Berbekal restu orang tua dan ongkos
hasil pinjaman sana-sini, pemuda dari kaki gunung Tapatoli di Gorontalo rela menempuh
perjalanan sebelas jam menuju Sam Ratulangi yang akan membawanya terbang ke Soekarno-Hatta
demi mewujudkan cita-cita.
Tekad
bulat Ayis, pemuda yang lahir di penghujung tahun 1988, untuk berkuliah di
ibukota tidak dapat diganggu gugat. Selepas lulus dari SMA Negeri 1 Limbotu
tahun 2007, ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman dan meraih
mimpinya menjadi mahasiswa kampus perjuangan berlambang makara yang terletak di
daerah Depok, Jawa Barat.
Tiga
juta rupiah, hasil tabungan dan pinjaman tetangga, hanya cukup untuk biaya
transportasi Gorontalo-Manado-Jakarta-Depok. Beruntung Ayis bertemu dengan
Safiudin di bandara Sam Ratulangi yang memiliki kenalan di Depok dan
mengantarkan Ayis ke gerbang pendidikan yang lebih tinggi.
Sesampainya
di Soekarno-Hatta, matahari sudah undur diri. Perjalanan menuju ibukota
merupakan yang pertama dan yang terjauh untuk Ayis. Ia mengikuti saran Safiudin
untuk naik taksi menuju Depok tetapi ia juga diingatkan untuk memperhatikan
layar yang menunjukkan besar biaya perjalanan di dashboard samping setir supir. Melihat biaya perjalanan yang
semakin mahal, pemuda ini akhirnya memutuskan untuk turun di daerah Mangga Dua dan
berencana melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum lainnya. Lagi-lagi
Ayis beruntung, seorang ibu separuh baya yang kebetulan warga Depok membantunya
meneruskan perjalanan untuk bertemu dengan kenalan Safiudin di daerah tersebut.
Ayis akhirnya bertemu dengan Khaerudin Jufri dan Rohim, kenalan
Safiudin, merupakan pengurus dan ketua Sekolah
Masjid Terminal (Sekolah MasTer) Depok yang memfasilitasi siswa kurang mampu
mendapat pendidikan, mengikuti ujian dan mendapatkan ijazah. Di tempat inilah
Ayis menimba ilmu dan mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas
idamannya. Sekolah ini merupakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang digagas
oleh Yayasan Bina Insan Mandiri juga menjadi tempatnya tinggal sebelum ia
memasuki bangku kuliah.
Sempat terbersit niat untuk melanjutkan pendidikan di
salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Margonda, Depok. Akan tetapi,
rupiah yang minim mengurungkan niat tersebut. Dengan dorongan dari mahasiswa
Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (pengurus dan relawan Sekolah MasTer),
semangat Ayis kembali berkobar dan membuatnya semakin tekun belajar.
Ayis
tidak hanya belajar tetapi ia juga mengajar untuk tingkat SMP di Sekolah MasTer.
Menjadi pedagang asongan adalah pilihan Ayis untuk mempertahankan hidup yang
jauh dari orang tua. Berjualan koran di kereta, menjajakan aksesoris, dan
berdagang aneka minuman bukanlah hal yang baru untuknya. Ayis kecil terbiasa
bekerja keras, mulai berjualan barang di sekolah sampai menjadi kuli angkut di
pasar. Semua itu ia lakukan untuk membantu orang tua membiayai pendidikannya. Di
perantauannya kini, Ayis juga berjualan sambil belajar. Ayis selalu membawa
buku dan menyempatkan diri untuk belajar di sela-sela aktivitasnya mengumpulkan
rupiah.
Anak ketiga dari empat bersaudara ini boleh gagal dua
kali ujian masuk perguruan tinggi impiannya. Namun nasib berkata lain, hasil
ujiannya yang ketiga melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) berhasil
sesuai dengan apa yang ia dambakan. Ayis Rahim, Sastra Jawa Universitas
Indonesia, dengan urutan dan nomor pokok mahasiswa tertera di koran yang
biasanya ia jual.
Ayis resmi menjadi mahasiswa Universitas Indonesia di
tahun 2008. Pemuda pantang menyerah ini membayar hanya dua ratus ribu rupiah
tiap semester berkat bantuan mahasiswa FEUI dalam birokrasi. Ia pun mendapat
tempat tinggal dan uang saku selama tiga tahun dari beasiswa ETOS yang dikelola
oleh salah satu harian nasional.
Sebuah pencapaian dari kerja keras Ayis selama setahun
ini berhembus begitu cepat sampai akhirnya tercium media. Di hari yang sama
dengan pengumuman SPMB ketika sebagian besar orang kantoran bergegas menuju
kediaman, Sekolah MasTer sudah ramai oleh jurnalis yang ingin meliput Ayis. Para
jurnalis tertib antri menunggu giliran untuk meliput pemuda berprestasi penuh
daya juang dari provinsi ke-32 negara dengan lambang Garuda .
Ia
pernah diremehkan ketika ingin masuk SMAN 1 Limbotu yang merupakan sekolah
unggulan di Gorontalo, juga disangsikan untuk masuk Universitas Indonesia. “Untuk
mencapai sesuatu itu tidak harus pintar tetapi harus berusaha”, ujar pemuda
yang bercita-cita menjadi wirausahawan sukses seperti Chairul Tanjung dan
Donald Trump. Sejak kecil hingga detik ini, puasa, shalat lima waktu, shalat
duha, dan tahajud kerap dilakukan Ayis yang gemar membaca buku-buku tentang finance, property, kesehatan, dan
kuliner. Kini, ia membuktikan bahwa ia mampu menjadi apa yang ia inginkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar