Hari kemerdekaan identik dengan upacara proklamasi,
perjuangan kemerdekaan bangsa hingga lomba – lomba yang mewarnai tanggal 17
Agustus. Ada mereka yang upacara bersama
pemimpin negara, bersama rekan sekerja, bersama rekan perjalanan di puncak –
puncak gunung atau mengibarkan bendera di kedalaman samudra. Ada pula yang gembira
menikmati lomba yang hadiahnya tak seberapa sampai yang hanya menikmati itu
semua di layar kaca sambil memperbaharui status media sosial tentang cita –
cita kemerdekaan.
Tahun ini berbeda. Tak lagi ada cita – cita mengikuti
upacara di atap – atap pulau Jawa. Tugas akhir ini membelenggu saya dari
perjalanan – perjalanan yang sejak lama saya impikan. Masih ada cara lain untuk
mengisi tanggal merah yang memang sudah merah karena jatuh di hari sebelum hari
kerja. Mendaftarkan diri dalam kegiatan Travel To Remember.
Ziarah sejarah. Mengunjungi makam tokoh dan pahlawan
nasional yang telah memberikan dedikasinya untuk bangsa ini. Diawali dengan
mengunjungi Fatmawati, istri proklamator yang menjahit merah putih untuk
pertama kalinya. Istri proklamator yang lain juga dimakamkan di sini, Hartini.
Namun ia belum cukup beruntung karena tak berpredikat sebagai pahlawan nasional
seperti perempuan yang membuat presiden pertama meninggalkan Ibu Inggit. Makam
selanjutnya adalah si Binatang Jalang yang kembali terkenal karena karyanya
muncul di film kawula muda tahun 2002. Di bawah terik matahari kami
melangkahkan kaki menuju tempat peristirahatan pencipta lagu yang namanya
disematkan pada sebuah area pusat kegiatan seni, Ismail Marzuki. Lagu – lagu gubahannya
membakar semangat para pejuang pada masa itu yang kini mungkin hanya bisa
didengar di sekolah – sekolah atau upacara – upacara peringatan. Rombongan pun
beranjak pada nisan – nisan tokoh politik seperti Chairul Saleh, Kusumah
Atmadja, Mohammad Hoesni Thamrin, Iwa Kusuma Sumantri dan H. M. Natsir.
Kanon sastra yang hidup sepanjang rezim – rezim yang pernah
bergulir di tanah air juga menitipkan jasadnya di TPU Karet Bivak. Berbalut
rumput hijau dan nisan yang sederhana seperti makam di sekelilingnya. Kuburnya
tak seistimewa makam – makam tokoh dan pahlawan nasional lainnya. Beliau yang
bolak – balik masuk bui, penuh kontroversi namun tetap menulis hingga akhir
masa hidupnya. Pramoedya Ananta Toer disemayamkan di sini tapi karyanya tetap
abadi, tetap menginspirasi.
Tujuan dari ziarah
sejarah ini tak hanya mengingat yang dikenal. Mereka yang tak dikenal pun patut
dikenang. Dikenang karena jasa mereka terhadap perjuangan bangsa. Peluh
keringat hingga nyawa mereka korbankan untuk kepentingan umat. Mereka tiada
namun nisan mereka tak bernama. Mereka dihargai dengan kubur berbendera merah
putih dari besi dan nisan bertuliskan makam
pejuang yang tak dikenal. Kondisi makam pahlawan tanpa nama ini begitu
miris dengan rerumputan yang cukup tinggi dan menjadi persinggahan sementara
untuk sampah sebelum diambil oleh petugas. Rombongan yang diprakarsai oleh Traveller
Kaskus membersihkan dan merapikan kubur yang tak terawat ini. Kami juga tabur
bunga dan berdoa agar pahlawan yang bahkan kami tak tahu namanya berbahagia
bersama yang kuasa, merdeka dari dunia yang fana. Sekarang waktunya kami
mengisi kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan dengan berusaha sebaik –
baiknya di bidang yang kami tekuni. Menjadi manfaat untuk pribadi, keluarga
terlebih kepada masyarakat dan bangsa.
What the difference does it make after all?
Anonymity in the world of men is better than fame in heaven.. (Jack Kerouac)
What the difference does it make after all?
Anonymity in the world of men is better than fame in heaven.. (Jack Kerouac)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar