Januari kemarin, tepatnya 24-31 Januari 2012 saya melakukan perjalanan ke daerah paling barat dari Pulau Jawa. Saya tidak sendirian, bersama peserta dan panitia dari Lost in The Exotic Adventure of Ujung Kulon yang totalnya sekitar 50 orang. Panitia acara ini berasal dari Kamuka Parwata (KAPA), sebuah organisasi pecinta alam Fakuktas Teknik Universitas Indonesia.
Saya mengetahui acara ini dari seorang teman yang mengajak saya ke
acara seminar pra perjalanan untuk memperkenalkan bagaimana Taman
Nasional Ujung Kulon dan memberikan informasi mengenai Badak Jawa yang
semakin langka. Tidak hanya mahasiswa dari UI yang datang ke acara ini, dalam sesi tanya-jawab terdapat mahasiswa Institut Pertanian Bogor dan Universitas Diponegoro. Seusai acara ini peserta seminar yang tertarik dengan perjalanan pada 24-31 Januari nanti dapat melakukan pendaftaran. Teman saya masih ragu apakah ia bisa ikut serta atau tidak, saya sendiri hampir bulat untuk ikut karena memang belum ada aktivitas untuk seminggu perjalanan tersebut. Pada akhirnya teman yang mengajak saya ke seminar itu tidak ikut dalam perjalanan. Saya kemudian mengajak teman satu fakultas saya agar saya tidak sendirian pada perjalanan nanti.
Untuk mengikuti perjalanan yang cukup panjang ini, panitia meminta peserta untuk datang briefing dan melakukan latihan fisik. Selain itu, terdapat juga daftar peralatan pribadi dan kelompok yang harus dibawa. Peserta juga diwajibkan untuk mengkonsumsi pil kina untuk mencegah terjangkitnya penyakit malaria selama perjalanan.
| Briefing dan Pelepasan |
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Selasa, 24 Januari 2012, peserta diharapkan berkumpul pukul 8.00. Panitia melakukan pengecekan alat dan membantu peserta untuk packing barang bawaan, juga berbagai persiapan alat dan logistik untuk kebutuhan selama di Ujung Kulon nanti. Sebelum berangkat, ada briefing dan pelepasan dari KAPA dan tim perjalanan. Perjalanan menuju Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) diperkirakan berlangsung selama 8 jam dari kampus UI Depok. Ternyata perkiraan tersebut meleset, waktu perjalanan mencapai 12 jam. Berangkat pukul 10.00, istirahat makan siang, sempat salah jalan, dan ketika sampai di daerah Sumur, bus yang kami tumpangi ternyata tidak bisa masuk sehingga mau tidak mau mengganti alat transportasi dengan elf. Kami sampai sekitar pukul 11.00 yang disambut dengan rintik-rintik hujan.
![]() |
| Pengabdian masyarakat di SDN Tamanjaya 3 |
Agenda hari kedua adalah pengabdian masyarakat dengan melakukan pencerdasan mengenai badak di SD dan SMP. Rombongan dibagi dalam dua kelompok, saya sendiri termasuk dalam kelompok untuk SD Tamanjaya 3 dan ada pula yang termasuk dalam kelompok untuk SMP Negeri 2 Sumur. Pencerdasan terdiri dari menonton film, slide show, lomba menggambar badak, lomba mewarnai badak, dan permainan ular tangga badak. Sebenarnya, acara ini diperuntukkan hanya untuk siswa kelas 6 tetapi karena derasnya hujan tadi malam hingga pagi tadi yang menyebabkan kelas tidak sepenuhnya terisi. Akhirnya acara ini dihadiri juga oleh siswa kelas 2 sampai 5. Seusai acara ini dan makan siang, peserta dan panitia dibagi menjadi kelompok yang lebih kecil dengan anggota sekitar 4-5 orang untuk melakukan wawancara dengan warga seputar kondisi dan partisipasi mereka terhadap TNUK.
![]() |
| Karang Ranjang |
Hari ketiga merupakan hari yang paling melelahkan. Telusur hutan untuk mengetahui pakan badak dan habitatnya. Ujung dari perjalanan ini adalah Karang Ranjang yang ditempuh dengan 4-5 jam dan celana serta kaki yang basah terkena lumpur. Rasa lelah menguap sekejap ketika sampai di Karang Ranjang dengan pemandangan pantai yang menakjubkan. Beberapa ada yang langsung main ke pantai, ada pula yang membersihkan badan dan sepatu yang sudah terjamah lumpur. Sepatu bot yang saya bersihkan hampir saja terseret ombak, untungnya ada panitia yang berdiri tidak jauh dari lokasi sepatu bot saya. Awalnya saya tidak ingin menceburkan diri tetapi kadung celana basah terkena ombak, akhirnya ikut juga bermain air di pantai. Kami tidak bisa berenang terlalu jauh dari pantai karena ombak yang besar dan membuat kami bermain "breakwater" dengan mengaitkan lengan satu dengan yang lain. Sempat ada salah satu dari kami yang terbawa ombak dan yang lain langsung sigap menariknya. Karang Ranjang memang termasuk dalam jajaran pantai selatan yang masih perawan. Setelah makan malam, sebagian besar dari kami bermain Serigala dan Penduduk Desa. Saya sendiri tidak ikut serta karena tidak mengerti permainan apa ini, di mana peserta permainan ini mengelilingi satu orang moderator yang menentukan alur permainan. Sisanya yang tidak ikut bermain ada yang berbagi cerita atau memandangi langit malam yang cerah disesaki bintang, bahkan beberapa ada melihat bintang jatuh. Hampir lupa, di tempat ini tidak ada listrik dan air pun diambil dari sumur dengan ditimba.
Jumat yang merupakan hari keempat adalah hari kembalinya kami ke desa Tamanjaya. Perjalanan pulang selalu terasa lebih cepat. Sekitar jam 1 siang rombongan sudah sampai di pos Cilintang, sudah dekat untuk ke desa Taman Jaya. Di sana kami beristirahat dan santap siang yang bahannya diolah menggunakan misting dan kompor berparafin. Sekitar jam 3 atau 4 sore hampir seluruh rombongan sepertinya sudah sampai Tamanjaya, basecamp kami yang berlokasi di dekat rumah Pak Komar, pemilik penginapan dan kapal. Saya sendiri bersama tiga rekan seperjalanan baru sampai basecamp sekitar pukul 06.00 karena mampir dulu di aliran air yang menyejukkan kaki di dekat persawahan, mengambil gambar-gambar di dekat sawah dan perbukitan, dan mampir di warung untuk melepas lelah. Malam harinya ada acara lomba masak antar ibu-ibu desa Tamanjaya dan menonton film untuk anak-anak.
| Pulau Peucang |
Weekend memang waktunya liburan. Sabtu menjadi hari yang dinanti meski sempat sangsi. Selama kami di Ujung Kulon, hampir setiap hari diguyur hujan badai kecuali ketika di Karang Ranjang. Cuaca yang tidak menentu ini membuat kami takut untuk berangkat ke Pulau Peucang. Dengan berbagai pertimbangan, kami tetap berangkat. Mendung memang menggelayuti sejak pagi. Sepanjang perjalanan hujan deras dan angin menyertai, terombang-ambing ombak juga menggigil kedinginan. Wasyukurilah kami sampai dengan selamat di Pulau Peucang. Selain manusia, pulau ini dihuni babi dan monyet yang tidak takut pada pengunjung. Lagi-lagi, segala keluh kesah di kapal terbayar dengan pasir putih dan jernihnya air laut pantai pulau ini. Kami menginap di dekat dermaga Cidaon. Tidak jauh dari lokasi kami menginap (mendirikan tenda lebih tepatnya) terdapat Padang Penggembalaan yang di dalamnya terdapat banteng, merak, kera ekor panjang, ayam hutan, babi hutan, dan fauna lainnya. Pantai Cidaon tidak seindah pantai Pulau Peucang tetapi di sini memiliki sungai yang airnya begitu menyegarkan. Agenda setelah makan malam kembali diisi dengan permainan Serigala dan Penduduk Desa, saya sendiri mendengarkan musik sampai terlelap. Saya dibangunkan untuk pindah tidur di tenda. Baru beberapa jam tertidur, sekitar jam 2.00 dini hari, hujan badai kembali menghampiri. Korbannya adalah tenda peserta perempuan yang merupakan tenda paling besar. Peserta dievakuasi ke pos penjagaan, tidur berdesakan dengan posisi tidak karuan ditemani hawa yang begitu dingin.
Minggu pagi adalah waktunya snorkeling dan arung gelombang di sekitaran Pulau Peucang. Alat snorkeling yang tidak sebanding dengan jumlah peserta membuat kami harus bergantian menggunakannya. Salut untuk KAPA yang bersusah payah membawa perahu karet mereka jauh-jauh dari Depok, ya walaupun sebenarnya gelombangnya kecil di lokasi kami snorkeling. Setelah snorkeling dan arung gelombang, kami makan siang di Pulau Peucang dan dilanjutkan perjalanan kembali ke Tamanjaya. Untungnya, perjalanan pulang lebih aman sentosa daripada keberangkatan meski tetap diiringi awan mendung.
Hari terakhir menjadi hari perburuan oleh-oleh untuk mereka yang menanti kami di rumah. Agenda hari Senin ini adalah menyambangi tempat produksi oleh-oleh khas TNUK yang bernuansakan Badak Jawa seperti gantungan kunci, sumpit, pin, plakat, patung dari kayu, kaos, tas dan beraneka pernak-pernik lainnya. Kerajinan tangan ini sedikit banyak bertuliskan pesan untuk menyelamatkan Badak Jawa. Masyarakat sepertinya masih peduli terhadap kelestarian satwa yang semakin langka ini. Pemasaran selalu menjadi kendala klasik bagi usaha di daerah. Semoga ada yang mampu memasarkan berbagai kerajinan tangan yang diproduksi masyarakat sekitar TNUK. Sorenya kami pulang ke Depok menggunakan elf sampai daerah Sumur. Kami langsung menyerbu mini market di tempat kami transit. Puas berbelanja, kami duduk manis di mini bus yang disediakan panitia. Sempat mampir entah di daerah mana untuk shalat Isya dan istirahat.
Tibalah kami di kampus tercinta sekitar pukul 03.00 dini hari. Tidak terasa seminggu sudah meninggalkan ibukota. Kami pun menurunkan barang-barang bawaan dan setelahnya dilanjutkan dengan sharing kesan dan pesan selama perjalanan. Seminggu menjalani hari dengan orang-orang yang baru, menempuh perjalanan darat dan laut bersama-sama, makan dengan menu dan tempat yang sama (baca: satu misting bareng-bareng), bahkan sempat gosip-gosip menjelang tidur bersama-sama (khusus peserta cewek hahaha). Buat saya, ini perjalanan pertama dengan rombongan besar yang saya bisa mengenal setiap pesertanya. Terima kasih untuk segenap panitia yang telah bekerja keras menyukseskan acara ini dan sering kali mengacak-acak kami dalam kelompok-kelompok (terdengar kabar untuk pemilihan anggota kelompok dapat "dipesan" pada Ka Ops atau disebut agenda titipan) yang membuat kami dapat mengenal satu dengan yang lain.
You guys awesome! Amazing to meet all of you!
Click here untuk melihat foto-foto lengkap sepanjang perjalanan dan masuk ke group Lost in The Exotic Adventure of Ujung Kulon untuk terus update perkembangan kabar terbaru panitia dan peserta acara ini. Jangan lupa datang ke seminar pasca perjalanan yang diadakan Kamis, 23 Pebruari 2012 dan pameran foto yang diadakan 20-24 Pebruari 2012 di Lobby K Fakultas Teknik Universitas Indonesia.
See you there, guys! :D



Tidak ada komentar:
Posting Komentar