Hampir dua tahun tidak menulis di halaman ini lagi. Bermacam-macam media sosial membuat rasa-rasa menjadi potongan-potongan kecil lewat kapsi di Instagram atau rangkaian utas di Twitter.
Rasa-rasanya, saya sudah lama sekali tidak menulis untuk diri saya sendiri. Menulis tentang kondisi diri sendiri. Lebih banyak menulis untuk hal lain seperti pekerjaan atau ya.. menulis posting blog yang lebih layak untuk dibaca di halaman teraskata.net.
Banyak hal yang terjadi dalam dua tahun terakhir. Satu hal yang masih sama, saya masih menjadi pekerja lepas. Pekerja lepas yang sekarang mulai memikirkan ulang apakah mau tetap bertahan atau beralih menjadi pekerja tetap.
Finansial yang lebih banyak fluktuatif daripada stabil dan aman membuat saya berpikir untuk beralih. Belum lagi melihat teman-teman sekeliling saya yang sudah sadar investasi, jangka pendek maupun jangka panjang. Masa-masa iri melihat orang lain berpasangan atau punya buah hati, sepertinya sudah lewat. Sekarang, saya lebih iri ketika teman-teman sukses bisnis dan investasi. Mereka tampak memikirkan benar apa yang jadi tujuan hidup mereka.
Ngomong-ngomong tujuan, saya kembali bertanya kepada diri sendiri, apa tujuan hidup saya. Jika teman-teman bertanya, kenapa saya tetap menjadi pekerja lepas hingga saat ini, maka saya menjawab karena saya ingin fokus menjadi manajer band. Nyatanya, menjadi manajer band--band yang bisa dibilang indie--dengan tarif dan jadwal manggung yang tak menentu, belum bisa benar-benar menjadi penghidupan. Jalan untuk menjadi band indie papan atas seperti Maliq & D'Essentials atau Barasuara tampaknya masih amat panjang. Saya ragu apakah saya bisa bertahan untuk sampai di titik tersebut.
Selama ini, selain menjadi manajer band, saya menyambi melakukan pekerjaan lepas yang lain untuk menopang hidup. Menjadi penulis lepas untuk artikel kopi atau gaya hidup, menjadi recruiter untuk focus group discussion sebuah agensi periklanan, menjadi media relation dan staff pembantu di beberapa NGO, dan terakhir menjadi road manager untuk sebuah tur panjang acara diskusi musikal.
Saya beberapa kali melamar pekerjaan sebagai barista paruh waktu. Entah kenapa, saya tidak pernah dipanggil bahkan untuk wawancara. Pernah melamar juga sebagai media relation sebuah festival musik besar tetapi dipanggil juga tidak. Panggilan datang untuk lamaran di sebuah wedding planner milik teman sekampus. Wawancara menurut saya berjalan lancar tetapi e-mail yang saya terima tidak memperkenankan saya untuk lanjut bekerja di sana. Saya sedih.
Saya bertanya kepada diri saya sendiri. Apa yang salah dengan diri saya? Apa saya tidak berkapasitas di pekerjaan tersebut? Atau malah saya over-qualified? Saya nggak tahu jawabannya. Apa saya mudah menyerah ya?
Usia yang semakin bertambah membuat saya terus berpikir bagaimana untuk terus melanjutkan hidup. Pernah saya mengikuti sebuah sesi singkat perencanaan finansial. Sesi hitung menghitung semua pendapatan, pengeluaran, harta, hingga utang piutang. Betapa besar yang harus disiapkan di masa sekarang untuk hidup bahagia di hari tua. Haruskah hidup bahagia di hari tua mengorbankan kebahagiaan di masa sekarang? Seperti slogan pemerintah "kerja, kerja".
Bukan saya tidak mau bekerja, tetapi kerja dengan target penghasilan sekian untuk dana cadangan, investasi, asuransi kesehatan, jaminan hari tua, rumah, dll -- apa tidak bikin stress bagi yang belum mampu? Untuk hidup sehari-hari saja masih terbatas.
Katanya, kalau penghasilan saat ini belum bisa memenuhi untuk apa-apa yang direncanakan untuk hari depan, maka cari penghasilan tambahan. Berarti beban kerja bertambah. Apa beban kerja bertambah tidak mempengaruhi kesehatan jiwa dan fisik hingga kemudian risikonya malah menambah beban biaya lagi? Mungkin, saya saja yang belum sampai pada tahap merencanakan finansial untuk hari depan.
Berhubung masih nuansa hari raya, keluarga besar saya sebagian merayakannya yang berarti ada jadwal kumpul keluarga. Di hari-hari raya, baik Natal maupun Lebaran, sudah beberapa kali saya absen. Saya amat enggan berbasa-basi di mana banyak kerabat yang hanya menilai seseorang dari penghasilannya. Bahkan waktu saya sedang tidak ikut berkumpul, dengan lancang seorang adik ipar dari ibu saya bertanya kepada ayah saya "Maria gajinya berapa?". Mohon maaf nih, apa urusan situ ya berapa besar gaji yang saya terima? Padahal situ ketemu setaun sekali juga belum tentu, ngapain sih ngurusin gaji orang lain? Mau sombong dan ngebandingin sama anak situ yang udah punya usaha bahkan punya perusahaan sendiri yang omsetnya ratusan juta?
Kerabat-kerabat yang basa-basinya keterlaluan dan nggak menghargai orang kayak gitu yang bikin tambah malas buat dateng ke acara-acara keluarga besar. Bukannya bantu tapi malah merendahkan. Malah temen-temen yang tahu kondisi saya kayak gimana, dengan murah hati menawarkan bantuan. Keluarga sendiri malah nyinyir nggak karuan. Heran.
Udah ah, mending ganti topik daripada emosi.
Oh iya, beberapa minggu terakhir bersama seorang kawan, saya sedang merintis usaha kecil-kecilan. Doakan lancar. Berjalan pelan tapi pasti. Semoga dibukakan jalan oleh semesta untuk terus berkembang.
Keinginan untuk membangun sebuah kedai kopi muncul lagi. Kali ini, hasrat itu lebih besar. Entah kenapa dan entah datangnya dari mana, sekarang saya merasa siap untuk membuka kedai kopi. Dulu jika ada yang bertanya, apakah mau buka kedai kopi sendiri, saya masih ragu untuk menjawab "ya". Atau biasanya saya menjawab "ya tapi kalau modalnya sudah cukup dan mendapat partner yang tepat". Dua syarat tersebut kini cukup berlaku satu saja. Modal yang cukup. Saya sepertinya bisa sendirian membangun kedai kopi impian. Doakan ya semoga mimpi ini bisa terwujud.
Katanya, manusia itu perlu bermimpi agar ia tetap hidup untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.
Sementara itu, pekerjaan-pekerjaan baru belum tampak hilalnya. Bulan puasa membuat panggung hiburan tutup sementara. Jadwal manggung setelah hari raya baru ada satu. Semoga pekerjaan lain dan aktivitas manggung segera datang supaya bisa tetap bertahan hidup sebagai pekerja lepas.
Keinginan untuk melanjutkan pendidikan juga muncul lagi. Ah banyak ya keinginan-keinginan saya? Sebelum berkeinginan dilarang, berkeinginanlah sebanyak-banyaknya, sepuas-puasnya. Semalam saya menonton sebuah film yang tayang di televisi swasta. Tidak sengaja awalnya. Lama-lama menarik juga filmnya. Bercerita tentang kehidupan mahasiswa pascasarjana yang menempuh pendidikan di Belanda. Kisah romansa dengan panorama kota-kota cantik di utara sana. Membuat saya kembali berangan-angan untuk bisa bersekolah di sana. Belum lama ini, beredar di grup perpesanan terkait jadwal penerimaan beasiswa LPDP dan beberapa beasiswa lainnya. Informasinya membuat saya semakin tergugah untuk ikut serta. Di tengah-tengah menyaksikan film tersebut, ibu saya bertanya, "Kamu kapan ya sekolah di sana?", saya spontan menjawab, "Tahun depan, Ma". Saya kemudian diberondong pertanyaan apakah sudah mendaftar, biayanya dari mana, sejak kapan persiapannya. Kondisi finansial keluarga sendiri tidak memungkinkan untuk melanjutkan pendidikan tanpa beasiswa penuh. Saya menjelaskan kalau ada beasiswa yang membiaya semua kebutuhan mahasiswa tetapi saingannya akan banyak sekali dan persyaratannya juga rumit. Jika dipersiapakan dengan baik dan semesta berkehendak, bisa saja tahun depan atau tahun berikutnya saya sekolah di Belanda atau negara Eropa lainnya. Kita tidak pernah tahu jalan hidup akan membawa kita ke mana. Kadang apa yang sudah direncanakan sebaik-baiknya, jika semesta tak berkehendak, maka akan berbeda hasilnya dari perencanaan. Manusia hanya bisa berusaha sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.
Saya nggak tau mau cerita apa lagi. Sepertinya, sekian dulu keluh kesah dan curahan keinginan-keinginan yang moga-moga terwujud. Sampai jumpa di tulisan berikutnya!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar