Selasa, 05 Mei 2015

Entahlah #3

Kepada suatu masa yang tidak bisa diganti.
Suatu masa yang dulu kita nanti-nanti.

Selimut kabut di lapangan hijau.
Udara dingin remukkan tulang.
Kita harus terbangun ketika peluit ditiup.
Ketika teriakan bersahut-sahutan.

Kita pada masa itu.
Masa yang telah berlalu.
Yang kadang jadi benalu.
Yang kadang buat kita tersipu.

Dini hari, 3.49, 2 April 2015. 

---------------------------------

Hidup seperti detik-detik pergantian lampu lalu lintas.
Dari merah menjadi hijau.
Silau.
Statis.
Menunggu.
Jemu.

Malam 26 Desember 2014. 

----------------------------------

Jiwa melayangi malam.

Jiwa mengembara angkasa.
Saat terpejam mata.

Jiwa bertanya
Hendak ke mana.

Tak ada tanda.

Jiwa menghamba cahaya
yang merangsek masuk retina.

Kembali pada kicau pagi.
Pada burung yang bernyanyi.

Minggu, 7 September 2014

----------------------------------

Tentang hati-hati yang hilang.
Tentang raga-raga yang mengerang.
Tentang hari-hari yang benderang.

Commuter line, 3.28, 23 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar