2016 sudah berakhir.
Apa yang pernah direncanakan dan dimimpikan, ada yang tercapai ada yang tertangguhkan. Bahkan mungkin tak pernah terealisasikan.
Di persimpangan jalan kita bertemu orang-orang. Untuk singgah sejenak, atau dalam periode waktu tertentu yang tak pernah kita duga. Menyisakan kenangan yang ingin terus kita jaga atau sengaja ingin kita lupa.
Sedikit merangkum 2016, sekadar untuk mengingatkan di masa depan ada sebuah masa bahagia hingga yang menyesakkan dada pernah kita lewati.
Januari - April
Proyek penelitian di suatu perusahaan yang berbasis di Sudirman berakhir. Sekitar tiga bulan lebih menjadi penglaju yang harus berdesakkan di pagi dan sore hari. Sempat beberapa kali hampir pingsan karena kereta listrik yang terlampau sesak. Januari menjadi masa rehat sebentar setelah bulan-bulan melelahkan menjadi pekerja kantoran.
Februari hingga pertengahan Maret mendapat proyek pekerjaan yang lain. Cukup untuk kehidupan sehari-hari dan menabung untuk liburan yang tertunda sejak masa kelulusan. Sejak lulus di Agustus 2015, liburan panjang belum pernah saya lakukan. Dengan konspirasi semesta, saya pun melakukan solo trip ke Flores, menjelajahi tiap kota di pulau itu dari Maret hingga April selama 39 hari perjalanan! Berkelana dari Larantuka hingga Labuan Bajo. Mengikuti prosesi Paskah Semana Santa, trekking ke Kelimutu, Inerie dan Wae Rebo hingga menikmati indah pantai-pantai di pulau-pulau TN Komodo. Cerita lengkapnya dapat dibaca di blog Teras Kata
Mei - Agustus
Sepulangnya dari Flores, seorang teman meminta bantuan untuk acara yang diadakan perusahaannya. Persiapan selama satu bulan yang cukup menyibukkan. Acara di bulan Mei terbilang sukses meski berakhir cukup mengecewakan karena hasil kerja keras yang harus saya terima tertunda cukup lama. Sebagai pekerja lepas, hal ini begitu krusial karena penghasilan utamanya dari acara-acara tersebut.
Sekitar akhir Mei saya mendapat lagi pekerjaan lepas sebagai penerjemah deskripsi produk elektronik. Sekilas tampak mudah, tetapi dengan kuantitas dan tenggat waktu yang diberikan, sangatlah menguras energi saya. Hasil yang dijanjikan pun cukup menggiurkan. Lagi-lagi permasalahan menjadi pekerja lepas adalah penghasilan yang kerap tidak tepat waktu. Tanpa adanya kontrak tertulis, sulit untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan dalam memberikan bayaran sesuai perjanjian. Saya pasrah dan hampir menyerah.
Sejak lulus, saya bertahan hidup menjadi pekerja lepas dan tidak lagi meminta biaya dari orang tua. Perjalanan ke Flores di awal tahun menguras tabungan saya, memang sebuah pertaruhan tersendiri waktu itu. Ekspektasi saya, dengan acara di awal Mei tersebut dapat menopang kehidupan sehari-hari saya. Ditambah dengan pekerjaan sebagai penerjemah, masih bisa bertahan harusnya jika dibayar tepat waktu. Semesta berkehendak lain. Gaji yang harus saya terima mundur dari jadwal hingga berbulan-bulan lamanya. Tabungan saya habis. Saya mencari pinjaman ke beberapa teman untuk bertahan hidup, bayar kosan dan makan sehari-hari. Ada yang senantiasa membantu, ada yang enggan juga. Ah ya, mungkin mereka tidak tahu rasanya hidup berkekurangan.
Mei hingga Agustus adalah masa-masa terberat dalam hidup saya. Masa yang bimbang menentukan untuk melanjutkan menjadi pekerja lepas atau menjadi pekerja kantoran yang harus terjebak dalam sesak kereta tiap pagi sore. Masa mencari apa arti hidup ini. Masa mempertanyakan segala hal yang terjadi. Masa di mana orang-orang terdekat meremehkan hingga meninggalkan saya. Saya terpuruk.
Impian bekerja di lembaga swadaya masyarakat yang saya idamkan sejak lama pupus. Alasan saya bertahan menjadi pekerja lepas adalah karena saya menunggu diterima kerja di LSM. Kenyataannya, berbulan-bulan saya menunggu, tidak ada panggilan. Bahkan rekruitmen relawan di dua lembaga seni dan pemuda, menolak saya. Menjadi relawan saja ketat ya seleksinya.
Tibalah saya di titik untuk berdamai dengan kenyataan, saya memutuskan untuk menjadi pekerja tetap dengan beberapa syarat seperti jam masuk fleksibel dan gaji yang memadai. Puji Tuhan, keinginan saya terwujud di pertengahan Agustus. Setelah sebulan sebelumnya sesi wawancara saya mendapat kabar gembira. Awalnya, tidak ada ekspektasi apa-apa karena saya terhitung fresh graduates yang meminta gaji di atas rata-rata. Apalagi ditambah kekecewaan di dua rekruitmen relawan sebelumnya. Terima kasih, semesta!
Agustus - Desember
Beradaptasi di lingkungan pekerjaan yang baru. Agak kewalahan dengan jarak dan akses yang cukup sulit. Bolak-balik Depok - Kebayoran Baru melelahkan sekali karena akses kereta cukup jauh dari kantor dan sisanya naik ojek. Kalaupun naik motor, macet Jakarta membuat saya kesal. Tidak baik untuk kesehatan jiwa.
Sekitar Oktober saya memutuskan mencari hunian baru yang lebih dekat dengan pekerjaan. Setelah mencari beberapa minggu, akhirnya dapat kosan dengan harga bersahabat dan jaraknya terbilang dekat. Pindah kosan bukan hal yang mudah karena tujuh tahun saya hidup sebagai anak kosan, bisa dibayangkan berapa banyak barang yang terkumpul di kamar. Ada cerita tersendiri di balik pindahan kosan. Mungkin kapan-kapan bisa saya ceritakan.
Pekerjaan saya yang sekarang menyenangkan karena jam masuk fleksibel sesuai harapan saya. Terlebih lagi kerap bertemu dengan orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Membuat saya belajar banyak dari pengalaman mereka. Di beberapa kesempatan, mengharuskan saya ikut ke beberapa daerah di Indonesia seperti Toba, Bandung dan Jogja. Di sela-sela pekerjaan itu, saya bisa jalan-jalan ke tempat yang terjangkau atau sekadar mencari kedai kopi di sekitar hotel. Pekerjaan yang memfasilitasi hobi jalan-jalan saya.
Desember lalu saya berusia seperempat abad. Usia 25 tahun di hadapan saya. Usia yang katanya peralihan menuju manusia dewasa. Apa iya? Pastinya, beban hidup semakin berat. Banyak tanggung jawab yang harus dipikul, belum lagi tekanan sosial tentang hal-hal yang 'sepatutnya' dilakukan. Namun, saya berkesimpulan bahwa hidup adalah tentang mewujudkan mimpi. Mengorganisasi mimpi mana yang ingin diwujudkan terlebih dahulu. Hidup harus penuh harapan untuk dapat melakukan pencapaian atas mimpi-mimpi kita. Jangan sampai padam semangat kita seberapa besar pun tembok tantangan dan rintangan yang menghadang.
Selamat menyongsong hari-hari baru di tahun 2017!
"...hidup adalah tentang mewujudkan mimpi"
BalasHapusnice kak!