Minggu, 25 Desember 2011

Kisah Pemuda dari Kaki Gunung Tapatoli Gorontalo


Berbekal restu orang tua dan ongkos hasil pinjaman sana-sini, pemuda dari kaki gunung Tapatoli di Gorontalo rela menempuh perjalanan sebelas jam menuju Sam Ratulangi yang akan membawanya terbang ke Soekarno-Hatta demi mewujudkan cita-cita.

Tekad bulat Ayis, pemuda yang lahir di penghujung tahun 1988, untuk berkuliah di ibukota tidak dapat diganggu gugat. Selepas lulus dari SMA Negeri 1 Limbotu tahun 2007, ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halaman dan meraih mimpinya menjadi mahasiswa kampus perjuangan berlambang makara yang terletak di daerah Depok, Jawa Barat.

Tiga juta rupiah, hasil tabungan dan pinjaman tetangga, hanya cukup untuk biaya transportasi Gorontalo-Manado-Jakarta-Depok. Beruntung Ayis bertemu dengan Safiudin di bandara Sam Ratulangi yang memiliki kenalan di Depok dan mengantarkan Ayis ke gerbang pendidikan yang lebih tinggi.

Sesampainya di Soekarno-Hatta, matahari sudah undur diri. Perjalanan menuju ibukota merupakan yang pertama dan yang terjauh untuk Ayis. Ia mengikuti saran Safiudin untuk naik taksi menuju Depok tetapi ia juga diingatkan untuk memperhatikan layar yang menunjukkan besar biaya perjalanan di dashboard samping setir supir. Melihat biaya perjalanan yang semakin mahal, pemuda ini akhirnya memutuskan untuk turun di daerah Mangga Dua dan berencana melanjutkan perjalanan dengan transportasi umum lainnya. Lagi-lagi Ayis beruntung, seorang ibu separuh baya yang kebetulan warga Depok membantunya meneruskan perjalanan untuk bertemu dengan kenalan Safiudin di daerah tersebut. 

            Ayis akhirnya bertemu dengan Khaerudin Jufri dan Rohim, kenalan Safiudin,  merupakan pengurus dan ketua Sekolah Masjid Terminal (Sekolah MasTer) Depok yang memfasilitasi siswa kurang mampu mendapat pendidikan, mengikuti ujian dan mendapatkan ijazah. Di tempat inilah Ayis menimba ilmu dan mempersiapkan diri untuk ujian masuk universitas idamannya. Sekolah ini merupakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang digagas oleh Yayasan Bina Insan Mandiri juga menjadi tempatnya tinggal sebelum ia memasuki bangku kuliah. 

            Sempat terbersit niat untuk melanjutkan pendidikan di salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Margonda, Depok. Akan tetapi, rupiah yang minim mengurungkan niat tersebut. Dengan dorongan dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (pengurus dan relawan Sekolah MasTer), semangat Ayis kembali berkobar dan membuatnya semakin tekun belajar.   

Ayis tidak hanya belajar tetapi ia juga mengajar untuk tingkat SMP di Sekolah MasTer. Menjadi pedagang asongan adalah pilihan Ayis untuk mempertahankan hidup yang jauh dari orang tua. Berjualan koran di kereta, menjajakan aksesoris, dan berdagang aneka minuman bukanlah hal yang baru untuknya. Ayis kecil terbiasa bekerja keras, mulai berjualan barang di sekolah sampai menjadi kuli angkut di pasar. Semua itu ia lakukan untuk membantu orang tua membiayai pendidikannya. Di perantauannya kini, Ayis juga berjualan sambil belajar. Ayis selalu membawa buku dan menyempatkan diri untuk belajar di sela-sela aktivitasnya mengumpulkan rupiah. 

            Anak ketiga dari empat bersaudara ini boleh gagal dua kali ujian masuk perguruan tinggi impiannya. Namun nasib berkata lain, hasil ujiannya yang ketiga melalui Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) berhasil sesuai dengan apa yang ia dambakan. Ayis Rahim, Sastra Jawa Universitas Indonesia, dengan urutan dan nomor pokok mahasiswa tertera di koran yang biasanya ia jual. 

            Ayis resmi menjadi mahasiswa Universitas Indonesia di tahun 2008. Pemuda pantang menyerah ini membayar hanya dua ratus ribu rupiah tiap semester berkat bantuan mahasiswa FEUI dalam birokrasi. Ia pun mendapat tempat tinggal dan uang saku selama tiga tahun dari beasiswa ETOS yang dikelola oleh salah satu harian nasional. 

            Sebuah pencapaian dari kerja keras Ayis selama setahun ini berhembus begitu cepat sampai akhirnya tercium media. Di hari yang sama dengan pengumuman SPMB ketika sebagian besar orang kantoran bergegas menuju kediaman, Sekolah MasTer sudah ramai oleh jurnalis yang ingin meliput Ayis. Para jurnalis tertib antri menunggu giliran untuk meliput pemuda berprestasi penuh daya juang dari provinsi ke-32 negara dengan lambang Garuda .
           
Ia pernah diremehkan ketika ingin masuk SMAN 1 Limbotu yang merupakan sekolah unggulan di Gorontalo, juga disangsikan untuk masuk Universitas Indonesia. “Untuk mencapai sesuatu itu tidak harus pintar tetapi harus berusaha”, ujar pemuda yang bercita-cita menjadi wirausahawan sukses seperti Chairul Tanjung dan Donald Trump. Sejak kecil hingga detik ini, puasa, shalat lima waktu, shalat duha, dan tahajud kerap dilakukan Ayis yang gemar membaca buku-buku tentang finance, property, kesehatan, dan kuliner. Kini, ia membuktikan bahwa ia mampu menjadi apa yang ia inginkan.

Ditulis untuk tugas menulis feature pada mata kuliah Berita dan Cerita Kejahatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar