Sabtu, 28 Agustus 2010

Masa-Masa Kejayaan

saya merupakan mahasiswa tahun kedua di sebuah universitas yang begitu dibanggakan oleh negeri ini. mahasiswanya berprestasi di bidang akademis maupun non-akademis...

saya mengamati teman-teman saya, orang-orang di sekitar saya, senior-senior saya, bahkan junior-junior saya di SMA. prestasi mereka, di bidang apapun itu benar-benar membuat saya iri. prestasi mereka dari tingkat jurusan, fakultas, universitas, dari skala lokal, nasional sampai-sampai internasional. mereka yang punya IPK tertinggi, menang lomba ini-itu, ikut festival ini-itu, diundang jadi pembicara seminar-seminar, diundang tampil di luar negri atau ikut kompetisi skala internasional (menghela nafas panjang: fiuhhhhhh). dan saya mencoba membandingkannya dengan diri saya yang biasa-biasa saja ini. saya tidak memiliki prestasi apapun dan hal-hal lainnya yang dapat dibanggakan. saya merasa kerdil dalam prestasi, ciut dalam nyali, dan begitu rendah diri.

kemudian ingatan saya berlari-lari menuju rangkuman memori bertahun-tahun silam. ketika saya masih tertawa lepas tanpa beban dan ketika hidup tidak terlalu rumit untuk dijalani. ingatan saya sampai pada tujuannya, yang saya pun sampai saat ini kadang masih tidak percaya kalau peristiwa-peristiwa itu terjadi, dan oleh karena itu saya bersyukur kalau mereka ada. yap, mereka adalah masa-masa kejayaan saya yang membuat saya tersenyum, mengucap syukur, dan mempertanyakan sebab-musababnya. dimulai dari jenjang pendidikan saya paling awal. sekolah dasar.

Sekolah Dasar (SD)
saya tidak mengenyam pendidikan di Taman Kanak-kanak (TK) karena saya sudah bisa membaca dan berhitung walau belum mahir sejak umur empat tahun. saya pun langsung masuk SD di dekat (sebenarnya tidak terlalu dekat) rumah saya. kala itu namanya ialah SD Pasir Limus 01, nama SD ini berganti terakhir saya lewat sana namun saya lupa apa. ketika ujian caturwulan pertama saya jatuh sakit, tepat di masa ujian. saya tidak masuk ketika ujian berlangsung. saya ujian susulan. akan tetapi, hal yang ajaib terjadi: saya mendapat peringkat pertama untuk caturwulan pertama ketika saya pertama kalinya masuk sekolah. sayang, di dua caturwulan berikutnya peringkat saya turun ke peringkat dua dan tiga. memasuki kelas dua, saya pindah ke SD Cibitung 01 dikarenakan pindahnya tempat tinggal saya. caturwulan pertama saya mendapat peringkat pertama, caturwulan berikutnya menanjak naik. sekitar kelas tiga atau empat saya meraih peringkat pertama lagi dan mempertahankannya sampai saya lulus di SD tersebut. saya juga memenangkan lomba matematika tingkat kecamatan dan lomba murid teladan tingkat kecamatan, saya nggak pernah lolos di tingkat kabupaten. hiks.

