Sebuah perjalanan panjang yang akan selalu saya ingat. Perjalanan panjang yang melelahkan, kadang membosankan, menguras energi dan pikiran hingga ke titik terendah. Sederet momen mengiringi perjalanan untuk meraih gelar kesarjanaan yang akan saya kenang di kemudian hari.
Cuti kuliah
Jumlah SKS yang saya peroleh memperbolehkan saya mengambil mata kuliah Skripsi di semester ketujuh. Awalnya ingin coba-coba, siapa tahu bisa selesai di semester itu juga. Ternyata masih keteteran dengan mata kuliah lain di semester itu. Maksud hati akan menyelesaikan tugas akhir di semester delapan namun jalan hidup berkata lain.
Sekitar penghujung 2012, saya mendapatkan informasi mengenai penelitian bersama Kopassus di wilayah timur Indonesia. Tepatnya di kawasan Celebes, Sulawesi. Periode penelitian selama empat bulan yang artinya saya harus cuti kuliah di semester berikutnya. Awalnya saya pesimis orang tua akan mengijinkan. Nyatanya, ayah saya menyetujui keputusan saya untuk ikut Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013. Selain itu, saya ada misi tersendiri untuk mengetahui asal-usul leluhur saya yang memang berasal dari ujung pulau Sulawesi sana. Akhirnya, semester delapan, semester di mana mahasiswa angkatan 2009 sedang sibuk-sibuknya menyusun skripsi, saya malah berangkat bersama mahasiswa dari penjuru nusanatara dan militer dari berbagai angkatan juga satuan polisi Brimob untuk melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Indonesia.
Pergantian Pembimbing
Semester tujuh saya telah mendapatkan pembimbing skripsi. Pembimbing yang minim diskusi sehingga saya merasa tidak berkembang dalam penyusunan proposal saya. Saya malah jadi bingung menentukan ke mana arah penelitian ini. Sepulang saya dari Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi 2013, saya membulatkan niat untuk mengajukan pergantian pembimbing. Di bulan Juli 2013, saya berdiskusi dengan dosen yang saya harapkan menjadi pembimbing saya yang baru. Saya sodorkan draft proposal saya dan beliau tertarik, Saya pun mengajukan surat untuk mengganti dosen pembimbing.
Surat-surat sudah masuk ke bagian administrasi. Hanya bisa berdoa mendapat pembimbing sesuai dengan apa yang diharapkan. Lagi-lagi nasib berkehendak lain. Dosen yang saya harapkan tak bisa saya dapatkan. Saya mendapat pembimbing yang konsentrasi ilmunya bukan di bidang yang ingin saya teliti. Ingin protes takut malah memperpanjang waktu, sementara semester ganjil periodenya pendek sekali. Jalani saja yang sudah digariskan.
Pengumpulan Proposal
Pertengahan Oktober 2013, saya diminta merevisi beberapa bagian dari proposal. Dosen pembimbing mengatakan akan memeriksanya karena sudah dekat dengan batas pengumpulan proposal dari departemen. Saya sudah mengirimkan perbaikan via e-mail beberapa hari sebelum deadline. Saya masih terus memperbaiki hingga sehari sebelum batas waktu. Masih terus saya kirimkan hasil perbaikian melalui e-mail.
Sayangnya, pihak yang dikirimkan e-mail sulit dihubungi, sms dan panggilan tak ada balasan dan jawaban. Saya berharap di hari H, akan ada konfirmasi. Akan ada proposal yang ditandatangani untuk maju sidang. Namun tidak juga. Beliau tidak datang, tidak mengabari kalau tidak datang. Departemen tidak ada toleransi. Tak ada tanda tangan untuk draft proposal saya.
Saya hanya tidur satu dua jam selama beberapa hari sebelum hari tersebut. Hati saya hancur. Setelah sepuluh kali mencoba menghubungi, akhirnya telepon saya mendapat jawaban. Katanya masih banyak yang harus diperbaiki lagi, masih belum bisa maju untuk sidang. Sidang proposal katanya tidak harus sesuai deadline dari departemen, masih bisa dikumpulkan karena sidang proposal akan diadakan jika memang proposal sudah siap. Saya pun mengatakan hal demikian kepada kepala program studi apa daya peraturan tetap jadi peraturan. Saya tidak bisa ikut sidang sesuai waktu yang telah ditentukan, yaitu sekitar akhir Oktober.
Air mata saya tidak tertahan lagi. Tersedu-sedu. Pilu.
Perjalanan dan Penelitian
Sejak draft proposal saya diabaikan begitu saja, semangat untuk mengerjakan turun drastis. Pesimis akan selesai di semester ganjil itu. Impulsif, saya mengikuti rangkaian perjalanan sekaligus penelitian kecil yang menghabiskan waktu. Sampai-sampai saya lupa mengerjakan skripsi.
Sidang Proposal
Pada akhirnya, saya memang mengumpulkan sekitar seminggu setelah batas waktu. Pasrah kapan akan disidang. Ultimatum dari kaprodi membuat saya berasumsi bahwa saya akan mendapat jatah sidang di semester depan. Oleh karena itu, saya malah mengambil kegiatan lain selepas saya mengumpulkan proposal yang sudah ditandatangani.
Pesan singkat masuk ke ponsel saya di pertengahan November 2013. Ternyata, saya bisa sidang tanggal 20 November. Gembira sekaligus gelisah. Gembira karena akan sidang juga, gelisah karena batas pengumpulan untuk naskah final skripsi adalah awal Desember. Selain itu, saya juga sudah melibatkan diri dalam suatu kegiatan. Akhirnya, saya pun sidang proposal dengan hasil yang mencukupi. Lagi-lagi masih banyak yang harus diperbaiki.
Saya sudah tidak fokus lagi.
Sakit Mata
Indera penglihatan memang dipaksa bekerja keras untuk membaca data-data, artikel, jurnal, buku, skripsi, tesis dan disertasi terkait skripsi saya. Dua bulan sejak awal April hingga awal Juni 2014, waktu saya habis karena sakit mata. Berawal dari bintik kuning kecil di bola mata. Diakibatkan kekeliruan diagnosa yang membuat sakit ini yang tak kunjung sembuh. Katanya karena bakteri tapi tidak dicek di laboratorium. Mata saya cepat lelah ketika menatap layar komputer, membaca buku pun begitu. Menghambat proses penyusunan skripsi saya.
Sekitar akhir Mei, mata saya memerah cukup parah dan perih ketika terkena cahaya dan saya ingin periksa, dokter tersebut sedang cuti. Saya pun pindah rumah sakit untuk periksa sakit yang begitu menyiksa mata saya. Dokter yang baru langsung memeriksakan ke laboratorium. Ternyata bukan karena bakteri tetapi alergi debu. Sekitar empat kali pemeriksaan dalam jangka waktu seminggu lebih, mata saya pun pulih.
Puji Tuhan.
Sayangnya, waktu terus berjalan dan batas waktu di semester yang baru semakin mendekat. Mau tak mau, saya merelakan semester tersebut. Awal Juni wajib mengumpulkan naskah final. Saya masih proses penyembuhan.
Ikhlas, cuma itu yang bisa saya lakukan.
Ikhlas, cuma itu yang bisa saya lakukan.
Kecelakaan Lalu Lintas
Nasib malang lagi-lagi menimpa saya. Meski tenggat waktu sudah lewat, saya masih berusaha mengumpulkan data. Saya melakukan wawancara kepada pihak-pihak terkait. Waktu itu, kosan saya di daerah Kukusan Teknik (Kutek) dan saya penelitian di daerah Gajah Mada. Gerbang Kutek (daerah dekat fakultas teknik) tutup jam 11 malam, sementara saya sampai di Stasiun Pondok Cina tepat di jam tersebut. Motor yang saya titipkan di dekat stasiun pun tak akan bisa lewat. Saya harus memutar jauh lewat Beji. Menyusuri Margonda dan belok lewat fly over sebelum Terminal Depok untuk ke daerah Kukusan.
Kecepatan motor saya lambat dengan posisi di pinggir karena saya juga sudah lelah seharian beraktivitas. Belum lagi perjalanan jauh ke daerah Kota dan melakukan wawancara hingga malam hari. Sungguh menguras tenaga dan pikiran.
Tiba-tiba motor saya berguncang hebat dan tubuh saya terpental ke tengah jalan. Saya berusaha sekuat tenaga untuk bangun namun tidak bisa. Hanya bisa memasrahkan diri jika ada kendaraan yang melaju cepat akan menindas saya. Berbagai konsekuensi terburuk lalu lalang di kepala. Saya hanya bisa berdoa. Akhirnya, beberapa warga membantu saya ke pinggir jalan.
Saya ditabrak dari belakang oleh motor berkecepatan tinggi yang ingin menghindari lubang.
Kondisi motor saya rusak parah. Spion dan lampu depan hancur. Jok copot dari tempatnya. Anak SMA yang menabrak saya malah menyalahkan saya. Saya yang kesakitan malas untuk membalas, warga membela saya tapi anak itu tak mau bertanggung jawab. Ada warga yang memanggil polisi. Keluarga remaja tersebut pun datang dan beritikad baik membawa saya ke rumah sakit untuk diperiksa. Motor saya diurus oleh polisi. Pinggang saya yang begitu sakit dirontgen, luka-luka di tangan saya diobati.
Kemalangan saya belum selesai sampai di situ. Tak ada teman yang bisa dihubungi untuk membantu saya pulang ke kosan. Menelepon keluarga, saya tidak sampai hati karena jauh dari Depok. Sekalinya ada yang menjawab telepon, mereka bilang besoknya ada keperluan. Setelah pemeriksaan, saya masih berurusan dengan polisi. Mereka menawarkan apa saya ingin berdamai dengan penabrak saya atau mau melanjutkan proses hukum. Saya khawatir dengan pinggang saya namun malam itu dokter jaga kurang meyakinkan dalam membaca hasil rontgen. Saya ingin dokter spesialis radiologi yang memberi keterangan tapi itu tandanya saya menunggu hingga esok sore.
Polisi yang berurusan dengan saya mendesak saya untuk mengambil keputusan. Untungnya, ada teman saya yang balik menghubungi saya karena melihat panggilan tak terjawab di ponselnya. Dia yang menjadi juru bicara saya. Penabrak saya sudah pulang, yang di kantor polisi adalah kakaknya. Saat itu, saya memutuskan untuk berdamai namun dengan uang penggantian kerusakan dan sorenya keluarga tetap ada untuk bertanggung jawab lebih lanjut jika memang ada masalah serius berdasarkan hasil rontgen.
Saat saya menyampaikan hal tersebut, polisi yang mengurus saya dari awal tidak ada. Ketika dia datang, dia bilang bahwa sudah memanggil bagian Laka Lantas dari Polres untuk memproses kasus saya. Ah, mengesalkan sekali. Tidak lama datang orang Polres membawa mobil bak terbuka. Tanpa seijin saya, motor saya dan motor yang menabrak saya diangkut ke atas mobil. Saya bersikeras bahwa saya memang mau berdamai. Motor pun diturunkan lagi dan saya menandatangani berkas-berkas.
Untuk menjamin keluarga yang menabrak tetap bertanggung jawab terhadap pembacaan dokter radiologi, saya menyita KTP kakak penabrak. Sore hari ketika akan rumah sakit, istri dari kakak penabrak menelpon saya sambil marah-marah. Menuding saya akan memeras mereka. Padahal saya hanya minta pertanggung jawaban. Telepon terputus, pembicaraan belum usai. Ketika tersambung lagi, ada orang lain yang menjawab dan mengancam-ancam saya. Drama belum usai juga.
Di rumah sakit, pihak yang bertanggung jawab belum datang. Saya berinisiatif untuk langsung ke dokter radiologi agar lebih cepat. Puji Tuhan tidak ada masalah serius untuk pinggang saya. Saya pun mengembalikan KTP yang pegang kepada pemiliknya.
Gagal Sidang
Fase terberat dalam perjalanan akademis di kampus makara. Peristiwa yang tak ingin saya ingat-ingat lagi. Penghujung 2014, gerimis di bulan Desember dan hujan deras di pipi saya. Terperanjat pasti. Terpukul, teramat sangat. Terisak sepanjang malam. Mata membengkak di pagi hari. Seperti kehilangan arah hidup saat itu. Perjuangan belum diperkenankan berakhir.
Hal tersulit adalah mengembalikan semangat perjuangan yang seketika sirna. Bangkit dari keterpurukan untuk meneruskan apa yang sudah dimulai. Setiap malam memanjatkan doa kepada Sang Pencipta agar diberi kelancaran dalam setiap proses penulisan. Jatuh bangun lagi. Hari-hari mengolah data dan menyusun analisa. Bimbingan dan revisi. Berulang terus hingga persetujuan sidang diraih kembali.
28 Agustus 2015, kewajiban akademis pun berakhir. Aral melintang berhasil dilewati meski dalam jangka waktu yang panjang. Wis udah alias hari wisuda yang ditunggu-tunggu datang juga. Dinyanyikan Gaudeamus Igitur oleh mahasiswa baru yang akan menimba ilmu di Universitas Indonesia. Balairung, tempat memulai sekaligus mengakhiri.
Untuk semua yang telah dilewati, semoga berarti untuk kehidupan nanti. Gerbang menuju fase hidup selanjutnya telah dibuka. Sebuah perjalanan baru dimulai setelah perjalanan yang panjang dan melelahkan jiwa raga.
Cari2 sesuatu dan nemui ini, Wah, mengharukan,terap semangat dan optimis kak!
BalasHapusTerima kasih sudah mampir dan baca postingan panjang ini! Tetap semangat juga untuk apapun yang dikerjakan! :)
Hapus