Jumat, 20 Juni 2014

Tiga Tjeret: Menikmati "Angkringan" ala Restoran

Cuaca ekstrem awal tahun berhasil menggagalkan pendakian kami ke Gunung Lawu. Berbesar hati ketika pagi sesampainya di pos pendakian disambut kabut pekat yang tak jua hilang. Sore masih terasa seperti pagi karena jarak pandang yang tak berubah sejak kami tiba. Saat itu, pendakian ke gunung yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur resmi ditutup. 

Kami menghibur diri dengan berjalan - jalan sekitar Kota Solo. Rombongan yang terdiri dari sebagian anggota BEM FISIP UI 2012 ini mampir ke sebuah kafe di Jalan Ronggowarsito. Berniat menguapkan lelah setelah berbelanja pakaian di Pasar Klewer kemudian berjalan kaki ke Pasar Triwindu. Sayangnya, kami tak bisa menjelajahi pasar barang antik tersebut karena kebanyakan tokonya sudah tutup sore itu. 

Kami bertigabelas memutuskan untuk istirahat sekaligus makan malam di Tiga Tjeret. Ada Marcella Zalianty yang sedang mempromosikan film terbarunya, Rectoverso, di lantai dasar. Kami pun beranjak ke atas untuk mencari tempat. Sebenarnya, pembeli dapat memilih langsung menu pilihannya di bawah atau disebut dengan self service restaurant. Namun karena sedang ada kegiatan, pramusaji mencatat pesanan kami.  


"Wah, bakalan mahal nih!", gumam saya dalam hati. Kantong sudah tipis karena budget untuk 2-3 hari itu sudah dialokasikan untuk logistik di gunung. Bisa dibilang over budget karena makan dan belanja di kota dengan slogan The Spirit of Java ini tak masuk dalam perencanaan awal. Sumringah setelah melihat daftar harga yang tertera di menu. Benar - benar tak jauh beda dengan harga angkringan biasanya. Saya pun memesan nasi kucing dengan lauk teri dan air mineral. Merogoh kocek tak sampai Rp 10.000 karena nasi kucing Rp 2.500 namun saya lupa harga air mineral. 

Makan malam hemat, nasi kucing. 

Kafe yang terletak di seberang Pura Mangkunegaran ini sukses bikin kami betah berlama - lama untuk berbagi cerita. Nongkrong asik tapi nggak bikin kantong meringis. Beberapa ada yang nambah dan karena acara promo sudah selesai, sudah bisa ambil sendiri menu yang diinginkan. Menu yang ditawarkan terdiri dari nasi kucing dengan bermacam lauk, tahu dan tempe bacem, beaneka ragam sate sampai cemilan berupa pisang goreng dan roti bakar. Untuk melepas dahaga, tersedia teh, kopi, jahe dan minuman olahan khas seperti Jahe Tiga Tjeret dan Jahe Kecik. Harganya pun bersahabat, berkisar Rp 2.500 - Rp 15.000 per porsinya. Ruangan dihiasi dengan lampu yang menggantung dan tersusun dari gelas - gelas plastik membuat cahaya lampu tak terlalu menyilaukan. Selain itu, terdapat kliping entah koran atau majalah yang berisi gambar dan cerita yang cukup vulgar terbingkai di dindingnya. Kliping yang dipajang berupa susunan gambar foto yang bercerita serupa komik dan artikel dengan foto - foto sebagai ilustrasinya. Nampaknya, kliping ini lebih tua dari saya karena penulisan artikelnya masih menggunakan ejaan lama seperti randjang dan djalang.

Suasana di Tiga Tjeret
Dari kiri ke kanan: Deo, Novi, Giga, Bora, Mizan, Galih, saya, Melly, Rizky, Affin

Angkringan dikenal sebagai warung hik atau warung dengan hidangan istimewa ala kampung. Kini, warung tersebut berevolusi menjadi tempat permanen berdesain menarik dengan harga yang tetap terjangkau. Padahal, tempat - tempat seperti ini biasanya memberikan harga yang berkali lipat lebih tinggi daripada warung - warung yang ada di pinggir jalan. Nuansa restoran yang ditawarkan membuat setiap orang enggan untuk cepat - cepat beranjak. Pikiran pun melayang. Kalau saja ada kafe seperti ini di Depok, mungkin akan menjadi salah satu kafe favorit saya. 

Hari semakin malam. Kami cuci tangan dulu sebelum pulang. Tempat untuk mencuci tangannya pun unik dengan teko besi abu - abu dan ember berukuran sedang. Tradisional berdampingan dengan modernitas. 
Cucilah tangan sebelum dan sesudah makan. 
Inilah sepenggal kisah perjalanan Solo di awal tahun 2013. Bersama dengan dua belas anggota BEM FISIP UI 2012 yang seru banget! Padahal, saya anak BEM juga bukan. Kebetulan aja temannya para pejabat tinggi di BEM seperti Affin dan Reza, ketua dan wakil ketua BEM FISIP UI 2012. Hehe. Pokoknya, sungguh menyenangkan! Terima kasih Affin, Reza, Iman, Bora, Rizky, Giga, Galih, Deo, Ayas, Mizan, Novi dan Melly. Terima kasih Giga untuk rumah sebagai tempat singgah beserta hidangannya! 


Menikmati senja di Surakarta





Gambar diambil oleh anggota perjalanan dengan kamera Ayas (@waraaninditari). Mungkin ada yang diambil Ayas tapi kameranya dipegang bergantian, jadi saya tidak tahu mana gambar yang diambil Ayas dan mana hasil yang lain. Gambar nasi kucing oleh saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar