Jumat, 28 Oktober 2011

Better you skip this one

mungkin tulisan ini akan menjadi tulisan yang depresif dan ngawur dalam bahasa. disarankan untuk membaca tulisan yang sebelum atau setelahnya saja. kalau masih nekat mau baca, silakan saja tetapi ya resikonya membaca tulisan yang nggak jelas, ngawur, dan penuh keluh kesah super-subjektif.

udah beberapa hari saya didera sakit kepala yang sangat menghambat saya dalam mengerjakan tugas-tugas kuliah. ada tugas kuliah yang mengharuskan saya membaca beberapa e-book berbahasa Inggris. well, apa yang bisa saya lakukan? membaca e-book berbahasa Inggris membutuhkan konsentrasi berlipat ganda daripada membaca bahan-bahan berbahasa Indonesia. bilang kalo ini excuse saya menunda mengerjakan tugas tersebut, tapi emang saya nggak bisa membaca e-book tersebut dalam keadaan kepala yang berdenyut-denyut menyakitkan.
 
saya nggak tau lagi mood saya kayak gimana. on several times, I suddenly crying in public sphere. I have no idea why, I felt so fragile at that time (still, at this time). kalau aja saya bisa mengontrol diri saya. nggak tau ya kenapa saya bisa tiba-tiba melakukan hal yang seharusnya saya lakukan di ruang pribadi seperti sebelum saya memulai tulisan ini.
beberapa hari ini saya tidak menulis mengenai apa yang saya rasakan atau lakukan di jejaring sosial, hanya ada beberapa posting otomatis dari Tumblr atau Re-Tweet saja. 

sulit mengidentifikasi apa yang saya rasakan beberapa hari ini. di pikiran saya ada tugas-tugas, materi-materi ujian tengah semester, dan perasaan-perasaan tidak karuan. perasaan-perasaan tidak karuan inilah yang begitu mudah mengacaukan semuanya. bisa saja saya terdiam dalam sekejap, menangis terisak tanpa suara bahkan terdapat pemikiran untuk melukai diri sendiri. saya bener-bener nggak ngerti sama hal ini.

saya memang bisa  tertawa kalau mendengar sebuah siaran radio yang kocak, menonton video yang konyol, atau membaca sesuatu yang lucu. hanya bertahan saat itu saja, precisely at that time while I was enjoying those contents. do you know what happens after I laughed? I need tissues more than before.

perubahan yang cepat bisa saja terjadi, tapi nggak dengan adaptasi seseorang terhadap perubahan yang cepat tersebut. mungkin saya ada dalam sebuah tahap adaptasi dari sebuah perubahan yang begitu cepat, perubahan yang saya sendiri nggak menduganya, perubahan di mana saya nggak bisa berbuat apa-apa lagi untuk menahan atau mengembalikannya. saya dituntut untuk mengerti, memahami mungkin lebih tepatnya. begitupun dengan sikap dan ucapan saya. perubahan yang cepat ini menghantam saya, meremukkan saya pelan-pelan, menghempaskan saya dari kondisi yang sebelumnya. saya emang nggak siap dan nggak dikasih waktu untuk bersiap-siap. apa sih yang saya bisa lakukan? atau apa yang orang-orang bisa lakukan? saya yang lagi-lagi harus mengerti tanpa harus memberitahukan apa yang saya rasakan saat ini. 

kalau di kampus itu disibukkan dengan tugas-tugas. kadang lupa makan, lupa istirahat. there's a time when I need an attention of myself. wishing someone asking about how was my day, remind me to eat something or remind me to take a rest. being single could be fun when you can handle all those feeling I mentioned. and I'm not the good one. 

I don't know when I will update my social network. I'm afraid to express what I feel and its responses. someone could be so rude by typing 'galau' or they will give a pity on you with words but it doesn't help. Maybe I just need someone who willing listen full version of this posting.
kadang saya berharap ada yang mengerti saya dan ia mengetahui apa yang harus ia lakukan. ah lagi-lagi saya berekspektasi. kenyataannya saya cuma butuh tisu. saya mau meluapkan perasaan-perasaan tidak karuan ini, kadang ingin marah-marah, kadang ingin teriak di depan orang yang semena-mena sama saya, ujung-ujungnya saya cuma bisa tutup mulut sambil ngeloyor pergi cari tempat aman untuk nangis.  

I wish I know where's the way out of this maze. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar