Minggu, 09 Desember 2012

Catatan Pendakian Slamet: Memanfaatkan Long Weekend Semaksimal Mungkin

Long weekend terbentuk karena terselip tanggal merah di tengah-tengah weekdays. Salah satu hari yang beruntung berubah warna itu adalah Kamis, 17 Mei 2012. Hari di mana umat Nasrani merayakan kenaikan Yesus Kristus. Keesokan harinya, berterimakasihlah pada pemerintah yang menetapkan cuti bersama. Kasak-kusuk akan adanya pendakian di salah satu pecinta alam fakultas pada long weekend ini sudah saya dengar beberapa hari sebelumnya, hanya saja masih belum ada kepastian. Apalagi tiket kereta ekonomi menuju Jawa Tengah sudah tidak bisa dipesan lagi karena H-2 masih belum pasti siapa saja yang akan ikut.

Organisasi pecinta alam fakultas yang dimaksud adalah Kamuka Parwata (KAPA) Fakultas Teknik UI. Organisasi ini kembali merencanakan perjalanan aspiratif ke Gunung Slamet. Saya kenal beberapa anggota divisi Gunung Hutan, cukup beruntung diajak pendakian kali ini. Meski awalnya masih ragu karena diberitahukannya pun hanya dua hari sebelum perjalanan. Saya pun segera meminta ijin kepada orang tua. Ongkos masih bisa ditutupi oleh uang mingguan dan sedikit mengambil dari tabungan. Ketiadaan carrier membuat saya sempat kelimpungan mencari pinjaman. Akhirnya, carrier pinjaman saya peroleh meski cukup menyiksa di perjalanan karena tidak adanya besi penyangga pada badan carrier.

Kami berangkat berdelapan. Terdiri dari Adam Septiyono sebagai ketua perjalanan, Lamro Triwandes Simatupang yang merupakan Kadiv Gunung Hutan (GH) KAPA FTUI 2011-2012, Budiono, Wentika Putri Kusuma Asih, Fara Shabrina Muntu, Wildan Nugraha (dipanggil Ncuy, pernah pendakian bareng saya ke Ciremai, kini menjabat Kadiv GH 2012-2013), Dwitya Nur Fadilah (dipanggil Tya) dan juga saya pastinya.Hehehe.

Ncuy berbaik hati membelikan tiket bus Sinar Jaya jurusan Wonosobo yang seharga Rp 75.000. Cuma beliin aja trus uangnya kami ganti. Hehe. Kami berangkat menjelang maghrib, Rabu, 16 Mei 2012, sekitar 17.30 . Sesampainya di pangkalan bus Sinar Jaya bus yang kami tumpangi ternyata sudah melaju lebih dulu. Kami pun menunggu keberangkatan bus selanjutnya. Kami menunggu selama dua jam, sambil mengisi perut dan ngobrol-ngobrol. Pukul 20.00 kami dipersilakan naik bus, namun bus baru bergerak pukul 20.30.

Bus transit di Indramayu pukul 1.40 untuk istirahat selama 30 menit. Perjalanan dilanjutkan menuju Wonosobo tetapi kami tidak turun di sana, kami nantinya turun di daerah Purbalingga. Kami sampai di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Perwira ini Kamis, pukul 8.20. Logistik kami beli di pasar yang tidak jauh dari tempat kami diturunkan. Selesai membeli logistik, kami menuju terminal untuk mencapai Pos Bambangan yang terletak di Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja. Di terminal sempat terjadi perdebatan antara mini bus dan angkot yang hendak membawa kami, mereka bersikeras salah satu dari mereka lah yang pertama 'menemukan' kami dan yang paling murah harganya. Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan untuk naik angkot saja, per orang ditagih Rp 15.000. Rutenya ternyata cukup jauh ya, total sekitar 1,5 jam naik angkot.

Tibalah kami di Pos Bambangan. Istirahat satu jam sambil menunggu pesanan makanan yang dibuatkan oleh pihak pos, tapi ini nggak gratis ya. Mungkin ini pos pendakian sekaligus dapurnya para pendaki. Simaksi Rp 5.000. Kami juga berbincang-bincang dengan pihak pengelola mengenai hal-hal terkait pendakian. Fara yang sedang berhalangan dianjurkan untuk tidak mencapai puncak. Saran dari pengelola, perempuan yang berhalangan hanya boleh mendaki sebelum pos 5 Samyang Rangkah. Kami memulai pendakian menjelang jam 14.00, ditemani hujan yang memaksa kami memakai ponco atau raincoat. Sambutan aspal dari pos pendakian menuju ladang cukup menguras tenaga dan menurunkan semangat. Aspal dengan kemiringan yang membuat nafas terengah-engah juga ada di gunung tertinggi Jawa Barat, Ciremai, apabila pendakian melalui jalur Linggarjati. Slamet merupakan gunung tertinggi Jawa Tengah, mungkin memang ciri khas tersendiri untuk gunung-gunung berlabel 'tertinggi'. Hehehe.

Rute Pendakian Slamet via Bambangan. Foto: Wentika
Kami menyusuri ladang-ladang warga. Matahari kadang cerah, kadang tertutup awan. Hujan pun berhenti dan kami juga berhenti sejenak untuk merapikan ponco. Rencananya kami akan mendirikan tenda di pos 5. Bekas hujan membuat jalur pendakian cukup licin. Beberapa dari kami sampai terpeleset, termasuk saya. Lagi-lagi saya menjadi bagian paling ekor. Maafkan ya, teman-teman. Kondisi fisik yang sudah cukup lelah, membuat kami berhenti untuk bermalam di lahan setelah pos 3 dan sebelum pos 4. Malam itu kami sampai sekitar 19.45.


Saya, Adam, Fara, Wentika, Tya. Foto: Dok. KAPA
Dua tenda dibangun. Satu untuk perempuan, satu untuk laki-laki. Agenda malam ini adalah masak-masak, makan malam dan evaluasi sekaligus perencanaan untuk besok. Selesai semua itu, kami tidur untuk menyiapkan energi untuk summit attack besok. Sialnya, di tenda perempuan saya kena tanya macam-macam. Hahaha. Kami tidak mengejar sunrise, bangun saja jam 5.00. Kemudian, kami mengolah sarapan dan membagikan logistik untuk yang summit attack dan untuk yang tetap di tenda menemani Fara, yaitu Lamro dan Ncuy. Saya bersama Tya, Wentika, Adam, dan Budi yang ke puncak.

Jam enam lebih lima belas menit kami dengan semangat menuju puncak Slamet. Tidak membawa carrier. Ringan sekali rasanya. Pertama kali saya nggak bawa carrier ke puncak! Kami hanya membawa logistik seadanya, air mineral, dan botol kosong untuk diisi di mata air yang ada di pos 5, Samyang Rangkah. Tidak tepat di pos 5 mata airnya, pendaki harus turun dulu ke mata air yang ada di sisi lain jalur pendakian. Kami sempat bertemu dan berbincang-bincang sebentar dengan beberapa orang bapak-bapak yang sedang sarapan di pos 4 Pondok Samaranthu. Di pos 5 banyak sekali tenda yang sudah didirikan. Kami mampir sebentar mengambil air dan segera melanjutkan perjalanan. Hutan semakin tipis saja dari pos ini. Namun pemandangannya semakin indah. Terlihat pohon-pohon menghitam terkena letusan gunung berapi ini. Pemandangan kota dan hutan Gunung Slamet yang cukup lebat. 

Dokumentasi KAPA

Sebelum Plawangan Batu Merah. Adam, Budi, Tya, saya.

Plawangan Batu Merah. Pos terakhir dan yang paling menguji mental saya. Dari pos ini sudah tak ada vegetasi apapun. Hanya ada batu-batuan saja hingga puncak. Terlihatnya sih dekat, dalam hati saya bergumam ya mungkin tiga puluh menit sampai. Kenyataannya, seratus dua puluh menit lebih saya baru sampai puncak. Bebatuan dengan kemiringan terjal ini membuat tidak dapat berdiri tegak, lebih baik menunduk atau merangkak sekalian. Batu-batuannya juga cukup licin, beberapa kali saya tergelincir. Rasanya ingin menyerah saja. Lagi-lagi saya harus menaklukan diri saya sendiri, dengan tekad kuat akhirnya saya sampai di ketinggian 3.428 mdpl. Dengan urutan paling terakhir tentunya.

Mencapai puncak dengan hamparan awan bergulung-gulung di depan mata. Angin berhembus kencang. Kawah yang mengepul. Menikmati keindahan alam dengan perjuangan sepanjang jalan. Semoga Lamro, Ncuy dan Fara bisa ikut menikmati ini di kemudian hari. Kami bertemu dengan pendaki lain dari Bekasi. Lucunya, salah satu dari mereka adalah teman dari tetangga rumah saya. Dunia sempit. 

