Hari-hari menjadi pekerja lepas tidak pernah mudah. Pekerjaan datang silih berganti dalam rentang waktu yang tak menentu. Bayaran ada yang sesuai harapan atau sekadar mengisi kekosongan saku yang kian hari kian menipis kalau tidak ada pekerjaan.
Sebenarnya kehidupan seperti ini pernah saya lalui selepas lulus kuliah dahulu. Kala itu, pekerjaan cukup rutin datang dan masih bisa menabung untuk berjaga-jaga saat sepi pekerjaan. Sementara, sekarang tabungan saya semakin terkuras karena pekerjaan yang datang belum bisa memenuhi kebutuhan seperti biasanya. Harus berhemat agar bisa membayar iuran kosan di akhir bulan.
Berat memang. Konsekuensi ini saya ketahui dengan baik namun saya masih saja belum terbiasa dengan keadaan serba terbatas seperti ini.
Dikhianati orang yang dipercaya sangat menyakitkan. Janji-janji awal saat bekerja sama ternyata hanyalah bunga-bunga manis yang ditabur untuk menarik perhatian. Di balik taburan bunga itu ada pisau yang siap-siap menusuk.
Haluan pun berubah. Beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Ada hal-hal yang sulit dipahami. Ah, memang semua hal harus dipahami ya? Mungkin biarkan saja begitu. Tak perlu pusing-pusing.
Akhir-akhir ini saya seringkali membutuhkan tisu. Bulir-bulir air tumpah tanpa bisa saya tahan. Ingin meledak rasanya. Marah tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Orang-orang terdekat pun tidak memahami. Atau mungkin saya yang tidak memahami mereka? Mengetahui bahwa saya hanyalah hasil dari tekanan sosial 26 tahun silam masih menyisakan luka mendalam.
Saya tidak ingin menjadi apa-apa.
Bolehkan saya hidup sekehendak saya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar