Kamis, 25 Oktober 2012

Catatan Pendakian Pangrango bersama Jejak Mollusca

Penat seusai ujian tengah semester dibalas dengan pendakian ke puncak tertinggi kedua Jawa Barat. Pendakian dilakukan pertengahan April, yaitu 13-15 April 2012 lalu. Bersama Jejak Mollusca, komunitas penjelajah alam Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), saya dan delapan orang lainnya mendaki Gunung Pangrango melalui jalur Cibodas.

Jumat siang, 13 April 2012, kami bersiap-siap di kostan Wenty. Sembilan anggota perjalanan ini terdiri dari berbagai jurusan dan angkatan FISIP UI, yaitu saya sendiri dan Didi (Kriminologi 2009), Usman (Kriminologi 2008), Wenty (Kesejahteraan Sosial 2009), Muki (Antropologi 2009), Amar (Politik 2009), serta Fajar, Adam, Patria (ketiganya Administrasi tapi lupa Administrasi apa, 2009). Senja sudah menyapa, kami juga sudah siap tetapi masih menunggu Muki yang belum datang juga. Setelah berkali-kali dihubungi via telepon dan sms, akhirnya dia datang juga ketika matahari hampir terbenam. 

Kami berangkat dari Margonda ke Kp Rambutan dengan angkot biru 112, tiap kepala dikenakan biaya Rp 4.000. Belum lima menit di terminal, kami sudah mendapatkan bus AC menuju Cibodas yang menagih ongkos kami sebesar Rp 20.000. Rintik menyambut kedatangan kami di pintu Cibodas, kami berlarian dari bus mencari tempat berteduh. Beberapa dari kami beristirahat dan ada yang berbelanja di minimarket terdekat. Wenty dan Japra (Fajar) bertemu dengan rekan pendaki ketika di Lawu, ketika sedang berbelanja. Namanya Janu. Di pintu Cibodas kami berpisah dengan Janu dan rombongan tetapi Wenty dan Japra berjanji bertemu lagi dengannya. 

Dari pintu Cibodas, kami membayar Rp 4.000 per orang untuk angkot berwarna kuning yang akan membawa kami ke Green Ranger. Pendaftaran pendakian ke Taman Nasional Gede-Pangrango ini sudah kami urus dari Depok secara online dengan daftar di situs gedepangrango.org dan mentransfer sesuai dengan jumlah rombongan, Rp 10.000 tiap orang.  Waktu menunjukan pukul 22.00 di shelter istirahat kami, rombongan bergantian makan dan sholat hingga pukul 23.30. Briefing sebentar dan kami pun tidur karena perencanaannya pendakian dimulai esok subuh pukul 05.00. 

Ternyata perencanaan berubah tiba-tiba. Tidur yang belum lama terlelap sudah dibangunkan pukul 1.30 untuk berkemas. Badan kami yang masih lelah setelah dihantam ujian tengah semester sit in maupun take home yang membuat kami kurang tidur selama dua minggu kemarin, kini dipaksa bangun dari tidur yang hanya sejenak. Apa boleh buat, saya hanya bisa ikut kata ketua perjalanan kali ini, yaitu Wenty dan Japra. Dini hari 02.00, kami bersembilan digabung dengan rombongan Janu yang berjumlah tiga orang bersama-sama melakukan pendakian yang diawali dengan pemanasan dan memanjatkan doa agar perjalanan lancar. 

Beberapa menit berjalan dari Green Ranger, kami tiba di pos pendakian. Kasihan Patria, sepatunya yang sudah lama tidak dipakai seolah tidak bisa diajak kompromi. Sepatunya kami ikat dengan tali rafia agar dapat dipakai dengan layak. Perjalanan kami mulai lagi setelah registrasi ulang di pos tadi. Kami melewati jembatan kayu yang cukup panjang namun lebar dan kokoh. Di ujung jembatan kayu itu menanti kami tanjakan yang membuat nafas terengah-engah. Maklum, saya ini jarang latihan fisik. Saya sering sekali menjadi ekor. Menjelang pagi, kami beristirahat cukup lama setelah menempuh tanjakan yang bertubi-tubi sebelumnya. Akhirnya diputuskan saya duluan agar teman-teman yang lain tidak menunggu saya terlalu lama jika saya di belakang. Berjalan di depan menyenangkan sekali, seperti tidak ada beban. Jam delapan kami berkumpul di pos Kandang Badak untuk sarapan. Kandang Badak adalah pos favorit karena lahan yang cukup luas untuk mendirikan tenda dan ada mata air untuk minum dan keperluan masak-memasak.

mempersiapkan sarapan di Kandang Badak (captured by Janu)

Kandang Badak juga merupakan persimpangan. Tidak jauh dari pos ini kita dapat memilih jalur ke puncak Gunung Gede atau ke puncak Gunung Pangrango. Perjalanan dilanjutkan, energi sudah terbarukan. Treknya tidak seekstrim tanjakan setelah jembatan. Hujan yang mungkin mengguyur di hari sebelumnya membuat trek becek, pohon tumbang di sepanjang jalur juga tidak sedikit. Kantuk benar-benar menerpa saya ketika sedikit lagi sampai puncak. Vegetasi sebelum puncak juga sedikit menipu karena pepohonan masih menjulang tinggi bukan seperti puncak gunung lainnya yang dihiasi tanaman cantigi. Gerimis mengiringi langkah kami menuju puncak. Beberapa anggota rombongan sudah sampai duluan. Saya tak dapat lagi menahan kantuk yang menumpuk dari uts dan kurang tidur semalam. Beberapa kali saya tertidur sambil berdiri dan dibangunkan oleh teman Janu, Sany. Tidur di saat lelah dan di tengah gunung sangatlah tidak disarankan, berbahaya bagi tubuh.