Puncak Slamet. Foto: Wentika

Di puncak Slamet 3.428 mdpl.
Setengah jam kami di puncak agar Lamro dan Ncuy bisa ke puncak juga. Kami harus buru-buru turun. Bila waktu mencukupi, mereka berdua bisa ke puncak dan gantian kami di tenda. Di tengah perjalanan gerimis, beruntungnya kami sudah dekat dengan shelter. Kami pun berteduh di pos tujuh. Hujan pun mereda dan kami melanjutkan perjalanan. Sayangnya, awan berisi hujan belum sepenuhnya pergi. Dari pos 7 sampai pos 5, hujan kembali datang dengan derasnya. Kami basah kuyup sesampainya di pos 5. kami meringkuk di shelter pos 5 bersama pendaki-pendaki lain. Kami juga bertemu dengan Mbak Tuti, salah satu alumni dari KAPA FTUI. Hujan mengguyur cukup lama. Kami ditawari teh hangat dan makanan oleh pendaki lainnya. Mereka sepertinya iba melihat pakaian kami yang tidak kering di tengah gunung yang dingin. Di tengah penantian kami akan redanya hujan, Lamro datang membawa makanan. Ia khawatir akan kondisi kami di tengah hujan deras.

Sebelum turun. Adam, saya, Fara, Wentika, Lamro, Budi, Ncuy
Setelah beristirahat cukup lama di pos 5, kami melangkahkan kaki dengan hati-hati menuju tenda. Licin sekali. Membuat mudah terperosok. Rencana Lamro dan Ncuy ke puncak mau tidak mau dibatalkan karena kami berlima terlalu lama di jalan. Sesampainya di tenda, kami bergegas membereskan barang-barang. Cukup sore kami memulai perjalanan turun. Di shelter satu kami mampir untuk masak dan makan malam. Sempat terbersit keinginan mendirikan tenda di dekat pos satu tersebut karena lima dari kami kelelahan dan kebasahan, sudah malam juga. Niat tersebut diurungkan, kami terus berjalan ke pos pendakian. Sudah di ladang warga, kami bertemu pendaki yang bingung jalan ke pos pendakian. Mereka ingin berjalan bersama tapi tak ingin tersesat karena mereka sudah beberapa kali mencoba namun tidak bertemu dengan jalan yang benar. Sempat berdebat, namun akhirnya kami berjalan dengan rombongan kami sendiri. Padahal, dari lokasi kami bertemu dengan pendaki lain itu, hanya 15 menit untuk sampai ke batas desa dan ladang.

Pukul 00.30 dini hari, pos pendakian di depan mata. Kami bersih-bersih sebentar. Wentika yang rumahnya di Purwokerto menjadi tempat persinggahan sementara. Menyewa dua mobil menuju rumahnya. Berangkat jam 2.00 dan sampai jam 3.30. Saya tertidur pulas di perjalanan, kemudian melanjutkan tidur di rumah Wentika. Bangun-bangun, badan seperti remuk. Lelah sekali. Siangnya, Wentika gantian membelikan kami tiket bus menuju Depok. Harganya sama dengan bus yang kami pakai untuk berangkat, Rp 75.000. Kami berangkat pukul 19.00, tiba di Depok Minggu, 20 Mei 2012, menjelang pagi. Kami semua ke Sekret KAPA terlebih dahulu untuk evaluasi sebelum kembali ke kosan atau rumah masing-masing. 

Terima kasih ya Divisi Gunung Hutan KAPA FTUI yang telah memperbolehkan saya partisipasi di pendakian aspiratif kalian!
Terima kasih Lamro, Ncuy, Budi, Tya, Wewen, Adam dan Fara!
Terima kasih Ibunya Wentika yang telah memperbolehkan kami singgah dan istirahat!
Maaf ya menyusahkan sepanjang perjalanan. 
Semoga tidak kapok melakukan pendakian bersama saya! 
Cheers! 

4 komentar:

  1. Mar, gw kenal tuh si Tya, anak Bengkulu kan. Teknik kn..hehehe

    BalasHapus
  2. iya, dia teknik. kan gw naiknya sama KAPA FTUI juga.. sendirian nih gw anak FISIP yg ikut hehe

    BalasHapus
  3. Wow! Mariaaaa it's so nostalgic wkwkwkkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bikin kangen naik gunung ya, Wen? Kapan balik nih? hehe

      Hapus