Senin, 17 Desember 2012

Teman Bicara

Mungkin saya ini bukan pencerita yang baik secara lisan. Padahal obrolan sekarang sudah menjadi sebuah kebutuhan. Pengusir sepi yang ampuh. Penghilang jenuh. Setidaknya, membuat kita merasa tidak sendirian di dunia ini. 

Beberapa kali saya punya buku diari. Meski tak diisi setiap hari. Waktu itu, emosi-emosi saya seperti tersalurkan. Kini, menulis di kertas perlu usaha keras di tengah masa yang sudah serba digital. Apa-apa sudah serba mudah. Kesal sedikit bisa tumpah di kolom update status atau kolom berbatas 140 karakter. Kalau menulis di sana bukan mendapat kelegaan, hanya kesal atau perasaan lain yang tertuang dalam barisan kata. 

Berbeda dengan menulis konvensional ataupun digital dalam sebuah halaman blog yang membebaskan segala hal dalam pikiran keluar. Saya bahkan tidak tahu ada berapa batasan karakter di blog.

Balik lagi tentang saya bukan pencerita yang baik secara lisan. Nggak jarang cerita-cerita saya tak pernah sampai usai. Baru pembukaan, lawan bicara sudah menimpali dengan versi ceritanya sendiri. Kemudian, ia berpanjang lebar dan melupakan fakta bahwa saya lah yang lebih dulu ingin mengungkapkan. 

Atau ada pula lawan bicara yang pasif. Menanggapi seadanya seolah saya ini adalah pencuri waktunya. Mungkin iya. Maafkan ya. Padahal saya sedang butuh-butuhnya teman bercerita yang bisa mendengarkan dan berusaha memberi saran. 

Seorang teman pernah bilang kalau tak usah sungkan kalau saya ingin bercerita sesuatu maupun meminta pertolongan lainnya. Hanya saja, saya ini tipe orang yang suka merasa nggak enakan. Seringnya sungkan meminta bantuan kepada orang lain karena takut menyusahkan. Kalaupun saya harus meminta bantuan, saya akan lari ke teman yang sudah saya tau ia tak akan keberatan, lebih tepatnya sih karena saya sudah cukup mengenalnya dengan baik. Gara-gara hal ini, saya menjadi mandiri. Tak bergantulng dengan orang lain. Mungkin sering terlihat saya sendirian jika ke beberapa tempat.

Bisa dihitung dengan jari teman ngobrol yang nyaman. Gampangnya, yang tektok-an nya enak. Teman yang mampu memberi ruang untuk bercerita, menimpali tanpa harus berganti posisi menjadi si pencerita. Teman yang mampu menampar pipi saya jika saya tak juga mengerti. Pernah saya dicecar habis karena kebodohan saya sendiri namun dari situ saya mampu memahami sesuatu. 
 
Kenapa saya tidak bercerita saja ke mereka kalau saya sedang butuh seorang teman bicara? Lagi-lagi karena saya tahu mereka sibuk dan saya tak ingin mengganggu. Jika sudah seperti ini, kadang saya membiarkan diri tenggelam dalam melodi, diksi, bahkan film fiksi. Semua tak memberi solusi. Mereka adalah konsumsi yang membuat saya bangkrut. Berbeda jika bicara berjam-jam dengan seseorang yang menanggapi sepenuh hati. 

Saya lelah dengan emosi-emosi yang tidak bisa saya atasi. Sistem limbik di otak saya mungkin sedang aktif-aktifnya. Informasi negatif jadi korosif. Setidaknya, tulisan ini memberi ruang untuk saya menumpahkan kesah yang tak tersalurkan karena tak punya teman bicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar