Selasa, 12 Juni 2012

Catatan Perjalanan Ciremai: Pendakian Pertama Setelah Sekian Lama

Dari sebuah obrolan iringan pada sebuah senja di awal pekan, saya kembali melakukan pendakian ke puncak tertinggi tanah Sunda setelah hampir lima tahun vakum. Perjalanan ke Ujung Kulon di awal tahun ini menggugah gairah saya untuk memaksimalkan masa kuliah dengan kegiatan jalan-jalan, terlebih melakukan pendakian. Sulit memang menemukan teman perjalanan yang rela menempuh jarak puluhan kilometer dan berpeluh selama berjam-jam dalam dinginnya udara pegunungan demi mencapai puncak yang keindahannya tidak dapat dilukiskan lewat kata. 

Saya melakukan pendakian bersama empat rekan lainnya, tiga orang berasal dari Kamuka Parwata Fakultas Teknik Universitas Indonesia (KAPA FTUI) yang terdiri dari Andrea Yusuf Renata (Ucup), Wildan (Ncuy), Dede Rahmat Kurnia dan satu orang yang berasal dari komunitas penjelajah alam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Jejak Mollusca, adalah Arsiya Isrina Wenty Octisdah (Wenty). Kami berangkat Jumat, 9 Maret 2012 sekitar pukul 4 sore dari Sekretariat KAPA FTUI. Sebenarnya, pendakian ini adalah perjalanan aspiratif dari organisasi pecinta alam ini tetapi karena saya dan Wenty pernah berkegiatan bersama dengan anggota lainnya dan dalam proker mereka, maka kami dapat bersama-sama menempuh pendakian ini. Sebelum berangkat, ada seremoni pelepasan bagi anggota KAPA yang akan melakukan perjalanan. 

Pelepasan di Sekretariat KAPA FTUI
Sekitar pukul 6 sore kami tiba di terminal Kampung Rambutan. Tidak sampai setengah jam kami sudah mendapatkan bus menuju Kuningan dikarenakan kami akan menggunakan jalur Linggarjati. Gunung Ciremai sendiri wilayahnya meliputi tiga kabupaten, yaitu Cirebon, Kuningan dan Majalengka. Ketika kami naik bus ini, kursi-kursi belum terisi penuh, bahkan sekitar 70% masih belum berpenghuni. Bus kemudian berputar-putar selama hampir dua jam untuk mendapatkan penumpang. Sempat tertidur cukup lama tetapi bus tidak jalan juga, akhirnya kami berbincang-bincang untuk membunuh waktu. Topik perbincangan bahkan habis dan akhirnya kami bermain ABC lima dasar dengan berbagai nama-nama kota, negara, buah, dan binatang. Bus pun melaju dan seolah terbius hembusan angin, kami kembali terlelap di bus yang mewajibkan kami mengeluarkan rupiah sebesar 40 ribu. 

Sabtu dini hari, pukul 2.30, kami sampai di gerbang Desa Bandoro Rasawetan. Tidak ada angkot sehingga kami harus menunggu beberapa jam lagi agar bisa diantarkan ke Pos Linggarjati. Angkot pun datang dua jam kemudian dengan kesepakatan harga Rp 30.000. Sesampainya di pos, ternyata masih tutup dan kami menunggu pagi hingga pos buka. Pagi pun datang, kami menabung energi dengan sarapan dilanjutkan dengan registrasi simaksi Rp 10.000 per orangnya. Sebelum berangkat, kami pemanasan dan tidak lupa berdoa. 



Sewaktu SMA, saya pernah ikut pendakian massal ke gunung ini tetapi lupa lewat jalur Apuy atau Palutungan. Sepengetahuan saya, Linggarjati memang jalur terberat sekaligus terjelas dan tercepat dari jalur lainnya. Dari pos, kami melewati rumah-rumah penduduk dan persawahan. Tidak hanya itu, kami juga disambut dengan aspal yang cukup curam dan hampir saja meluluhlantakkan semangat saya. Tetapi, perjalanan tetap harus diteruskan. 

Saya yang bukan anggota pecinta alam, jarang berolahraga pula, menjadi oknum yang menghambat perjalanan ini. Dengkul kiri saya yang dulu pernah jatuh dan saya pikir sudah sembuh malah menunjukkan gelagatnya saat itu. Nyeri mulai menyerang dan menjadikan saya anggota perjalanan dengan nomor urut paling belakang. Berganti-gantian Ucup, Ncuy, dan Dede menemani dan membantu saya melewati jalur Linggarjati yang curam ini. Ucup menawarkan diri untuk membawa satu botol air minum saya agar beban saya lebih ringan.

Ncuy, saya, Ucup dan Dede

Beberapa pos telah kami lewati. Pos-pos Linggarjati terdiri dari Pos Cibunar (700 mdpl), Leuweng Datar (1225 mdpl), Condang Amis, Kuburan Kuda (1.450 mdpl), Pangalap (1.650 mdpl), Tanjakan Seruni (1.825 mdpl), Bapa Tere (2.025 mdpl), Batu Lingga (2.200 mdpl), Sangga Buana (2.500 mdpl), dan Pangasinan (2.800 mdpl). Air minum harus dihemat karena sepanjang perjalanan tidak ada mata air. Menjelang sore, gerimis mulai berdatangan namun kami tidak sampai pada pos yang telah direncanakan sebelumnya. Sepertinya karena saya yang berjalan terlalu lama. Maaf ya, teman-teman...

Akhirnya kami membuat tenda di antara pos Tanjakan Seruni dan Bapa Tere karena hari sudah gelap dan gerimis tidak kunjung usai. Setelah mendirikan tenda, kami langsung memasak untuk malam. Malam kami habiskan untuk beristirahat karena udara dinginnya seolah tidak mengijinkan kami berada di luar tenda.

Minggu pagi sekitar pukul 9.30 kami sudah bersiap untuk meneruskan pendakian. Saya didaulat ada di paling depan agar tidak tertinggal terlalu jauh. Kaki ini masih nyeri. Akar dan batu yang terjal menjadi teman perjalanan kami. Bersusah payah kami harus mengangkat badan dan beban. Mendaki itu seperti mengalahkan diri sendiri, beberapa kali merasa down karena menyusahkan teman seperjalanan karena langkah yang lambat dan seringnya minta istirahat.   



Kaki menjejak pos terakhir, Pangasinan, saat makan siang tiba. Kami istirahat cukup lama untuk makan roti dan seruput teh di tengah kencangnya angin yang berhembus. Sedikit lagi sampai di ketinggian 3.078 mdpl. Sekitar pukul 13.30 tibalah kami di puncak Ciremai, puncak tertinggi di Jawa Barat. Saya tidak menyangka akhirnya saya sampai juga meski sepanjang perjalanan didera nyeri pada bagian dengkul. Kami kesulitan melihat pemandangan karena kabut yang menghalangi pandangan. Kami berpegangan pada batu ketika angin kencang berhembus, bahkan cover bag yang saya pakai terbang tertiup angin.


 

Ucapan syukur kami berikan pada Ilahi karena telah diberikan kesempatan untuk menikmati indah ciptaan-Nya setelah menempuh perjalanan yang terjal dan melelahkan. Kami hanya sebentar berada di puncak karena hari semakin menjelang sore dan diputuskan untuk turun tidak melalui Linggarjati lagi. Sempat berputar-putar selama hampir dua jam untuk mencari jalur Apuy yang akhirnya ditemukan sekitar pukul 4 sore. Jalur ini memang tidak seterjal jalur sebelumnya tetapi cerahnya hari semakin meredup. Kami pun mendirikan tenda di pos terdekat yang kami temukan, yaitu pos Sanghyang Rangkah.

Kali ini kami tidak hanya makan malam saja. Tetapi kami menikmati malam yang cerah berserakan bintang dan disinari cahaya rembulan dengan bermain kartu sambil bersenda gurau meski dingin selalu menemani. Sungguh momen yang tidak bisa ditemukan di perkotaan. 
 
Senin pagi kami membereskan tenda dan bersiap untuk turun. Kaki saya masih cukup kuat untuk lari turun ketika awal-awal perjalanan. Sayangnya, hal itu tidak bertahan lama. Nyeri itu datang lagi. Saya lagi-lagi memperlambat perjalanan. Gerbang masuk Apuy memang sudah kami lewati tetapi pos registrasi masih jauh di bawah sana, beberapa kilometer lagi melewati perkebunan dan pedesaan. Terpikir untuk nebeng pick up yang mengangkut hasil kebun tetapi tidak kunjung datang. Wenty, Ucup dan Dede memilih untuk berlari terus sampai pos registrasi. Saya berjalan perlahan-lahan menahan nyeri ditemani Ncuy. Rombongan pertama sudah tidak kelihatan. Di tengah perjalanan, ada mobil pick up yang menawarkan tumpangan! 

Rombongan pertama ditemukan sedang jajan dan ngopi di warung dekat pos registrasi Apuy. Pukul 3 sore kami semua sampai di pos dan langsung membersihkan diri serta ganti baju. Satu jam kemudian kami menumpang pick up yang akan membawa kami ke terminal Maja dengan biaya total Rp 41.000. Bus yang menuju Jakarta sepertinya sudah tidak ada lagi. Kami akhirnya naik angkutan umum elf menuju tol Cileunyi dengan waktu perjalanan 2,5 jam. Di tol Cileunyi, kami menunggu bus dengan destinasi terminal Kampung Rambutan. Busnya masih ada dan kami untungnya masih kebagian tempat duduk dengan mengeluarkan kocek sebesar Rp 27.000 per orang. Dari terminal Kampung Rambutan, kami melanjutkan naik angkot 112 menuju Depok seharga Rp 4000.  



Perjalanan pun berakhir di menjelang pergantian Senin menjadi Selasa. Padahal, direncanakan kami sampai di Depok lagi sekitar Minggu malam atau Senin dini hari. Maafkan ya, karena saya yang lambat jadi bertambah satu hari perjalanan ini dan membuat beberapa anggota perjalanan bolos kuliah. 

Beberapa hal yang menjadi catatan saya selama perjalanan ini adalah diperlukan latihan fisik yang cukup untuk mendaki gunung, memahami manajemen perjalanan dan wawasan mengenai lokasi yang akan dituju menjadi wajib hukumnya. Mencatat pos-pos pendakian di pos registrasi agar kita mengetahui sudah seberapa jauh kita berjalan dan masih ada berapa lagi pos yang harus dilewati untuk mencapai puncak. 

Terima kasih telah mengijinkan saya menjadi anggota rombongan perjalanan aspiratif ini. Terima kasih telah menjadi rekan yang suportif sepanjang langkah-langkah kaki yang kita jejakkan :)

3 komentar:

  1. mantaap Mar. . Ciremei tanjakan tiada akhir :D

    BalasHapus
  2. semoga bisa ke sana lagi didukung dengan cuaca cerah :)

    oiaa, itu kenapa saya teh ga bisa komen di blog si akang??

    BalasHapus
  3. Yuk balik lagi ke ciremai :)

    BalasHapus