Pukul 14.00 lewat saya sampai di ketinggian 3.019 meter di atas permukaan laut. Ternyata puncaknya memang ditumbuhi pepohonan. Tenda-tenda juga sudah mulai banyak yang terpasang. Dingin mulai menyergap tubuh yang basah karena gerimis tadi. Beberapa mendirikan tenda, beberapa mulai masak-memasak. Nikmatnya di atas gunung bersantap spaghetti berbumbu rendang beserta dagingnya yang empuk. Usai makan siang sekaligus makan malam, kami bergegas tidur setelah matahari redup karena sudah terlampau lelah.  Malamnya kami terbangun karena Patria ternyata berulang tahun tepat 15 April 2012. Kami bangun dan mengucapkan selamat kepadanya. 

Sunrise dari puncak Pangrango
Paginya kami menikmati hangat matahari dari dekat titik triangulasi. Terbitan matahari di sini sayang sekali terhalangi ranting pepohonan. Kami belum menyambangi lembah kasih tempat favorit aktivis dan penulis yang sukses menginspirasi anak muda pada zamannya hingga anak muda masa kini. Ini pertama kali saya menjejakkan kaki ke Lembah Mandalawangi. Tidak seluas Surya Kencana tetapi bunga abadinya lebih lebat. Seketika kedamaian menyelinap ke dalam relung hati. Kabut tipis dan udara dingin menyelimuti tempat ini. Rasanya ingin sekali berlama-lama sambil menulis puisi seperti Soe Hok-gie. 

Lembah Mandalawangi
yg duduk dari kiri ke kanan: Amar, Janu, Patria. yg berdiri: Sany, Ramdhan, Muki, Usman, Adam, Wenty, saya
Belum puas rasanya hanya sebentar menghampiri lembah penuh Anaphalis Javanica. Esoknya rutinitas masih menanti kami. Hari ini kami harus sudah sampai ke rumah atau kostan lagi. Kami pun sarapan dan packing. Pukul 9.10 rombongan berangkat meninggalkan puncak Pangrango. Rombongan terbagi dua, rombongan cepat yang baru sebentar sudah tidak kelihatan lagi. Saya termasuk rombongan lambat bersama rekan yang sedang kurang sehat. Rombongan saya baru sampai Kandang Badak jam 12.00 lebih sementara rombongan cepat sudah tiba satu jam sebelumnya. Kami makan siang dengan cepat karena tidak ingin gelap sebelum sampai pos pendakian. Kami juga melewati hotspring atau aliran air panas di jalur perjalanan. Berhenti sejenak untuk sekedar melepas lelah dan menikmati hangatnya air di kaki-kaki kami yang sudah jauh berjalan.

Menjelang maghrib semua rombongan telah tiba di pos pendakian. Menjadi pengalaman pertama pendakian untuk beberapa anggota rombongan. Setidaknya dirimu telah mencicipi rasanya naik gunung, kawan! Jangan berhenti di sini, lanjutkan pendakian ke puncak lainnya! 

Kami pun mampir di warung makan dekat tempat angkot menunggu penumpang. Saya lupa nama tempatnya. Beberapa dari kami mandi, ada yang mengembalikan energi dengan tidur sebentar, tetapi semuanya tidak lupa untuk santap malam lengkap dengan teh hangat. Pukul 21.30, kami menuju pintu Cibodas, carter angkot dengan harga Rp 35.000. Di pintu Cibodas kami berpisah dengan rombongan Janu. Jejak Mollusca meneruskan perjalanan ke Jakarta naik bus ekonomi dengan merogoh kocek Rp 12.000. Terminal Kp. Rambutan menjadi tempat perpisahan kami. Hanya Muki, Didi, Wenty, dan saya yang ke Depok. Sisanya kembali ke rumah masing-masing. 

Terima kasih Janu dan kawan-kawan telah menemani Jejak Mollusca menjelajahi Pangrango!
Terima kasih juga Jejak Mollusca yang mengijinkan saya berpartisipasi dalam perjalanan ini!
Maaf ya kalo sepanjang perjalanan saya menyusahkan kalian :)

Semoga bertemu lagi di perjalanan berikutnya! Cheers!

3 komentar:

  1. jejak mollusca kemana ya? semenjak tahun ajaran baru belum kelihatan..

    BalasHapus
  2. coba hubungi via twitter aja ke @JejakMollusca atau ke salah satu pengurusnya @WentyArsiya..

    BalasHapus
  3. si janu baru membubuhkan komentar di sini. hehe udah lama gw juga ga update blog :D

    BalasHapus