Sekolah Menengah Pertama (SMP)
saya mendaftar ke SMP Negeri 1 Tambun Selatan sedangkan teman-teman saya kebanyakan di SMP Negeri 1 Cibitung. SMP saya merupakan sekolah unggulan di Kabupaten Bekasi dan juga merupakan Sekolah Standar Nasional (SSN). kelas 1 dan 2 saya masih berkutat di peringkat tiga besar. kalau saya ingat-ingat, saya sejak SD sampai SMP agak lupa kapan saya belajar, yang saya ingat malah kegiatan bermain saya. oia, saya suka membaca apapun. seringnya baca koran yang dibawa ayah saya, cuma ayah saya kurang konsisten dalam membeli koran. kadang Kompas, kadang Rakyat Merdeka, lalu IndoPos, Media Indonesia, Republika dan lain-lain. saya sih baca-baca aja walaupun kadang ga ngerti-ngerti banget. sering saya baca mengenai perbankan di koran. ketika saya bimbel, saya mempertanyakan istilah-istilah perbankan ke guru bimbel saya, dan beliau malah menyangka orang tua saya bekerja di bank karena istilah yang saya tanya tidak berkaitan dengan materi pelajaran ekonomi SMP.
waktu kelas naik kelas tiga, saya dipindahkan ke kelas unggulan karena saya mendapat peringkat pertama. awalnya saya menolak tapi saya nggak bisa berkutik. teman-teman di kelas saya berprestasi semua, saya minder. banyak yang sering ikut lomba berbagai mata pelajaran dan menang. saya nggak pernah ikut lomba apa-apa di SMP. saya berharap saya bisa berprestasi di SMP, meskipun saya tidak tahu apa bakat saya. di penghujung kelas tiga saya mendapatkan kejutan tidak terduga. saya meraih NEM tertinggi di SMP saya. padahal saya di kelas unggulan tsb hanya mendapat peringkat sepuluh dan peringkat tujuh di dua semester terakhir. hasil try out saya pun tidak terlalu memuaskan, turun naik terus, paling tinggi 24/25an dan pernah mencapai 21. meraih NEM tertinggi merupakan pencapaian tertinggi saya di SMP. bukan karena saya, tetapi Tuhan yang juga ikut campur tangan di dalamnya. terima kasih, Tuhan! :)


Sekolah Menengah Atas (SMA)
kelas saya adalah kelas rintisan SBI. kelasnya bisa dibilang unggulan dengan tiga kelas rintisan lainnya. saya tidak mendapat peringkat di kelas satu. saya mendapati diri saya yang tidak cocok dengan pelajaran-pelajaran IPA, padahal sebagai kelas unggulan otomatis akan menjadi kelas IPA untuk tahun berikutnya. saya pun pindah ke kelas IPS meski pihak sekolah menganjurkan saya untuk tetap bertahan di IPA. saya tidak mau memaksakan diri saya dalam pelajaran-pelajaran yang tidak saya nikmati. saya hafal rumus namun saya tidak mengaplikasikannya dalam soal-soal ujian, bodohnya saya. di kelas IPS saya kembali berjaya, saya mendapat peringkat satu dan lima besar untuk semester selanjutnya (saya lupa peringkat berapa). di kelas tiga, peringkat saya meluncur bebas. peringkat sepuluh untuk kelas tiga. payah payah.
saya bermuram durja ketika teman-teman saya sudah mendapat perguruan tinggi negri baik lewat jalur PMDK maupun jalur tes masuk. saya tidak diijinkan kuliah di luar Jabodetabek oleh orang tua saya. saya pun tidak ikut PMDK UNJ maupun UI karena ketinggalan informasi. huhuhu. saya memang ingin masuk UI sejak saya SD. ingin sekali mengenakan jaket kuning tersebut. saya mengikuti berbagai jalur tes masuk dari SIMAK, UMB, dan SNMPTN. saya juga ikut ujian mandiri UNJ yang disebut PENMABA UNJ. sangat menyedihkan untuk saya ketika saya tidak lolos PENMABA UNJ, hancur lebur harapan saya. saya berpikir kalau saja UNJ tidak lolos apalagi UI? saya memang sudah tidak lolos di SIMAK dan UMB. harapan terakhir saya ialah SNMPTN. saya mencoba UI dan UNJ. namun saya sudah hilang harapan karena gagal di PENMABA. satu hal yang saya lakukan hanya pasrah, berdoa, dan menguatkan diri sendiri. ibu saya mengancam saya, kalau tidak masuk perguruan tinggi negri, beliau tidak akan membiayai kuliah saya. ancaman yang mengerikan!! benar-benar tak terduga, saya lolos SNMPTN!! berbanggalah saya karena hanya tiga orang di angkatan saya yang lolos SNMPTN di UI. semua ini hanya karena rencana Tuhan. saya bersyukur sekali atas semuanya!

kejayaan-kejayaan saya memiliki masanya masing-masing. Tuhan pasti kasih saya kesempatan untuk berprestasi entah di bidang apapun itu. sekarang, yang bisa saya lakukan hanya berusaha dengan maksimal untuk apapun yang saya kerjakan. rasa iri hanya membuat saya jatuh dan tidak melakukan apa-apa selain merasa iri dengan prestasi orang lain.
berdoa, berusaha, dan bersyukur..

bersyukur membuat segala yang sulit terlihat lebih indah..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar