Kamis, 08 Agustus 2013

Mudik

Hari raya Idul Fitri di Indonesia identik dengan yang namanya mudik. Rela menempuh ratusan kilometer hingga menyeberangi lautan demi berkumpul dengan sanak famili saat Idul Fitri. Hampir semua institusi libur saat menjelang bulan Syawal, terkecuali unit pelayanan masyarakat seperti jasa transportasi. Kantor-kantor tutup, libur panjang bagi para pegawainya. Berbeda dengan anak sekolah atau mahasiswa yang masih punya jatah libur semester berminggu bahkan berbulan-bulan lamanya. 

Dengan libur hari raya yang berbarengan antara saya dan orang tua, meski tidak setiap tahun, kami sering kali ikutan mudik ke daerah Kendal, Jawa Tengah. Mengunjungi Opa dan Oma dari ayah saya. Opa yang purnawirawan tentara kemerdekaan mendapatkan sebidang tanah di kota sebelum Semarang. Berbagai transportasi pernah kami coba, mulai kereta, bus hingga mobil. Terakhir saya ke Kendal September 2012 lalu. Mampir sebentar karena kebetulan saya sedang di Semarang, tepatnya Universitas Negeri Semarang. Pecinta alam Fakultas Ilmu Sosialnya mengadakan pendakian massal. Perjalanannya sudah saya tuliskan di sini

Opa sudah tiada semasa awal-awal kuliah saya. Tinggallah Oma di Kendal, ditemani oleh anak-anaknya, kakak dari ayah saya. Sewaktu saya mampir ke sana, kepikunan menghampiri Oma. "Mbak ini siapa ya?", tanya Oma saat saya tiba. Kaget awalnya. Kemudian tante saya menjelaskan kalau ingatan Oma terkadang samar-samar. Faktor usia yang sudah lewat tiga perempat abad. Akan tetapi, kalau diajak ngobrol sambil terus diingatkan, beliau akan ingat kembali. Benar saja, setelah bincang beberapa menit, akhirnya Oma mengenali saya. 

Saya tidak pernah tahu kalau pertemuan itu adalah pertemuan terakhir saya dengan Oma. Dialog kami yang isinya tentang perkuliahan dan kabar keluarga (ayah dan ibu saya) di rumah. Oma pergi ketika saya sedang di Manado. Saya sedang transit menunggu Kapal Republik Indonesia (KRI) untuk melanjutkan perjalanan ke Sangihe dalam rangka Ekspedisi NKRI Koridor Sulawesi. Saya ingat waktu itu saya baru saja keracunan ikan yang saya makan saat sarapan. Badan saya ruam merah dan kepala pusing sekali. Paginya sempat minum susu, tidur sebentar dan merah di tubuh hilang namun pusing tak kunjung musnah. Saya minum obat dan air kelapa. Sorenya kondisi membaik. Telepon dari tante saya masuk. Tante mengira saya sedang di rumah dengan ibu karena ibu tidak bisa dihubungi. Nadanya terburu-buru, seperti ada sesuatu, saya tidak tahu apa. Saya bilang, coba hubungi beberapa menit lagi mungkin sebelumnya telepon sedang sibuk saja. Saya pun melanjutkan istirahat. 

Malamnya saya makan mi rebus di warung Batalyon 712 Telling bersama dengan mahasiswa dan anggota TNI. Seusai makan, saya menghubungi ibu. Lemas seketika mendengar kabar Tuhan telah memanggil Oma. Sore itu, tante yang menelepon saya tidak bilang apa-apa, hanya bilang ada yang penting. Ternyata kabar duka.... Saya tidak tahu harus bagaimana. Pesawat ke Jawa tidak murah. Jika harus ke Kendal, bagaimana dengan ekspedisi? Perlu biaya sendiri untuk bolak-balik Manado - Semarang/Jakarta dan biaya kapal ke Sangihe. Meski mendapat ijin, saya tidak beranjak. Ibu juga menyarankan agar saya tetap melanjutkan kegiatan... 

Tahukah Oma kalau saya ikut ekspedisi dan secara ajaib mendapatkan subkorwil Sangihe. Dikarenakan saya ini peserta tambahan karena berkas yang dikirim rektorat telat hingga saya tidak termasuk dalam subkorwil manapun awalnya. Pasrah saja ditempatkan di mana. Petugas yang mengurus mahasiswa, Pak Nengah, tiba-tiba bertanya saya ingin di mana. Saya bingung karena peserta lain diposisikan oleh dosen-dosen. Di tengah kebingungan saya, Pak Nengah memutuskan. "Kamu di Sangihe aja ya", ujarnya sambil menuliskan nama saya di daftar mahasiswa untuk subkorwil Sangihe. Saya nrimo. Belum browsing wilayah-wilayah lain, saya percaya pasti Tuhan punya rencana di mana saya di tempatkan. Saya pun teringat kalau saya ini masih ada darah dari daerah paling utara Sulawesi. Selain ekspedisi, saya pun berniat untuk mengetahui asal-usul leluhur saya. Oma lahir dan besar di sana. Ayah sering bercerita kalau di Sangihe banyak saudara dan kami merupakan keturunan dari raja-raja di sana. Entah ini benar atau tidak. Sewaktu pembekalan, sempat saya dipindahkan ke subkorwil lain, Sigi kalau tidak salah. Salah seorang teman mempertahankan saya, saya sendiri sedang ke gereja ketika proses pemindahan peserta. Ingin sekali rasanya, sepulang ekspedisi menyambangi rumah Oma, bercerita kalau cucunya ini sudah menginjakkan kaki di tempatnya dulu tumbuh. Bercerita saat bertemu dengan saudara-saudara Oma yang dulu hanya sebatas nama-nama yang dikisahkan ayah. Bahkan, sebelum raga ini tiba di tanah kelahirannya, Oma telah berpulang. Tanpa salam perpisahan... 


This smacked me down. 
Maaf karena tidak bisa hadir di pemakaman. 
Maaf kalau cucumu ini jarang mengunjungi. 
Maaf untuk segala kesalahan yang tak pernah saya sadari. 
Semoga Oma bahagia bersama Bapa di surga. 

Kini, tidak ada lagi mudik. Opa dan Oma sudah tiada. Nenek dari ibu telah mendahului saat ibu lulus SMA. Tersisa kakek dari ibu yang menikah lagi, yang anak tertua dari pernikahan barunya, seumuran dengan saya. Tempat tinggal kakek hanya 15 menit dari rumah. Jika sedang ingin bertandang, tinggal nyalakan motor dan berangkat. 

Bersyukurlah yang bisa mudik, berkumpul dengan keluarga besar, kakek dan nenek yang lengkap. You will never know when they would really disappear. I somehow thank God I couldn't come to my grandparent's funeral. It made me feel they're just out there. Live in Kendal peacefully and I only can't see them alive. Maybe they're sleeping or just go somewhere to a place I can't find..  

to finish this post, I want to say:
Selamat Idul Fitri 1434 H bagi teman-teman yang merayakan. Maaf lahir dan batin, semoga apa yang dulu tersakiti kini telah terobati dan kembali fitri. 

Salam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar