Sabtu, 23 Agustus 2014

Tak Dikenal Maka Tak Dikenang

Hari kemerdekaan identik dengan upacara proklamasi, perjuangan kemerdekaan bangsa hingga lomba – lomba yang mewarnai tanggal 17 Agustus. Ada mereka yang upacara bersama pemimpin negara, bersama rekan sekerja, bersama rekan perjalanan di puncak – puncak gunung atau mengibarkan bendera di kedalaman samudra. Ada pula yang gembira menikmati lomba yang hadiahnya tak seberapa sampai yang hanya menikmati itu semua di layar kaca sambil memperbaharui status media sosial tentang cita – cita kemerdekaan.

Tahun ini berbeda. Tak lagi ada cita – cita mengikuti upacara di atap – atap pulau Jawa. Tugas akhir ini membelenggu saya dari perjalanan – perjalanan yang sejak lama saya impikan. Masih ada cara lain untuk mengisi tanggal merah yang memang sudah merah karena jatuh di hari sebelum hari kerja. Mendaftarkan diri dalam kegiatan Travel To Remember.

Ziarah sejarah. Mengunjungi makam tokoh dan pahlawan nasional yang telah memberikan dedikasinya untuk bangsa ini. Diawali dengan mengunjungi Fatmawati, istri proklamator yang menjahit merah putih untuk pertama kalinya. Istri proklamator yang lain juga dimakamkan di sini, Hartini. Namun ia belum cukup beruntung karena tak berpredikat sebagai pahlawan nasional seperti perempuan yang membuat presiden pertama meninggalkan Ibu Inggit. Makam selanjutnya adalah si Binatang Jalang yang kembali terkenal karena karyanya muncul di film kawula muda tahun 2002. Di bawah terik matahari kami melangkahkan kaki menuju tempat peristirahatan pencipta lagu yang namanya disematkan pada sebuah area pusat kegiatan seni, Ismail Marzuki. Lagu – lagu gubahannya membakar semangat para pejuang pada masa itu yang kini mungkin hanya bisa didengar di sekolah – sekolah atau upacara – upacara peringatan. Rombongan pun beranjak pada nisan – nisan tokoh politik seperti Chairul Saleh, Kusumah Atmadja, Mohammad Hoesni Thamrin, Iwa Kusuma Sumantri dan H. M. Natsir.

Kanon sastra yang hidup sepanjang rezim – rezim yang pernah bergulir di tanah air juga menitipkan jasadnya di TPU Karet Bivak. Berbalut rumput hijau dan nisan yang sederhana seperti makam di sekelilingnya. Kuburnya tak seistimewa makam – makam tokoh dan pahlawan nasional lainnya. Beliau yang bolak – balik masuk bui, penuh kontroversi namun tetap menulis hingga akhir masa hidupnya. Pramoedya Ananta Toer disemayamkan di sini tapi karyanya tetap abadi, tetap menginspirasi.




Tujuan dari ziarah sejarah ini tak hanya mengingat yang dikenal. Mereka yang tak dikenal pun patut dikenang. Dikenang karena jasa mereka terhadap perjuangan bangsa. Peluh keringat hingga nyawa mereka korbankan untuk kepentingan umat. Mereka tiada namun nisan mereka tak bernama. Mereka dihargai dengan kubur berbendera merah putih dari besi dan nisan bertuliskan makam pejuang yang tak dikenal. Kondisi makam pahlawan tanpa nama ini begitu miris dengan rerumputan yang cukup tinggi dan menjadi persinggahan sementara untuk sampah sebelum diambil oleh petugas. Rombongan yang diprakarsai oleh Traveller Kaskus membersihkan dan merapikan kubur yang tak terawat ini. Kami juga tabur bunga dan berdoa agar pahlawan yang bahkan kami tak tahu namanya berbahagia bersama yang kuasa, merdeka dari dunia yang fana. Sekarang waktunya kami mengisi kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dengan berusaha sebaik – baiknya di bidang yang kami tekuni. Menjadi manfaat untuk pribadi, keluarga terlebih kepada masyarakat dan bangsa.  




What the difference does it make after all? 
Anonymity in the world of men is better than fame in heaven.. (Jack Kerouac)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar