Di awal bulan Juni lalu, saya dengan tekad yang bulat nekat ke Bandung sendirian. Tadinya mau sama temen saya buat survey tempat yang mau dipakai jadi destinasi wisata temen-temen SMA. Akan tetapi, temen saya ngebatalin kepergiannya, yaudah lah saya sendiri aja ke sana. Mumet abis UAS, butuh refreshing.
Saya ada tabungan, mama saya juga nambahin sih. Saya berangkat Selasa siang naik Primajasa, 35 ribu kalo ga salah. Dari rumah saya meluncur ke terminal Bekasi, ga lupa beli pulsa dulu buat ngenet di jalan atau buat nelpon kalau ada apa-apa. Berbekal petunjuk dari Gita, Kak Dimas, dan Nurina, saya pun berangkat ke Bandung. Jam 10an saya udah sampai di terminal Bekasi, sayang busnya masih nunggu penumpang. Selain nunggu penumpang di Terminal Bekasi, busnya juga nunggu penumpang di dekat pintu tol timur Bekasi. Saya sampai puas tidur sambil nunggu busnya ngetem.
Sepanjang perjalanan saya ditemani lantunan lagu dari band yang tercoreng namanya oleh sang vokalis, Peterpan. Walaupun saya ga menyangkal kalo karya mereka cukup bagus dengan lirik-lirik puitis. Sampailah saya di Terminal Leuwipanjang. Celingak-celinguk cari bus Damri, sempet nanya sama petugas Primajasa yang bilang kalo bus Damri lewatnya depan terminal. Saya sih percaya aja, secara saya emang ga tau di mana bus Damri berada. Beberapa menit saya nunggu di depan terminal, banyak akang-akang yang nanyain ke mana tujuan saya. Gegerkalong, jawab saya. Sontak mereka bilang kalau saya salah tempat untuk nunggu bus Damri jurusan Gegerkalong di depan terminal, ternyata bus Damri yang saya maksud ada di bagian belakang terminal.
Yowes, saya langsung ke sana. Kursi penumpangnya sempit. Hampir sama kayak di ibukota, banyak yang ngamen juga jualan. Bedanya, di Bandung jualan dan ngamennya pakai bahasa Sunda. Atmosfernya langsung berubah. Sedikit-sedikit saya ngertilah apa yang mereka omongin. Hihihi Macet banget dari Leuwipanjang sampe Gegerkalong. Kebetulan, mbak-mbak yang duduk di samping saya dan yang saya lupa namanya, turun di Gegerkalong juga. Di Gegerkalong, saya kirim sms ke Kak Dimas kalau saya udah nyampe, dan ga lama kemudian Kak Dimas jemput saya. Nurina sama Gita masih di tempat kuliah, saya mampir di kostannya Kak Dimas untuk nunggu Nurina atau Gita karena saya bakal nginep di tempat mereka.
Ada Lanang, adiknya Nurina. Perut kami (saya, Kak Dimas, Nurina, Lanang, dan teman-temannya Nurina) mengalami nasib yang sama, sama-sama belum menerima pasokan makan malam. Setelah diskusi, akhirnya kami memutuskan untuk makan di Enhaii. Surabinya (atau Serabi) uenaakkk. Abis makan, kami nge-print tugas Nurina sebentar. Setelah itu, kendaraan kami melaju menuju Braga yang merupakan kota tua di Bandung. Kami mengambil beberapa foto di sana yang sampai sekarang belum diunggah sama yang punya. Hahahaha
Saya menginap di kostan Nurina. Esoknya (Rabu) Nurina sakit, otomatis saya gak ke mana-mana. Tak disangka, ibunya datang dari Bekasi. Kemudian, malamnya Nurina langsung dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Karena ada ibunya, saya akhirnya menginap di kostan Gita.
Besoknya, yaitu Kamis, Gita kuliah pagi. Saya pun dianterin Kak Dimas ke Institut Teknik Bandung (ITB). Kebetulan sekali, saya punya teman anak ITB yang punya janji mau traktir saya kalau saya ke Bandung. Hahaha. Namun janji itu ga ditepati, digantikan dengan menjadi pemandu wisata saya di ITB. Namanya, Billy. Dia finalis CreAdtive Pekom 2010. Di ITB saya dikenalin sama temennya Billy, Steven. Mampir ke toko souvenir ITB. Saya kira uang saya tinggal dikit, saya beli pin aja. Pas nyampe rumah taunya masih banyak, padahal saya mau beli kaos ITB tuh, bagus-bagus desainnya. Btw, ITB bagus yah? Bangunannya ga bikin bosen untuk diliat. Ni ada beberapa fotonya, saya cuma ngambil dikit. Malu euy, ga bawa kamera digital. Saya juga nyoba titik gema. Saya disuruh teriak di titik gema itu. Awalnya ga percaya tetapi karena penasaran saya nyoba juga. Kalau suaranya kecil ga terlalu kedengeran gemanya, mau ga mau saya teriak juga. Padahal ada beberapa orang di sekitar situ. Hahahaha. Selama di ITB saya sms-an dengan Kekes, teman kostan saya sekaligus mahasiswa Kriminologi yang mengundurkan diri di semester satu karena suatu alasan. Saya janjian dengan Kekes dan Guruh, pacarnya Kekes yang juga anak Krim, di McD simpang Dago. Saya dianterin Billy dari ITB sampai Simpang Dago. Makasih ya, Bil! ;)
Saya belom pernah ke Ciwidey dan pengen banget ke sana (norak yah? :P). Apa daya akses ke sana agak sulit kalau ga pakai kendaraan pribadi. Sementara yang punya kendaraan pribadi sibuk kuliah. Hiks. Pasrah. Jumat sorenya, Gita dan saya jalan-jalan ke Bandung Indah Plaza (BIP). Saya beli beberapa pernak-pernik di sana. Di depan BIP ada yang jual hewan peliharaan pada umumnya dan beberapa hewan yang seharusnya dilindungi seperti kuskus dan burung hantu. Ternyata ada Kekes dan Guruh di BIP juga, kami ngobrol-ngobrol sebentar di kedai pizza yang terkenal itu. Beberapa teman saya ada yang nitip oleh-oleh kerupuk setan, oleh-oleh yang sering dibawa Kekes waktu masih ngekost di Depok. Kekes dan Guruh nganterin saya beserta Gita ke Pasar Kosambi untuk membeli oleh-oleh. Setelah beli oleh-oleh, Gita dan saya ke tempat pembuatan sepatu yang berlokasi di salah satu mall yang saya lupa namanya. Pulangnya mampir di Tony Jack karena penasaran sama rumor yang bilang kalau di sana banyak pasangan yang tidak seharusnya menjadi pasangan. Ketika mau naik angkot, bertemu dengan Nike, alumni sekolah saya yang satu komplek kostan dengan Gita.


Nurina masih belum pulih. Gita pun jenguk Nurina bareng saya. Waktu sudah cukup malam, mau ke kostan Gita udah capek dan malas. Kami pun menginap di kostan Nurina. Agak malam, Kak Dimas datang untuk meminjam buku tentang desain yang dimiliki Nurina. Ada Sandy juga yang merupakan tetangga kostan Nurina. Ramai! Di sana kami bergosip mengenai video sang vokalis dan kekasihnya. Percaya ga percaya lah waktu itu. Daripada ngegosip ga jelas, kami main kartu. Pemain yang kalah wajahnya bakal dicorengi dengan bedak yang dicampur air. Yaiks! Sandy menjadi yang pertama kalah, kemudian giliran saya, terus Sandy dan Sandy lagi. Kasihan dia. Dia baru tau permainan ini. Saya juga baru tau belum lama ini, sementara Kak Dimas, Nurina, dan Gita sepertinya sudah mahir dan menang terus! Hahahaha.
Sabtunya saya pulang dengan Kak Dimas. Rencananya mau pulang siang tetapi Kak Dimas ada kuis di kelasnya (tadinya dia mau bolos kalau ga ada kuis). Sampai terminal Leuwipanjang matahari sudah bertengger di barat untuk membenamkan diri. Bye, Bandung!
Makasi ya teman-teman! Maaf juga sudah merepotkan selama saya di Bandung. Jangan kapok ya! :P
I’m happy for having great friends like you all!!!
Nurina masih belum pulih. Gita pun jenguk Nurina bareng saya. Waktu sudah cukup malam, mau ke kostan Gita udah capek dan malas. Kami pun menginap di kostan Nurina. Agak malam, Kak Dimas datang untuk meminjam buku tentang desain yang dimiliki Nurina. Ada Sandy juga yang merupakan tetangga kostan Nurina. Ramai! Di sana kami bergosip mengenai video sang vokalis dan kekasihnya. Percaya ga percaya lah waktu itu. Daripada ngegosip ga jelas, kami main kartu. Pemain yang kalah wajahnya bakal dicorengi dengan bedak yang dicampur air. Yaiks! Sandy menjadi yang pertama kalah, kemudian giliran saya, terus Sandy dan Sandy lagi. Kasihan dia. Dia baru tau permainan ini. Saya juga baru tau belum lama ini, sementara Kak Dimas, Nurina, dan Gita sepertinya sudah mahir dan menang terus! Hahahaha.
Sabtunya saya pulang dengan Kak Dimas. Rencananya mau pulang siang tetapi Kak Dimas ada kuis di kelasnya (tadinya dia mau bolos kalau ga ada kuis). Sampai terminal Leuwipanjang matahari sudah bertengger di barat untuk membenamkan diri. Bye, Bandung!
Makasi ya teman-teman! Maaf juga sudah merepotkan selama saya di Bandung. Jangan kapok ya! :P
I’m happy for having great friends like you all!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar