Jazz Goes to Campus yang dihelat Fakuktas Ekonomi Universitas Indonesia tampaknya tak pernah sepi pengunjung. Meski air langit selalu tumpah, entah deras atau hanya rintik-rintik. Line-up musisi yang mereka undang selalu menarik perhatian. Salah satunya adalah musisi lokal favorit saya, Soulvibe dan Maliq & D'Essentials. Waktu itu JGTC tahun 2009, pertama kali kedatangan saya ke festival ini dan sejauh ini juga yang terakhir.
Ketidaktahuan saya akan Soulvibe yang main sore bikin saya nggak bisa nonton mereka. Saya cuma dengar sayup-sayup vokalisnya mengucapkan terima kasih dan berpamitan. Saya masih di jalan ke venue pas mereka turun panggung. Kesal sekali rasanya tidak bisa menyaksikan penampilan band yang sudah menelurkan dua album itu.
Maliq & D'Essentials selalu dinanti. Saya bersama seorang teman sudah menunggu. Menunggu di panggung di mana masih ada beberapa band yang akan tampil sebelum mereka. Malam itu rintik hujan menemani. Warna-warni payung semarak. Pasangan saling berpeluk. Posisi kami agak di tengah, lumayan lah. Kasihan band-band yang beraksi sebelum Maliq & D'Essentials, penonton kurang apresiatif karena meneriakan nama band yang belum lama merilis album kompilasi bertajuk Radio Killed The TV Star.
Mereka pun muncul setelah penantian kami yang cukup panjang, berdiri beberapa jam di tengah kerumunan orang sambil dibasahi butiran-butiran air. Di atas panggung besar itu, mereka bernyanyi, menyapa penonton, bergerak seiring irama, kami pun bernyanyi bersama. Indah sekali malam itu.
Malam semakin larut. Kami harus pulang. Tanpa kami sangka, jubelan manusia ada di belakang kami. Ramai sekali. Ingin keluar area panggung utama pun sesak. Antri meski berdesakkan. Semua ingin keluar duluan. Sendal teman saya bahkan sampai putus karena terinjak.
Tiga tahun berselang. Band dibawah naungan Organic Records kembali menyambangi kampus bermakara di bulan penuh cinta. Mereka tampil dalam format akustik di Aula Terapung yang berseberangan dengan Balairung untuk launching toko buku yang membuka gerainya di perpustakaan dengan julukan The Crystal of Knowledge. Saya ada kelas ketika mereka mulai manggung, saya telat datang dan massa sudah mengerubung di depan panggung. Saya harus puas cukup bisa menikmati dua lagu terakhir di dekat pintu masuk.
Tujuh bulan telah berlalu. Akhir September saya lihat nama mereka di umbul-umbul plaza dekat rumah sepulang beribadah. Daerah Kabupaten Bekasi, Tambun, sangat jarang ada acara musik yang mendatangkan band sekelas mereka. Kalaupun ada, ya lebih sering di Kota Bekasi yang berbatasan langsung dengan Jakarta. Seingat saya, Bekasi punya Bekasi Jazz Festival.
Penasaran. Saya tanya ke teman-teman kapan band yang terbentuk 2002 ini tampil. Sempat tanya lewat situs microblogging dengan mention ke @MaliqMusic tetapi tidak ada jawaban. Saya cek jadwal manggung mereka pun tidak ada pencerahan. Saya memakai fitur search di situs itu dan menemukan fakta bahwa memang benar mereka akan tampil di acara launching cluster baru suatu perumahan itu mulai jam 10.00 sampai sekitar 12.00, menurut kicauan yang saya dengar.
Saya berpikir, ah paling telat nih acaranya. Saya sampai lokasi menjelang jam 1, tanya ke satpam "Pak, Maliq-nya udah main?", beliau menjawab, "Udah. Belum lama kok. Ke lantai 3 aja". Bergegas saya ke lantai 3 hotel tempat band dengan kepanjangan Music And Live Instrument Quality tampil.
Sesampainya di lokasi saya melihat ada band yang sedang mendendangkan lagu-lagu top 40. Bukan. Mungkin, belum atau malah sudah tampil. Saya pun melontarkan pertanyaan ke mbak penjaga buku tamu apakah saya bisa masuk dan menonton musisi pelantun Untitled itu. Tanpa disangka, acara ini private party. Perlu undangan untuk bisa masuk. Tak lama ia memanggil event organizer. EO itu bilang band yang saya nantikan main jam 14.00, saya juga bisa masuk tetapi nanti ketika mereka sudah di panggung. Ah, masih satu jam lagi dan saya harus menunggu di luar.
Saya sendirian. Mainan telepon genggam juga membosankan. Saya duduk dekat tempat penyimpanan makanan. Beberapa puluh menit kemudian ada modern dance yang atraktif di panggung. Banyak petugas bank yang ikut menonton di bagian belakang, saya mencoba menyelinap. Mbak penjaga buku tamu tidak sadar saya sudah masuk. Tamu-tamu pun terpukau di mejanya masing-masing. Saya lihat ada bangku kosong di sebuah meja dengan keluarga yang sepertinya ramah. Lelah berdiri, saya pun nekat ikutan duduk sama keluarga itu. Minta ijin sama kepala keluarga untuk menumpang duduk dan mengutarakan niat saya datang adalah untuk menonton band kesayangan. Bapak itu pun memaklumi. Setelah modern dance, ada kuis, juga ada sesi painting on t-shirt untuk anak-anak. Jam 14.00 sudah lewat beberapa menit. Was-was.
Setengah jam setelahnya kru band yang memanggil penggemarnyan dengan D'Essentials ini berdatangan. Mempersiapkan segalanya. Gembira sekali saya. Penantian saya tidak sia-sia. Tempat duduk saya sebelumnya ada di kiri panggung. Sudah cukup dekat tetapi saya ingin benar-benar di depan mereka. Lima menit sebelum mereka tampil, meja persis di depan Mas Angga dan Mbak Indah dikosongkan oleh penghuninya. Saya segera beranjak ke sana.
Pukul 14.40 mereka menghibur kami yang ada di ruangan itu. Lighting mulai berganti-ganti warna menyoroti sembilan orang yang berada di atas panggung kecil minimalis. Sang vokalis pria, memberi sapa sejenak, kemudian kembali melantunkan lagu-lagu hits mereka. Tidak banyak bicara seusai lagu, lebih sering mengajak penonton untuk ikut bernyanyi bersama. Beberapa lagu disambung tanpa jeda, hanya instrumen yang mengawali perpindahan senandung indah itu. Saya selalu terpukau dengan grup musik yang satu ini. Sepanjang penampilan mereka saya larut dalam atmosfir yang mereka ciptakan. Dia, Terdiam, Menari, Coba Katakan, Pilihanku dan lagu-lagu lainnya mereka bawakan dengan merdu meski dengan drum yang tak lengkap dan gitar akustik.
| Maliq & D'Essentials |
Saya masih tidak menyangka bisa menyaksikan mereka sedekat ini. Lima meter pun tidak sampai untuk jarak saya dengan panggung. Tanpa harus berdesakkan. Tanpa hujan. Tanpa tiket. Benar-benar sebuah anugrah. Saya bahagia sekali. Belum lagi saya bisa berfoto dengan beberapa personilnya. Terima kasih, Tuhan! Terima kasih Maliq & D'Essentials untuk penampilan kalian yang memberi kebahagiaan :) I will watch you guys at another event!
| Lale (gitaris), saya, Jawa (bassist), dan Ilman (keyboardist) |
| bersama Mbak Indah dan Mas Angga :) |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar