Video yang terpampang di kolom suggestions Youtube menjadi jembatan untuk saya mengenal satu musisi instrumental Indonesia. Sebelumnya saya hanya sering mendengarkan playlist di situs 8tracks dengan tagar "instrumental", "orchestra", dan "classical". Lantunan nada di rekaman gambar bergerak itu membuat saya jatuh hati meski tanpa sepatah kata pun. Rekaman gambar dan suara berjudul Time is the Answer dari Gerald Situmorang Trio sukses menjerumuskan saya untuk menyukai musik-musik tanpa lirik.
Saya pun mencari tahu siapa laki-laki yang menyematkan namanya di trio instrumental tersebut. Ternyata dia adalah gitaris dari penyanyi jazz berbakat Monita Tahalea. Selain itu, gitaris lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini juga memiliki unit instrumental lainnya seperti Sketsa dan Hemiola Quartet, serta tergabung di band Bag Beat dan Barasuara.
Penasaran dengan gubahan musiknya, saya segera menghampiri akun soundcloud gitaris muda tersebut. Lagu-lagu yang diunggah begitu menenangkan hati. Sehingga saya sempat menulis di twitter:
"Dengerin instrumental itu perasaannya tak tergambarkan.
Bunyi itu beda dengan kata. Meski sama-sama bebas diinterpretasikan."
"Akhir-akhir ini menikmati petikan gitar tanpa lirik. Seperti tak harus bertanya mengapa, hanya meresapi makna... Tak perlu diksi. Nada-nada itu mengalun mengisi relung-relung hati yang tak tersentuh. Terima kasih gubahan lagu tanpa lirik."
Sejak saat itu, akun soundcloud.com/geraldsitumorang adalah playlist favorit saya dan unit-unit musik di mana ia bernaung menjadi unit musik yang saya sukai. Selain itu, berburu cakram padat yang berisi musik instrumental miliknya adalah salah satu agenda ketika saya sedang bertandang ke sebuah pusat perbelanjaan.
Setelah banyak melihat rekaman audiovisualnya, saya seperti pernah melihatnya di suatu tempat secara langsung. Saya pun mencoba mengingat-ingat. Ternyata, Bag Beat dan band yang saya manajeri pernah satu panggung. Kebetulan, saat itu saya bagian dari band bernama Sunset Groove. Di acara yang berlangsung menjelang akhir tahun 2011 itu, saya yang meminjam kamera dslr teman pun banyak memotret band-band lain yang juga tampil. Waktu itu saya agak bingung melihat gitaris yang hanya memakai kaus yang sepertinya sudah sering sekali dipakai dan terlihat waktu itu wajahnya muda sekali. Saya sempat menebak usianya masih usia anak-anak SMA. Selain itu, potongan rambutnya berbeda jauh dengan saat ini.
| Acara Craft 2011 di Lap. Psikologi UI |
Setelah berhasil menemukan dua dari banyak cakram padat rilisannya, saya pun semakin jatuh hati dengan permainan gitaris pria yang kabarnya akan merilis album solonya di tahun ini. Menjelang akhir Februari 2015, tepatnya Minggu, 22 Februari 2015, saya akhirnya bisa menyaksikan secara langsung permainan gitarnya bersama oktet gesek Dlareg Octet dan harpist Rama Widi. Tidak lagi mendengarkan rekaman audio maupun rekaman audiovisualnya di internet, hari itu saya dibuat terkesima dengan musik yang disuguhkan.
![]() |
| Foto: Hertri Nur Pamungkas (diambil dari Instagram @geraldsitumorang) |
Jazz Buzz yang diadakan Komunitas Salihara menjadi ajang untuknya mengeksplorasi musik. Lagu-lagu baru diciptakan dan lagu lama diaransemen ulang. Komposisi berjudul Garden yang terdiri dari empat bagian, yaitu Seed & Soil; Wind, Leaves & Grass; Water & Light; dan Flowers & Trees". Di komposisi ini, pria kelahiran 31 Mei 1989 tidak banyak bicara, hanya mengucapkan "one, two, three, four" untuk memberi aba-aba. Wajahnya serius di tiga perempat lagu, menjelang lagu berakhir barulah senyum mengembang di bibirnya. Rumitnya aransemen sepertinya membuat dia agak sedikit tegang. Menuju lagu keempat (kalau tidak salah), barulah ia bicara beberapa patah kata dan memperkenalkan personil Dlareg Octet juga Rama Widi. Setelah Garden, ada lagu ia bermain solo, duet dengan satu personil Dlareg Octet dan akhirnya bermain lengkap seperti komposisi awal. Selain itu, harpist muda bertalenta lulusan Konservatorium Vienna, Austria, meng-cover lagu dari penampil utama. Ini pertama kalinya saya menyaksikan pertunjukkan musik harpa. Waktu menjadi tak terasa, hampir dua jam musisi-musisi ini memberikan bunyi-bunyian yang indah dan syahdu.
Beberapa hal yang menganggu pertunjukkan adalah kedatangan orang-orang yang terlambat. Memang, penonton datang di saat jeda lagu tapi jeda tersebut sangat sempit sehingga ketika musik akan dimulai masih terdengar langkah kaki dan grasak-grusuk. Dikarenakan keterlambatan mereka juga, orang-orang ini tidak tahu peraturan yang telah diumumkan panitia di awal pertunjukkan, yaitu tidak boleh memotret dan merekam. Ada beberapa orang yang sebaris dan di baris depan saya mengambil gambar, bahkan ada yang mengambil video, Parahnya, tidak ada satu pun yang menegur orang itu.
Tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan saya di sore hari itu. Bisa menikmati musik berkualitas dan bertemu dengan gitaris yang saya kagumi. Banyak musisi yang juga datang seperti Indra Lesmana (bersama Eva Celia), Iga Massardi, Monita Tahalea dan Dewa Budjana. Saya memberanikan diri untuk meminta tanda tangan kepada GeSit yang sedang sibuk-sibuknya menerima banyak ucapan selamat dan permintaan foto. Ia berterima kasih karena saya sudah datang dan membawa spidol sendiri untuk tanda tangan. Hehe. Sempat ditinggal ngobrol sebentar dengan keluarganya tapi tidak apa. Akhirnya, cakram padat hasil buruan saya ditandatangani juga.
![]() |
| GeSit |
Seperti ada misi yang terpenuhi. Berawal dari keinginan menyaksikan live performance-nya bersama Sketsa atau Monita Tahalea, berakhir di penampilan solo bersama oktet gesek dan harpist. Terima kasih atas gubahan musik yang merdu nan syahdu. Musik tanpa diksi namun tetap membuat siapapun jatuh hati. Terus berkarya ya Gerald Hiras Situmorang! I'll always support you! Semoga tetap bisa datang di pertunjukkan-pertunjukkan selanjutnya.


ajak-ajak kek mar..
BalasHapusGw kira lo sukanya musik yang gedebak-gedebuk, Van. Hehe. Sip. Nanti gw ajak yaa kalo ada event lagi
Hapus