Sabtu, 03 Oktober 2015

Entahlah #4

Nampaknya, awan-awan sedang berkerumun

Biar kabut yang membawa segala resah pergi..

28 Januari 2015


---------------------------------------------------------

Ada fase di mana dirimu tak berdaya
Ada fase di mana dirimu mencari-cari motivasi,
alasan untuk bangkit lagi

Proses pencarian itulah yang penting
Karena jika tak juga menemukannya..
Dirimu akan terperosok

Ketika dirimu mengetahui alasannya,
bahkan sudah hafal betul rupa-rupa alasan itu,
namun dirimu masih saja di titik yang sama..

Nampaknya, ada persoalan lain..

Persoalan lain yang harus ditemukan
untuk kemudian dipecahkan.

11 Februari 2015

---------------------------------------------------------

"Memahami bahwa mencintai adalah sebuah usaha.
 Usaha untuk membahagiakan orang yang kita cintai.."

25 Februari 2015

---------------------------------------------------------

"Bagi sebagian orang, mungkin kita hanya statistik.
 Tak menarik."

10 Maret 2015

---------------------------------------------------------

Pernah ada
Kini, tiada

Selalu berkabar
Kini, tak pernah berujar

Dulu menyempatkan waktu,
sekarang mangkir melulu?

Tak lagi saling menggenggam
Tak jua mendendam
Hanya hati yang remuk redam

Tak ada lagi kita
Jangan sampai jadi 'anda'

Kini, semua berbeda

Selayaknya menerima,
tanpa tanda tanya
Tanpa durjana
Lapang dada.

8 Mei 2015

---------------------------------------------------------

"Kekecewaan membuat tidur semakin lelap,
 Semakin dalam.."

20 Mei 2015

---------------------------------------------------------


Berpikir tentang bagaimana sesuatu dianggap salah,
jika yang menanggap itu sendiri belum bersikap adil

Sebagai manusia yang mampu merasakan rupa-rupa rasa.
Haruskah mengabaikannya?

Sebagai manusia yang berbatas waktu,
patutkah kita terus menunggu?

Cara terbaik untuk menghadapi adalah melepaskan.

Melepaskan yang membelenggu.
Pada ikatan yang mengisutkan pikiran dan menumpulkan perasaan.

Kemudian, berjalanlah tanpa perlu mengulang kisah Sodom dan Gomora.

2.12, 4 Juni 2015

---------------------------------------------------------

Akan menjadi apa.
Bagaimana?

Menuju penghujung.

Berujung.
Titik akhir satu etape.
Meniti jembatan ke etape selanjutnya.

Mesti cekatan.
Seimbang.
Atau akan tumbang.

Percayakah?
Pada diri.
Pada Ilahi.
Pada seisi bumi.

Sanggupkah?
Tuk terus berjalan.
Tuk terus bertahan.
Terhadap kencangnya angin.
Terhadap malam yang dingin.

Inikah..
Yang disebut sebagai jalan nasib.
Suratan takdir.
Garis tangan.

Dalam kekang nilai dan norma.

3.17, 24 Juli 2015  

---------------------------------------------------------

Anda berseru-seru tentang tanggung jawab.
Tak sadarkan itu semua karena Anda?
Anda yang berseru-seru namun Anda juga yang mangkir melulu.
Ketika benang kusut, Anda bersungut-sungut. Menyalahkan benang yang tumpang tindih tak keruan. Padahal, Anda sendiri yang tak meluruskannya.
Anda tak pernah sudi dipersalahkan. Anda berbalik menuding. Nyata-nyatanya, ini semua tanggung jawab Anda.
Anda selalu lebih marah daripada pihak yang Anda buat jadi kekurangan.
Anda selalu menggurui tapi tidak pernah meneladani.

Orang yang mendengar ceramah tidak terhindar dari dosa. Orang yang melihat kebajikan nyata niscaya terketuk hatinya.

Sebaik-baiknya kata adalah ketika ia bertransformasi dalam tindakan nyata.
Ah ya. Lupa kalau Anda lebih berkuasa. Orang lain pun tak bisa berbuat apa-apa. Semua ini pun hanya akan jadi gerutuan belaka.

1.17, 8 Agustus 2015 

---------------------------------------------------------

Mengingat yang telah berlalu.
Membuat hati seperti diketok palu.
Ngilu.

1.59, 24 Agustus 2015

---------------------------------------------------------

Cahaya mercusuar di teluk itu berkelebat.
Ombak berdebur, angin berhembus dan langit malam menjadi atap kita.

Di hadapan kita kapal berlalu lalang, menerangi laut dengan cahayanya.
Bersandar di bahumu sambil bercerita tentang apa saja.
Jemari kita saling mengisi ruang satu sama lain.

Suatu masa yang tersimpan dalam laci memori. 
Seharusnya sudah terkunci, namun hati ternyata punya kunci duplikatnya.

2.00, 24 Agustus 2015

---------------------------------------------------------

Kepada malam yang selalu paham tentang luka mendalam.
Kepada gelap yang membuat kita terlelap.
Kepada angkasa yang penuh misteri dan juga janji-janji.

Ada manusia yang mencari jawab, dari sebuah tanya.
Ada manusia tergeletak bersama hati yang retak.
Ada yang terkulai, melangkah gontai.

Menanti-nanti apa yang disebut takdir.
Menebak-nebak teka-teki nasib.

Malam berinya damai.
Melalui kelopak yang menutup jalan terang.

Karna hanya itu yang membuatnya berhenti tersiksa.

1.25, 14 September 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar