Cobalah meyisihkan waktu untuk menyaksikan video durasi 8 menit 25 detik tersebut. Siapapun pasti tergugah untuk menikmati keindahan golden sunset dari ketinggian 3.145 meter di atas permukaan laut (mdpl). Puncak Merbabu.
Begitu juga kami, saya dan Septia. Dua perempuan yang gigih mendaki gunung meski berjalan selambat ulat bulu. Berbekal keinginan kuat dan kenalan pecinta alam di salah satu fakultas Universitas Negeri Semarang (Unnes), kami berangkat ke Semarang dengan tujuan mendaki Gunung Merbabu.
Mengawali Nopember 2012 dengan duduk manis di kereta Tawang Jaya yang masih seharga Rp 33.500 kala itu. Sekitar 06.30 pagi, sampailah kami di Stasiun Poncol. Duduk - duduk sebentar sambil menunggu stasiun agak sepi. Di perjalanan keluar stasiun, sempat ada seorang bapak yang berteriak "Mas, mas. mau ke mana, Mas? Naik taksi saja!" Saya dan Septia tak menggubris, saya pikir orang yang di belakang saya yang dimaksud oleh bapak tersebut karena di depan saya memang tak ada berjalan. Suara si bapak semakin dekat dan ia berhenti di dekat saya. Ia pun bergumam "Oalah, ternyata perempuan. Pantas saya panggil mas tidak nengok". Bapak tersebut nampaknya mengira saya laki - laki karena pakai topi dan memang dari belakang seperti laki - laki dengan tas carrier yang cukup tinggi. Dengan halus saya menolak tawaran taksi dari bapak tersebut dan kami bergegas mencari angkot menuju Unnes.
Menuju Unnes membutuhkan dua kali naik angkot. Dua - duanya berwarna oranye. Yang pertama angkot oranye bernomor C06 yang akan mengantarkan menuju Kretek Besi. Perhentian pertama untuk melanjutkan dengan angkot oranye tak bernomor menuju kampus keguruan Semarang. Bapak angkot C06 banyak bercerita. Dari keluarga inti, keluarga besar hingga masalah negara. Sampai - sampai kami kebingungan menanggapi cerita si bapak dan hanya bisa menjadi pendengar yang baik saja.
KSG Social Adventure Club yang merupakan kelompok pecinta alam Fakultas Ilmu Sosial Unnes menyambut baik duo ulet bulu. Kami ingin menjejak Merbabu dari Wekas dan turun di jalur Selo, seperti gambar bergerak yang saya sajikan di awal tulisan. Kalau memang mampu, kami ingin langsung ke Merapi. Apa daya, sepertinya kami harus mengurungkan niat ke Merbabu dan Merapi karena awak KSG SAC yang akan mengantarkan kami menggunakan motor. Jadi, kalau ingin ke Merbabu, berangkat dan pulang harus dari jalur yang sama. Kami pun beralih menuju gunung yang lain. Saya memberikan pilihan pada Septia antara Sumbing atau Sindoro, keduanya kalau perlu. Pilihan pertama jatuh ke Sindoro melihat trek Sumbing yang cukup sulit dan kami berdua memang minim latihan fisik. Keputusan sudah bulat, Sindoro kami dataang!!!
Terdapat tiga orang anggota KSG SAC dan satu orang mahasiswa Unnes yang mengantarkan kami. Terdiri dari Nezar, Nisa, Anggoro dan Radit. Dengan tiga bebek besi bermesin, kami menuju basecamp Kledung dari Semarang. Kurang lebih tiga jam perjalanan Semarang - Wonosobo. Berangkat sekitar 19.00 dan sampai 22.00. Pinggang rasanya pedot alias pegal sekali. Belum lagi carrier yang menggantung di punggung. Baru kali ini saya menuju basecamp pendakian menggunakan motor dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Berkesan.
Kami beristirahat sebentar dan langsung membongkar packingan. Satu carrier ditinggal. Hanya dua orang yang membawa carrier, tiga orang daypack dan satu orang membawa head carrier saja. Simaksi Rp 3.000 per orang dan biaya penitipan motor Rp 5.000 per motor. Pada 2 Nopember 2012 yang akan berakhir satu jam lagi, kami pun berangkat. Gerimis menyambut lembut. Kami memasang jubah penangkal rembesan hujan. Hujannya ternyata tidak lama. Menggunakan jubah ini malah terasa gerah. Di perbatasan ladang dan hutan, kami menanggalkan atribut penangkal hujan tersebut.
Target kami Pos 3. Batas vegetasi sebelum puncak di 3.153 mdpl. Berjalan di malam hari memang tak terasa tapi oksigen tipis dan pemandangan hanya gelap. Sekitar pukul 03.00 dini hari, kami tiba di Pos 3 dan segera mendirikan tenda. Hanya membawa satu tenda kapasitas 4 orang untuk 6 orang. Kami tidur berhimpitan dan satu orang tidur di bawah kaki - kaki kami. Maafkan kami ya, Zar. Kami terbangun pukul 07.30. Tidak lupa sarapan terlebih dahulu sebelum akhirnya summit attack pukul 10.00.
Anggoro tidak ikut muncak sementara Nezar masih ingin meneruskan tidurnya yang tidak nyenyak. Ia bilang akan menyusul kami. Anggoro bertugas untuk menjaga barang - barang kami, banyak berita yang mengabarkan bahwa di Sindoro ada oknum yang sering mengambil barang - barang pendaki yang ditinggal ketika mereka menuju puncak.
Pemandangan menuju puncak indah sekali. Terdapat batu - batu tatahan, yaitu batu yang entah tersusun seperti itu atau disusun oleh manusia, hingga membentuk susunan yang indah. Pepohonan tidak banyak dan sebagian besar kering tanpa dedaunan. Sejauh mata memandang, hamparan ilalang menguning sepanjang jalur pendakian.
Saya hampir putus asa karena puncak yang terlihat dekat tapi tak juga saya pijak. Teman - teman KSG SAC yang tak ikut, sewaktu di Semarang sudah mewanti - wanti kalau banyak puncak bayangan di Sindoro. Harus sabar - sabar. Kesabaran saya membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam. Tiba lah kami di ketinggian 3.153 mdpl. Awan menghampar memberi salam pada kami yang terus berjuang menuju puncak. Kawah gunung yang bersebelahan dengan Sumbing ini mengepul. Sumbing pun terlihat jelas meski kadang tertutup awan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika kaki ini berpijak di puncak gunung.
Kami tak bisa berlama - lama di puncak. Matahari semakin meredup. Kami harus bergegas menuju tempat berkemah sebelum gelap. Sempat gerimis dalam perjalanan turun. Membuat bebatuan di jalur semakin licin. Saya sempat tergelincir beberapa kali. Harus hati - hati dalam melangkah. Kalau tidak, bisa - bisa lecet seperti saya.
Kami bermalam satu hari lagi. Mengisi energi untuk perjalanan turun dan perjalanan pulang dengan motor esok pagi. Esoknya, Minggu, 4 Nopember 2012, kami beranjak pulang. Menjelang pukul 08.00 kami melangkahkan kaki dan menurunkan carrier di basecamp menjelang jam makan siang. Mencapai Puncak Sumbing tampaknya hanya tinggal rencana. Kami menghibur diri dengan santap makan siang dan membersihkan diri di basecamp Sumbing yang hanya berjarak tempuh sekitar 10 menit dari basecamp Sindoro.
Mungkin memang belum waktunya menyambangi ketinggian 3.371 mdpl. Hal ini dikarenakan tiket kereta sudah menunggu kami di Senin sore dan teman - teman KSG SAC kebetulan ada acara yang harus mereka tangani. Sumbing, kapan - kapan ya kita bertemu lagi.
Seusai makan siang, kami mampir ke toko suvenir di dekat basecamp Sumbing. Sayangnya, suvenir Sindoro tidak ada yang menarik hati. Saya hanya membeli stiker saja. Setelah teman - teman puas berbelanja, kami kembali harus berjibaku dengan jalanan menuju Semarang. Sore hari kami dari Wonosobo. Di perjalanan sempat turun kabut yang menghalangi pandangan. Tiba di Semarang sekitar pukul 19.00. Tak terasa pendakian sudah berakhir dan yang tersisa hanya lelah yang menjalar di sekujur tubuh tetapi tetap hati senang bisa melakukan pendakian.
Kereta kami masih besok sore. Malam ini kami menginap di kosan Nisa dan esoknya jalan - jalan di Kota Semarang yang akan saya tulis terpisah.
Terima kasih, teman - teman KSG SAC!
Terutama Mas Popo yang sudah saya repotkan dari awal, bersedia mengurus siapa - siapa yang akan menemani hingga mengusahakan kosan Nisa untuk tempat kami bermalam. Terima kasih banyak.
Terima kasih Nezar, Nisa, Anggoro dan Radit yang telah sabar menemani langkah kaki kami yang cukup lambat..
Terakhir, terima kasih Septia untuk terus menjadi rekan setia pendakian meski sering kali kita mengalami hal - hal random di perjalanan. Thank you so much!
Ayo naik di musim yang baik!
Mengawali Nopember 2012 dengan duduk manis di kereta Tawang Jaya yang masih seharga Rp 33.500 kala itu. Sekitar 06.30 pagi, sampailah kami di Stasiun Poncol. Duduk - duduk sebentar sambil menunggu stasiun agak sepi. Di perjalanan keluar stasiun, sempat ada seorang bapak yang berteriak "Mas, mas. mau ke mana, Mas? Naik taksi saja!" Saya dan Septia tak menggubris, saya pikir orang yang di belakang saya yang dimaksud oleh bapak tersebut karena di depan saya memang tak ada berjalan. Suara si bapak semakin dekat dan ia berhenti di dekat saya. Ia pun bergumam "Oalah, ternyata perempuan. Pantas saya panggil mas tidak nengok". Bapak tersebut nampaknya mengira saya laki - laki karena pakai topi dan memang dari belakang seperti laki - laki dengan tas carrier yang cukup tinggi. Dengan halus saya menolak tawaran taksi dari bapak tersebut dan kami bergegas mencari angkot menuju Unnes.
Menuju Unnes membutuhkan dua kali naik angkot. Dua - duanya berwarna oranye. Yang pertama angkot oranye bernomor C06 yang akan mengantarkan menuju Kretek Besi. Perhentian pertama untuk melanjutkan dengan angkot oranye tak bernomor menuju kampus keguruan Semarang. Bapak angkot C06 banyak bercerita. Dari keluarga inti, keluarga besar hingga masalah negara. Sampai - sampai kami kebingungan menanggapi cerita si bapak dan hanya bisa menjadi pendengar yang baik saja.
KSG Social Adventure Club yang merupakan kelompok pecinta alam Fakultas Ilmu Sosial Unnes menyambut baik duo ulet bulu. Kami ingin menjejak Merbabu dari Wekas dan turun di jalur Selo, seperti gambar bergerak yang saya sajikan di awal tulisan. Kalau memang mampu, kami ingin langsung ke Merapi. Apa daya, sepertinya kami harus mengurungkan niat ke Merbabu dan Merapi karena awak KSG SAC yang akan mengantarkan kami menggunakan motor. Jadi, kalau ingin ke Merbabu, berangkat dan pulang harus dari jalur yang sama. Kami pun beralih menuju gunung yang lain. Saya memberikan pilihan pada Septia antara Sumbing atau Sindoro, keduanya kalau perlu. Pilihan pertama jatuh ke Sindoro melihat trek Sumbing yang cukup sulit dan kami berdua memang minim latihan fisik. Keputusan sudah bulat, Sindoro kami dataang!!!
Terdapat tiga orang anggota KSG SAC dan satu orang mahasiswa Unnes yang mengantarkan kami. Terdiri dari Nezar, Nisa, Anggoro dan Radit. Dengan tiga bebek besi bermesin, kami menuju basecamp Kledung dari Semarang. Kurang lebih tiga jam perjalanan Semarang - Wonosobo. Berangkat sekitar 19.00 dan sampai 22.00. Pinggang rasanya pedot alias pegal sekali. Belum lagi carrier yang menggantung di punggung. Baru kali ini saya menuju basecamp pendakian menggunakan motor dan dalam jangka waktu yang cukup lama. Berkesan.
Kami beristirahat sebentar dan langsung membongkar packingan. Satu carrier ditinggal. Hanya dua orang yang membawa carrier, tiga orang daypack dan satu orang membawa head carrier saja. Simaksi Rp 3.000 per orang dan biaya penitipan motor Rp 5.000 per motor. Pada 2 Nopember 2012 yang akan berakhir satu jam lagi, kami pun berangkat. Gerimis menyambut lembut. Kami memasang jubah penangkal rembesan hujan. Hujannya ternyata tidak lama. Menggunakan jubah ini malah terasa gerah. Di perbatasan ladang dan hutan, kami menanggalkan atribut penangkal hujan tersebut.
Target kami Pos 3. Batas vegetasi sebelum puncak di 3.153 mdpl. Berjalan di malam hari memang tak terasa tapi oksigen tipis dan pemandangan hanya gelap. Sekitar pukul 03.00 dini hari, kami tiba di Pos 3 dan segera mendirikan tenda. Hanya membawa satu tenda kapasitas 4 orang untuk 6 orang. Kami tidur berhimpitan dan satu orang tidur di bawah kaki - kaki kami. Maafkan kami ya, Zar. Kami terbangun pukul 07.30. Tidak lupa sarapan terlebih dahulu sebelum akhirnya summit attack pukul 10.00.
| Satu tenda untuk berenam. Bayangkan gimana di dalam :) |
Anggoro tidak ikut muncak sementara Nezar masih ingin meneruskan tidurnya yang tidak nyenyak. Ia bilang akan menyusul kami. Anggoro bertugas untuk menjaga barang - barang kami, banyak berita yang mengabarkan bahwa di Sindoro ada oknum yang sering mengambil barang - barang pendaki yang ditinggal ketika mereka menuju puncak.
| Hamparan ilalang. |
Pemandangan menuju puncak indah sekali. Terdapat batu - batu tatahan, yaitu batu yang entah tersusun seperti itu atau disusun oleh manusia, hingga membentuk susunan yang indah. Pepohonan tidak banyak dan sebagian besar kering tanpa dedaunan. Sejauh mata memandang, hamparan ilalang menguning sepanjang jalur pendakian.
| Batu tatahan yang indah namun rusak oleh vandalisme. |
Saya hampir putus asa karena puncak yang terlihat dekat tapi tak juga saya pijak. Teman - teman KSG SAC yang tak ikut, sewaktu di Semarang sudah mewanti - wanti kalau banyak puncak bayangan di Sindoro. Harus sabar - sabar. Kesabaran saya membutuhkan waktu sekitar 4,5 jam. Tiba lah kami di ketinggian 3.153 mdpl. Awan menghampar memberi salam pada kami yang terus berjuang menuju puncak. Kawah gunung yang bersebelahan dengan Sumbing ini mengepul. Sumbing pun terlihat jelas meski kadang tertutup awan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika kaki ini berpijak di puncak gunung.
| Kepulan asap kawah Sindoro |
| Di Puncak Sindoro |
Kami tak bisa berlama - lama di puncak. Matahari semakin meredup. Kami harus bergegas menuju tempat berkemah sebelum gelap. Sempat gerimis dalam perjalanan turun. Membuat bebatuan di jalur semakin licin. Saya sempat tergelincir beberapa kali. Harus hati - hati dalam melangkah. Kalau tidak, bisa - bisa lecet seperti saya.
| Sumbing sore hari dari Sindoro. |
Kami bermalam satu hari lagi. Mengisi energi untuk perjalanan turun dan perjalanan pulang dengan motor esok pagi. Esoknya, Minggu, 4 Nopember 2012, kami beranjak pulang. Menjelang pukul 08.00 kami melangkahkan kaki dan menurunkan carrier di basecamp menjelang jam makan siang. Mencapai Puncak Sumbing tampaknya hanya tinggal rencana. Kami menghibur diri dengan santap makan siang dan membersihkan diri di basecamp Sumbing yang hanya berjarak tempuh sekitar 10 menit dari basecamp Sindoro.
| Sumbing pagi hari dari batas vegetasi. |
| Full team: (kiri ke kanan) saya, Nezar, Radit, Septia, Nisa dan Anggoro. |
Mungkin memang belum waktunya menyambangi ketinggian 3.371 mdpl. Hal ini dikarenakan tiket kereta sudah menunggu kami di Senin sore dan teman - teman KSG SAC kebetulan ada acara yang harus mereka tangani. Sumbing, kapan - kapan ya kita bertemu lagi.
Seusai makan siang, kami mampir ke toko suvenir di dekat basecamp Sumbing. Sayangnya, suvenir Sindoro tidak ada yang menarik hati. Saya hanya membeli stiker saja. Setelah teman - teman puas berbelanja, kami kembali harus berjibaku dengan jalanan menuju Semarang. Sore hari kami dari Wonosobo. Di perjalanan sempat turun kabut yang menghalangi pandangan. Tiba di Semarang sekitar pukul 19.00. Tak terasa pendakian sudah berakhir dan yang tersisa hanya lelah yang menjalar di sekujur tubuh tetapi tetap hati senang bisa melakukan pendakian.
| Anggoro dan Nisa berpose sebelum kembali ke Semarang. |
Kereta kami masih besok sore. Malam ini kami menginap di kosan Nisa dan esoknya jalan - jalan di Kota Semarang yang akan saya tulis terpisah.
Terima kasih, teman - teman KSG SAC!
Terutama Mas Popo yang sudah saya repotkan dari awal, bersedia mengurus siapa - siapa yang akan menemani hingga mengusahakan kosan Nisa untuk tempat kami bermalam. Terima kasih banyak.
Terima kasih Nezar, Nisa, Anggoro dan Radit yang telah sabar menemani langkah kaki kami yang cukup lambat..
Terakhir, terima kasih Septia untuk terus menjadi rekan setia pendakian meski sering kali kita mengalami hal - hal random di perjalanan. Thank you so much!
Ayo naik di musim yang baik!
waaaaahhh.. keren catper videonya kaaaaaaak :)
BalasHapusTerima kasih sudah mampir. Tapi itu bukan video saya, itu video perjalanan teman saya..
BalasHapus