunga yang sedang bermekaran... Kami semua terkagum-kagum dengan ciptaan Yang Maha Kuasa. Indah tak terperi. 

lebatnya bunga abadi  di Tegal Alun

Tegal Alun menghampar di hadapan mata kami, dengan bukit-bukit yang mengelilinginya.. Lelah kami hilang dalam kecepatan cahaya. Kami berteduh di bawah pohon dari teriknya matahari. Pukul 11.10 di jam saya ketika kami sampai di sini. Masak memasak pun dimulai. Dari memasak air panas untuk membuat kopi, teh, dan energen. Bahan makanan yang kami olah hanya mi instan, maklum perjalanan singkat. Camping selanjutnya bakal bawa makanan yang enak deh :)

Makan usai, kami beres-beres dan membersihkan sampah. Jangan lupa untuk membawa sampah untuk di buang di bawah ya (tempat sampah dekat pos informasi). Sesi pemotretan pun dimulai lagi. Waktu terus berjalan, pukul 13.00, kaki ini beranjak dari padang yang menawan ini. Kami tidak lanjut ke puncak karena petugas pos menyarankan kalau mau ke puncak Papandayan, 2665 mdpl, setidaknya sudah ada anggota rombongan yang pernah ke sana. Sayangnya, kami semua baru pertama kali menjejakkan kaki di Papandayan. 

Perjalanan pulang selalu lebih cepat, 13.45 sudah sampai di Pondok Salada. Transit sekitar 20 menit di area ini. Tampak beberapa tenda yang sudah berdiri. Ada sejumlah anak yang bersantai di pohon dengan menyangkutkan sarung sebagai hamock atau ayunan mereka. Seru sekali sepertinya.


Pondok Salada

Hari semakin sore. Kami bergegas menuju pos informasi. Di kawah kami kembali bingung mana jalur yang harus kami lalui. Selama kami mencari jalur, ada seorang bapak dari arah berlawanan. Itulah jalur yang kami cari. Kami terlalu ke kiri, jalurnya adalah di tengah agak ke kanan, bersisian dengan pinggir kawah.


Istirahat sebentar sebelum sampai pos informasi :)

Sepertinya baru tadi pagi kami ada di sini, jam 16.30 sudah kembali lagi di sini. Sore itu tampak keluarga-keluarga yang menyambangi gunung wisata ini. Ada acara perusahaan sepertinya. Berganti-gantian kami membersihkan diri dan packing barang bawaan. Gawat, tidak ada pick up! Beberapa orang menawarkan kami untuk naik ojek, agak mahal dari pick up harga awalnya. Ujung-ujungnya kami membayar 15 ribu rupiah per orang untuk sampai ke Simpang Cisurupan.  

Masih ada angkot di jam maghrib. Angkot putih membawa kami ke Terminal Guntur dengan biaya 6 ribu rupiah. Sesampainya di terminal, kami tidak langsung naik bus tetapi terlebih dahulu mengisi perut kami yang belum diisi nasi sejak pagi. Septia ternyata mengundang temannya orang Garut, yang biasa dipanggil Kakang, untuk mendatangi kami di warung nasi goreng dekat terminal. Kakang menawarkan diri untuk membelikan kami oleh-oleh khas Garut di suatu tempat entah di mana karena menurutnya oleh-oleh yang dijual di terminal belum tentu enak dan bahkan lebih mahal. Ia dan Septia yang membelikan pesanan kami. Banyak yang memesan Brodol alias Brownies Dodol. Termasuk saya yang memesan untuk ayah dan ibu di rumah. Enak! Silakan dicoba kalau sedang mampir ke Garut. 

Semakin malam, kami sudah harus berangkat pulang. Bus Karunia Bhakti menuju Jakarta sudah menunggu kami. Sepanjang perjalanan, kami tertidur nyenyak karena kelelahan dan tau-tau saja sudah dekat dengan tujuan. Septia turun di jalan tol bagian Bekasi agar lebih dekat ke rumahnya dan sisanya di Pasar Rebo dan Jalan Baru dekat Kp Rambutan. Saya dan Indah menginap di rumah Ami karena sudah terlalu dini hari untuk ke kostan kami di Depok, pukul 1.30 waktu itu. Hari sudah berganti lagi. 

Terima kasih Papandayan atas pemandangannya yang luar biasa..
Terima kasih Kakang yang bersedia membelikan kami oleh-oleh..
Terlebih lagi terima kasih Septia, Ami, Indah, dan Eka yang sudah mempercayakan saya pada perjalanan ini. Maaf ya kalau masih banyak kekurangan dalam perjalanan kali ini..


See you guys in another trip ;)

oia, ada cerita perjalanan versi Indah di sini. Silakan dinikmati!


catatan:
Jika ada yang berminat untuk diantarkan ke Papandayan, bisa menghubungi Septia di 081293202808 untuk jadi guide teman - teman sekalian. 
(diedit 9 November 2013)

16 komentar:

Sri Indah Suryani Harahap mengatakan...

Good review, Mariaaa. Horeeeee gue udah pernah naik gunung.... Hahaha :D

Maria Anastasia Wardani mengatakan...

September ada rencana naik gunung lagi nih. ikutan yukk! :)

dilis mengatakan...

wah..bs ikutan gabung mba,semeru yuk oktober...september mo kemana?

Maria Anastasia Wardani mengatakan...

Semerunya sampai puncak, Mbak? akhir Agustus kemarin aku baru ke sana tapi cuma sampai Ranu Kumbolo, kurang latihan fisik.

September ke Gede aja, Mbak :)

Adrian AYZ mengatakan...

keren mbak reviewnya, ada rncana naik gunung lagi ga mbak? klo ada mau ikutan donk :P salam kenal btw :) saya Adrian, mahasiswa masih :)

Maria Anastasia Wardani mengatakan...

untuk dekat-dekat ini belum ada.. soalnya kemarin ke Lawu ditutup karena cuaca ekstrim.. agak kapok juga pendakian di musim hujan..

kalo mau pendakian dan belum ada teman, coba mention ke @infogunung atau @infopendaki aja.. siapa tau dapet barengan.. atau follow saya juga boleh @mariaanastasiaa, kadang suka ngajak via tweet kalo butuh teman pendakian.. salam kenal juga yaa :)

Mella Kurniawati mengatakan...

Mei yuk mba, double M , InsyaAllah :))

asri nuraeni mengatakan...

wow...keren nih mba infonya..
Salam gunung..:)

Januar mengatakan...

gw baru turun lagi dari papandayan kemarin tp edelweiss nya belum mekar :(

Maria Anastasia Wardani mengatakan...

terima kasih :)
salam lestari

chemistryofray mengatakan...

Hai Mba Maria,

Iseng liat review ke Papandayan, karena 28 besok mau kesana, hehe. Tapi Mba Maria dah sampe Puncak apa ngga? Soalnya besok juga mau rombongan tapi belum pernah ada yang ke Puncak :(

Maria Anastasia Wardani mengatakan...

Hai :)
saya nggak sampe puncak, cuma sampe Tegal Alun aja.

Rini Mawarti mengatakan...

bagus banget reviewnya :)
tgl 27 juni insyaAllah aku mau sampe puncaknya, amin
makasih ya mba maria, jadi termotivasi :)
tahun kemarin aku juga udah sampe ke puncak gede loh :)

rinny mathilda mengatakan...

Good review jd tmbh semangat,16 agust ini rencananya Tuhan ijinkan mo ke papandayan:)

Kanda Alghaniy mengatakan...

Hmmm , ada rencana mau kesana .. Tapi track nya bikin nyasar ya kayaknya :) .. Nice sharing kak ..

BUKAN MEREKA TAPI SAYA mengatakan...

Salam lestari..
Kalian Luar biasa..
Salam kenal Kami Siliwangi Adventure..

Poskan Komentar