
sepertinya saya menjadi penggemar baru rubrik koran Kompas, yaitu Persona. akhir-akhir ini saya sering membaca koran di perpus kampus dan mencari-cari edisi hari Minggu. minggu lalu saya bertemu dengan wawancara Kompas dengan Sapardi Djoko Darmono dan minggu ini ada Jeihan Sukmantoro, seorang pelukis.
Artikel di atas ditulis oleh Putu Fajar Arcana.Diterbitkan hari Minggu, 19 Desember 2010.
Jeihan Sukmantoro
Surakarta, 26 September 1938
Pendidikan di Himpunan Budaya Surakarta, Institut Teknologi Bandung (ITB)
Penghargaan: Penghargaan Perintis Seni Rupa Jawa Barat 2006 dan Penghargaan Anugerah Budaya Kota Bandung 2009
Filosofi kunci yang selalu dipegangnya adalah karena tahu saat mati, maka kehidupan harus dirayakan secara baik dan bermanfaat bagi orang lain.
Cuplikan artikel yang merupakan pemikiran Jeihan yang saya sukai.Spiritual
Jeihan memandang hidup seperti pohon. Dalam wilayah instingtif, pohon dan manusia sama. Jika manusia memiliki otak di kepala, pohon memiliki otak pada akar. Jika otak dan akar bobrok, kita akan tumbuh menjadi manusia atau pohon yang brengsek. Pada saat lain, secara instingtif pohon-pohon akan selalu tumbuh mengejar cahaya. Pada dasarnya manusia juga sama. Secara naluriah, manusia mengejar kesempurnaan hidup lewat material dan spiritual.
"Sekarang saatnya saya mencari kesempurnaan, dalam pengertian menyeimbangkan materialisme dan spiritualisme. Jika secara materi saya sudah tercukupi, maka harus diseimbangkan dengan dunia spiritual," kata Jeihan.
"Sekarang saatnya saya mencari kesempurnaan, dalam pengertian menyeimbangkan materialisme dan spiritualisme. Jika secara materi saya sudah tercukupi, maka harus diseimbangkan dengan dunia spiritual," kata Jeihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar