Rabu, 18 Juni 2014

Batu Bara atau Permata

Kehidupan akan berjalan terus. Dengan atau tanpa saya. 

Mungkin, saya terlalu kuat hingga diberi cobaan yang berat. Sedang ditempa. Teringat perkataan Anies Baswedan di sebuah sesi bincang - bincang di kampus, "Terserah kalian mau jadi batu bara atau permata.". Nilai batu bara berdasarkan jumlah yang besar, per ton. Mengeruk perut bumi. Permata diproses dengan suhu yang tinggi dan waktu yang lama. Membuatnya berkilau dan begitu bernilai. 

Namun, apakah saya punya waktu yang cukup untuk jadi permata. Apakah saya mempunyai kekuatan yang super untuk bertahan pada suhu yang tinggi dari kehidupan. Apakah lingkungan saya juga memaklumi bahwa saya sedang berproses. Berproses dengan cara yang sedikit berbeda dengan teman - teman kebanyakan yang kuliah dan lulus tepat waktu. 

Silakan mencemooh saya bodoh. 

Mungkin, memang saya yang mengacaukan hidup saya sendiri. Kemudian menyusahkan orang tua dengan biaya pendidikan dan hidup yang seharusnya sudah beliau lepaskan tanggung jawab itu. Berlutut pun mungkin tak mampu membuat kedua orang yang saya sayangi mengampuni. 

Mampu kah saya melewati semua ini? Dalam tangis yang meraung - raung tadi pagi sempat terpikir kata mati. Tak harus memikirkan apa - apa lagi. Tak perlu menanggung apa - apa lagi. Hingga kata itu pergi sendiri dalam lelap kelelahan tangisan hari ini. 

Meski tertatih, saya tetap berjalan. Meniti langkah - langkah menuju garis finish yang ditentukan oleh sistem. Walaupun harus memulainya di babak yang baru. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar